Home Pahlawan Zainuddin Abdul Madjid, Pahlawan Nasional Dari NTB

Zainuddin Abdul Madjid, Pahlawan Nasional Dari NTB

67
0

SEJARAHONE.ID-NTB atau Nusa Tenggara Barat adalah propinsi di Indonesia yang letaknya ada di bagian barat Kepulauan Nusa Tenggara. Ibukota propinsi berada di Mataram dan terdiri dari 10 kabupaten serta kota. NTB memiliki dua pulau terbesar yaitu Lombok dan Sumbawa. Kendati Lombok memiliki banyak tokoh pejuang dan ulama terkemuka, namun belum semuanya mendapatkan pengenalan dan pengakuan berupa gelar dari pemerintah sebagai pahlawan nasional. Pahlawan nasional dari Lombok hingga kini baru tercatat seorang saja, yaitu TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Bajang. Berikut ini adalah riwayat TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sejak kelahirannya.

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir di Kampung Bermi, Desa Pancor, Kecamatan Rarang Timur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 19 April 1908 atau 17 Rabiul Awal 1316 H. Orang tuanya adalah Tuan Guru Haji Abdul Majid dan Hajjah Halimah al-Sa’diyyah. Beliau diberi nama kecil Muhammad Saggaf berdasarkan peristiwa yang terjadi tiga hari sebelum kelahirannya. Kala itu ayahnya didatangi oleh dua waliyullah dari Hadramaut dan Maghrabi. Kebetulan keduanya memiliki nama yang sama, yaitu ‘Saqqaf’. Pemberian nama itu merupakan pesan mereka kepada sang ayah,  artinya ‘ atapnya para wali pada zamannya’ atau ‘Saggaf’ dalam bahasa Indonesia, atau ‘Segep’ dalam dialek bahasa Sasak.

Asal usul keturunan Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak dapat diungkapkan secara jelas karena catatan dan dokumen keluarga musnah ketika mengalami kebakaran. Namun ada informasi dari sejumlah kalangan bahwa asal usul TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang kini menjadi pahlawan nasional dari NTB, konon ia adalah keturunan Sultan – sultan Kerajaan Selaparang yang ke 17, kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Lombok. Hal ini sesuai dengan penelitian seorang antropolog berkebangsaan Swedia yaitu Sven Cederroth. Ia merujuk pada kegiatan ziarah Tuan Guru ke makam Selaparang pada tahun 1971 sebelum pemilihan umum. Selain itu, ia tidak pernah menolak secara terbuka mengenai asumsi akan asal usul keturunannya sebagai keturunan Selaparang.

Sejak kecil ia sudah menunjukkan sifat jujur dan cerdas, belajar mengaji dan berbagai ilmu agama sejak usia 5 tahun. Setelah usia 9 tahun, ia masuk ke pendidikan formal Sekolah Rakyat Negara sampai tahun 1919. Kemudian melanjutkan belajar dari beberapa Tuan Guru setempat, seperti TGH Syarafuddin dan TGH Muhammad Said dari Pancor, TG Abdullah dari desa Kelayu, Lombok Timur. Mereka mengajarkan ilmu agama menggunakan sistem Halaqah, yaitu dengan duduk bersila di atas tikar dan mendengarkan guru  membaca Kitab, lalu kembali dibaca bergantian oleh para murid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here