Home Opini Yang Terjadi Sehari Sebelum Peristiwa ‘Bandung Lautan Api’

Yang Terjadi Sehari Sebelum Peristiwa ‘Bandung Lautan Api’

228
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Tanggal 24 Maret menjadi tanggal bersejarah bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Momen bersejarah pada 74 tahun lalu atau tepatnya tahun 1946 itu rumah dan tempat-tempat penting di Bandung dan sekitarnya dibakar oleh Tentara Republik Indonesia dan masyarakat.

Pembakaran itu dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda menggunakan Kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946 itu dikenal sebagai peristiwa “Bandung Lautan Api”.

Dikutip dari buku Bandung Awal Revolusi, 1945-1946 (Bandung In The Early Revolution, 1945-1946, NY Cornell Modern Indonesia Project, Southeast Asia Programme, 1964), sehari sebelum peristiwa heroik terjadi, Jenderal Hawtorn, Komandan Divisi Hindia ke-23 sudah merengsek maju ke Bandung.

Pada tanggal 23 Maret 1946, ia mengumumkan lewat radio dan pamflet bahwa Bandung selatan akan dibersihkan dari orang-orang bersenjata; pasukan bersenjata Indonesia harus sudah keluar dari wilayah 11 KM sebelum tanggal 24 (Maret) untuk mencegah pertumbuhan darah dan warga sipil diminta untuk tetap tenang dan tidak meninggalkan rumah selama periode itu. Demikian informasi yang ditulis di buku karya John RW Smail, akademisi lulusan Harvard University bidang Sejarah Inggris tersebut.

Bandung utara dipenuhi kamp pengungsian yang padat dan Bandung selatan dalam keadaan setengah kosong dan dihuni para pemuda yang tidak memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan skala besar yang sukses sehingga hanya Inggris yang dapat memecah kebuntuan.

John Smail juga menyebutkan ketika itu Inggris mulai membangun kekuatan di Jawa Barat. Di Bandung sendiri, mereka mulai menggunakan pasukan yang baru tiba untuk memperluas batasan zona yang terlindungi, khususnya ke arah utara. Walaupun itu bukanlah operasi penting dan mempengaruhi Bandung s‎elatan, tetapi fakta bahwa Markas Divisi Hindia ke-23 dipindahkan ke Bandung pada 16 Februari.

Jhon mengatakan, “Bersama dengan persiapan (pemindahan) pasukan secara besar-besaran, memperjelas indikasi bahwa Inggris berniat menyapu bersih Bandung selatan juga”. Hal itu tak terlepas dari manuver agresif Indonesia, seperti pertarungan sengit dengan konvoi di sepanjang jalur antara Bogor dengan Bandung selama lima hari sejak 10 Maret 1946.

Insiden paling penting selama ketegangan yang meningkat di minggu terakhir terjadi pada 19 Maret 1946, saat sejumlah mortir Indonesia jatuh di salah satu pemukiman orang sipil Eropa dan menghasilkan korban jiwa. Akhirnya, sebelum pengumuman pada 23 Maret itu keluar, Inggris memutuskan telah tiba saatnya untuk mengakhiri pembagian wilayah Bandung utara dan selatan, lewat sebuah operasi yang diberi nama, Operation Sam.

Pada 22 Maret, mereka memberitahu Perdana Menteri Syahri bahwa operasi akan dijalankan dan mendesaknya untuk memastikan bahwa operasi itu tidak menimbulkan pertempuran dengan mengatur penarikan seluruh unit militer dan orang bersenjata Indonesia dari wilayah dalam radius 11 km dari pusat kota.

Warga sipil dan pemerintahan sipil dibiarkan dan didorong untuk tetap tinggal di kota yang dikendalikan Inggris. Diplomasi pemerintah Indonesia dimulai dengan melibatkan Didi Kartasasmita komandan komandemen Jabar dan Syafrudin Prawiranegara selaku wakil menteri keuangan, yang pada 22 Maret pergi ke Bandung untuk memberitahu operasi tersebut pada pemerintahan sipil dan militer lokal, untuk menyampaikan intruksi Perdana Menteri agar diikuti.

Tetapi, Wali Kota Syamsurijal, Komandan Divisi (Nasution) dan Sutoko selaku Kepala Seksi Militer MP 3 meresponnya agar mendiskusikan masalah ini dan memutuskan bahwa itu harus dibahas lebih mendalam dengan Perdana Menteri. Nasution kemudian pergi ke Jakarta menemui Syahrir untuk berkonsultasi. Saat itulah, pada 23 Maret, Jenderal Hawtorn mengumumkan pengosongan Bandung. Tanggal 24 Maret pagi, Nasution membawa kabar dari Jakarta setelah bertemu Syahrir.

Nasution mengadakan pertemuan dengan pemerintahan sipil, polisi dan DPRD serta keresidenan dan menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah memutuskan untuk mematuhi ultimatum Inggris dan menghindari pertumpahan darah ataupun bentuk konfrontasi lainnya. Nasution menambahkan bahwa badan militer (dalam hal ini dia sendiri), ditugaskan untuk menjalankan keputusan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here