Home Khasanah Wabah Penyakit di Konstantinopel Era Khalifah Utsmani

Wabah Penyakit di Konstantinopel Era Khalifah Utsmani

61
0
Ilustrasi ketika wabah black death melanda - (wikipedia)

Oleh. Hana Wulansari

Pada 1453 Konstantinopel berhasil direbut Utsmaniyah. Kekaisaran Romawi Timur pun tamat riwayatnya. Kota itu diubah namanya menjadi Istanbul. Menurut Varlik, momen itu pun menandakan pengalaman awal Utsmaniyah dengan fenomena wabah.

Antara 1453 dan 1517,  para sultan terus melancarkan ekspansi hingga ke Semenanjung Balkan, Laut Hitam, dan Anatolia selatan. Kota-kota urban pun bermunculan. Di luar Istanbul, ada pula Bursa dan Edirne yang terus bergeliat dalam aktivitas perdagangan global dan industri.

Dalam masa itu, Utsmaniyah terus menggenjot pembangunan berbagai infrastruktur publik, seperti masjid, sekolah, rumah sakit, pelabuhan, jalan raya, dan sebagainya. Namun, tanda-tanda wabah mulai muncul pada musim panas tahun 1466. Kala itu, Istanbul geger karena wabah penyakit.

Seperti digambarkan sejarawan berkebangsaan Yunani, Kritovoulos dari Imbros (meninggal 1470), persebaran penyakit di kota itu terjadi dengan sangat cepat sehingga menyengsarakan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam risalah yang ditulisnya untuk Sultan Mehmed II, Kritovoulos mengatakan, banyak warga Istanbul yang menyelamatkan diri keluar dari kota. Bahkan, beberapa dari mereka tak pernah kembali lagi lantaran takut terkena penyakit. Namun, banyak pula yang memilih bertahan di rumah masing-masing. Mereka tidak pernah keluar kecuali untuk urusan yang sangat penting–membeli makanan, minuman, atau obat-obatan. Kondisi ini sempat membuat Istanbul bak kota hantu.

Kritovoulos menyebut, sumber wabah berasal dari luar Istanbul, tepatnya Macedonia dan Thrace (kini Bulgaria bagian selatan). Namun, penulis asal Yunani tersebut diduga tak mengetahui wabah sudah terjadi di sebagian Eropa sejak 1460-an. Kira-kira tiga tahun sebelum muncul di Istanbul, wabah pun menjangkiti kota-kota penting, seperti Roma, Florence, Bologna, dan Venice. Sebaran penyakit kemudian bergerak ke arah timur hingga menjangkau ibu kota Utsmaniyah.

Diduga, sepertiga populasi Istanbul kala itu meninggal dunia setelah terinfeksi penyakit. Kritovoulos mencatat, kematian akibat wabah di kota tersebut mencapai 600 kasus per hari. Para korban tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak dan perempuan. Menurut dia, otoritas setempat sampai kewalahan dalam menangani jenazah para korban. Bahkan, beberapa jasad sempat tak terurus selama beberapa hari.

Waktu itu, Sultan Mehmed II sedang memimpin ekspedisi militer di Semenanjung Balkan. Pada Juni 1466 ia sudah sampai di perbatasan Albania, tetapi kemudian memutuskan kembali ke ibu kota. Dalam perjalanan, pemimpin bergelar al-Fatih itu mendapatkan informasi, daerah-daerah rute menuju Istanbul sedang terjangkit wabah. Alhasil, ia memutar haluan ke Bulgaria Utara dan tetap bertahan di sana hingga musim gugur. Barulah, pada awal musim dingin tahun itu ia melanjutkan perjalanan ke Istanbul setelah menerima kabar situasi ibu kota mulai kondusif.

Dalam perjalanan, pemimpin bergelar al-Fatih itu mendapatkan informasi, daerah-daerah rute menuju Istanbul sedang terjangkit wabah. Alhasil, ia memutar haluan ke Bulgaria Utara dan tetap bertahan di sana hingga musim gugur.

Wabah terus hilang dan muncul di Istanbul pada 1460-an. Jeda hanya terjadi tiap musim dingin. Sebaran penyakit kembali terasa ketika memasuki musim panas. Antara 1469 dan 1470 terjadi jeda kemunculan wabah yang cukup panjang. Barulah pada musim panas 1472 Istanbul lagi-lagi diterpa wabah. Tiga tahun kemudian, Sultan Mehmed II memutuskan untuk sementara memindahkan pusat pemerintahan ke pegunungan sekitar ibu kota demi menghindari jangkauan wabah.

Varlik menyebutkan, dua kota penting lainnya di Utsmaniyah yang juga sangat terdampak wabah pada permulaan periode pertama, yakni Bursa dan Edirne. Bangsa Turki telah menguasai Bursa sejak abad ke- 14. Hingga seratus tahun kemudian, kota ini dijadikan sebagai ibu kota Utsmaniyah. Pada permulaan abad ke-15 kota ini kian tumbuh pesat. Populasi setempat mencapai 10 ribu jiwa. Tak hanya kaum Muslimin, orang-orang Kristen dan Yahudi pun hidup dalam kedamaian di sana.

Sejarawan Utsmaniyah, Dervish Ahmed (wafat 1484), mengatakan, Bursa diserang wabah pada 1348. Bahkan, seorang pangeran ikut tewas akibat sebaran penyakit mematikan ini. Setelah sekian lama mereda, kota ini kem bali terjangkit wabah pada 1429-1430. Wabah dalam dua peristiwa berbeda itu diyakini berasal dari luar wilayah Utsmaniyah, seperti Konstantinopel. Sejarawan Oruc menengarai, wabah itu nyaris menewaskan seluruh warga Bursa.

Edirne terletak di sebelah barat Istanbul dan masih satu daratan dengan Benua Eropa. Sepanjang abad ke-14, kota yang dahulu dikenal sebagai Adrianopel ini kian makmur. Sejak penaklukan Konstantinopel, Utsmaniyah terus melakukan ekspansi hingga Edirne. Kota itu pun dijadikan sebagai lokasi peristirahatan para elite istana. Wabah mulai datang ke sana pada pertengahan abad ke-15, tepatnya antara 1466-1476. Para bangsawan ikut menyingkir ke pinggiran kota demi menyelamatkan diri dari wabah.

 Reda dan kembali

Bertahun-tahun lamanya tampak ada jeda. Negeri Utsmaniyah tak lagi diwarnai berita-berita wabah. Akan tetapi, masa damai ini sirna pada 1491 dan inilah yang menandai periode kedua dari sejarah wabah di Utsmaniyah. Sebaran penyakit itu terus menerjang Kerajaan hingga 12 tahun berikutnya. Menurut sarjana Muslim Hoca Sadeddin Efendi (wafat 1599), wabah ini bermula di Thrace. Akan tetapi, faktanya, wabah serupa juga muncul di Pulau Rhodesia, Yunani, pada tahun yang sama. Alhasil, persebaran penyakit ini tak hanya melalui jalur darat, tapi juga maritim.

Hoca menuturkan, Sultan Bayezid II sedang dalam perjalanan dari Istanbul ke Edirne. Begitu mendengar informasi tentang wabah, sang sultan memutuskan untuk tidak menetap di satu kota, melainkan terus berpindah-pindah. Tiga pekan kemudian, Bayezid II akhirnya kembali ke ibu kota saat musim dingin.

Sejarawan Mustafa Ali (wafat 1600) mengatakan, wabah itu tersebar merata di wilayah kekuasaan Utsmaniyah. Mulai dari Anatolia, Suriah, hingga Mesir. Menurut dia, puncak wabah terjadi pada Mei-Juli 1492. Wabah itu tersebar merata di wilayah kekuasaan Utsmaniyah. Mulai dari Anatolia, Suriah, hingga Mesir. Menurut dia, puncak wabah terjadi pada Mei-Juli 1492.

Ribuan Orang Meninggal

Ribuan orang meninggal dunia akibat terpapar penyakit. Setelah itu, kondisi relatif terkendali. Tapi, pada 1495 epidemi kembali terjadi. Lebih parah lagi, bencana kelaparan juga menerjang sejumlah wilayah Utsmaniyah kala itu akibat gagal panen. Pemerintah setempat segera membuka gudang-gudang pangan untuk membantu kaum fakir-miskin dalam kondisi demikian. Hingga 1502, lokasi epidemi terparah ada di Istanbul, Macedonia, dan Albania.

Menurut Varlik, penaklukan Mesir oleh Utsmaniyah pada 1517 menjadi tonggak dalam sejarah wabah, khususnya periodisasi ketiga (1570-1600). Sebab, lanjut dia, persebaran wabah sebelum 1517 tak sampai keluar dari wilayah Istanbul atau kota-kota di dalam negeri Anatolia. Akan tetapi, pasca-1517 sebaran penyakit mencapai area yang lebih luas, yakni daerah-daerah Bulan Sabit Subur.

Varlik menjelaskan, fakta itu tak lepas dari perkembangan jaringan kota-kota urban di Asia, seiring dengan ekspansi yang dilakukan Utsmaniyah. Apalagi, antara 1534-1546, Baghdad dan Basra sudah dikuasai. Dua kota itu membuka akses ke Teluk Persia dan Samudra Hindia bagi kerajaan. Alhasil, peluang datangnya sebaran wabah pun ikut membesar.

Pentingnya ‘Tetap di Rumah’ Kala Wabah

Duta besar Habsburg untuk Utsmaniyah, Ogier Ghiselin de Busbecq (1554-1562), menceritakan bagaimana sapuan epidemi melanda kerajaan Islam ini pada 1550-an. Suatu kali, salah seorang rombongannya terkena penyakit pes saat singgah di sekitar Edirne. Bawahannya ini pun meninggal dalam perjalanan pulang.

Sayang, waktu itu, kesadaran akan wabah belum tinggi di lingkungan delegasi Eropa. Barang-barang bekas si korban lalu diambil rekan-rekannya. Alhasil, beberapa jajaran ke du ta an besar Habsburg kemudian jatuh sa kit. De Busbecq sendiri curhat, dirinya merasa sedang diteror sesuatu yang tak tampak, tetapi nyata.

Setelah sempat mereda, pada 1560 wabah kembali menyeruak di Istanbul. De Busbecq pada 1561 menulis, wabah ini menewaskan beberapa kawannya, termasuk seorang dokter. Sultan lantas menganjurkannya untuk sementara meninggalkan kota dan melakukan karantina diri di Pulau Adalar. Tiga bulan lamanya sang duta besar bertahan di lepas pantai selatan Istanbul itu hingga ia pun selamat dari amukan wabah. De Busbecq menyebut, tak kurang dari seribu orang meninggal tiap hari saat puncak wabah.

Peristiwa wabah yang terjadi berulang kali membuat para penguasa dan ilmuwan negeri Utsmaniyah terus berjibaku. Mereka belajar dari berbagai kejadian kelam yang telah silam. Nukhet Varlik (2008)mengatakan, berbagai riset telah dilakukan para sarjana Turki mengenai wabah dan cara menanganinya. Salah satu kesimpulan yang dicapai ialah pentingnya karantina.

Pada abad ke-15 Ilyas bin Ibrahim (wafat 1512), seorang pakar medis Yahudi yang belakangan memeluk Islam, mengadakan perjalanan keliling negeri Utsmaniyah. Ia kemudian menulis risalah tentang karakteristik penyakit menular setelah menyaksikan berbagai dampak wabah pada masyarakat lokal. Ia menduga, ada dua cara persebaran penyakit, yakni penularan langsung dan lewat udara.

Menurut dia, penularan wabah dapat terjadi secara langsung dari si sakit ke orang-orang normal di sekitarnya. Bahkan, suatu penyakit bisa menular dari kontak mata. Cara kedua adalah melalui hawa udara. Ibnu Ibrahim berteori, sirkulasi udara dapat menjadi jalan penularan penyakit. Oleh karena itu, ia menyarankan warga untuk tetap melakukan karantina diri di rumah masing-masing, alih-alih beraktivitas di ruang terbuka. Ia mencontohkan, banyak narapidana pada masa epidemi tak jatuh sakit. Sebab, mereka tetap berada di penjara sehingga tak kontak dengan dunia luar.

Sementara itu, ahli sejarah Taskopruzade Ahmet (wafat 1561) berupaya memadukan dalil-dalil agama dan riset tentang wabah. Hasilnya ia tuangkan dalam kitab Risalat al-Syifa li Dawa’ al-Waba’. Alim dari masa Sultan Suleiman I itu menegaskan, orang Islam mesti berikhtiar menghindari wabah. Tidak dapat dibenarkan, Muslim bersikap pasrah, yakni menerima tanpa usaha sebelumnya.

Alim dari masa Sultan Suleiman I itu menegaskan, orang Islam mesti berikhtiar menghindari wabah. Tidak dapat dibenarkan, Muslim bersikap pasrah, yakni menerima tanpa usaha sebelumnya.

 

 

Karya Taskopruzade menjadi acuan bagi turunnya fatwa pada masa wabah. Qadi Ebussuud (wafat 1574) memfatwakan masyarakat Muslimin mesti berupaya terlebih dahulu untuk menghindari wabah. Rumusannya mengikuti pesan Nabi SAW, “Jika ada wabah di suatu kota, janganlah kalian masuk. Kalau kalian sedang ada di dalamnya, janganlah kalian lari keluar.” Ia pun mengimbau penduduk di suatu daerah wabah untuk sementara mengungsi ke pinggiran kota atau perbukitan serta menjauhi kerumunan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here