Home Merdeka Umat Islam di Era Demokrasi Terpimpin

Umat Islam di Era Demokrasi Terpimpin

102
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Munculnya Dekrit Presiden untuk sementara dapat meredam perbedaan pendapat dalam konstituante, namun juga berdampak menjadi awalnya bentuk pelaksanaan pemerintahan yang otoriter, kekuasaan tunggal di tangan presiden.

Hal ini terbukti, ketika Presiden Soekarno mengajukan RAPBN ke DPR hasil Pemili 1955, oleh karena kondisi negara belum mampu, maka ditolak DPR dan diminta untuk diperbaiki, namun dengan pendekatan kekuasaan Bung Karno membubarkan DPR hasil pemilu dan kemudian dengan kekuasaanya pula presiden Soekarno menyusun DPR baru atas tunjukannya dengan diberi nama DPRGR.

Tokoh-tokoh umat Islam menentang sikap otoriter ini, namun kemudian ditangkapi dan dipenjara. Dari beberapa kasus yang menentang otoriter kekuasaan pada waktu itu, ditangkaplah tokoh-tokoh Islam antara lain Mr Prawoto Mangkusasmito, Mr Mohammad Roem, KH Muhammad Natsir, KH E.Z. Muttakin, Mr Kasman Singodimejo, Hamka dan lainnya. Mereka disiksa dan tidak diproses hukum melalui pengadilan.

Dari tahun 1960 sampai 1965 situasi negara dalam keadaan tegang, akibat adanya iklim antagonis dalam masyarakat. Polarisasi NASionalis + Agama + KOMunis (NASAKOM) yang dicetuskan pemerintah menjadi kekuatan yang saling benturan.

Pendekatan kaum Komunis (PKI) pada pemerintah banyak digunakan umtuk menghantam umat Islam dan gerakan Islam. Muncul istilah Ganyang Kontra Revolusi, Ganyang 7 Setan desa (salah satunya haji). PKI mengadakan aksi sepihak, yaitu menyerobot dan menduduki tanah milik umat Islam, milik pesantren dan sebagainya, untuk dibagikan pada para pendukungnya, sedangkan bila terjadi perlawanan diadakan teror dan sampai pembunuhan.

Setelah PKI merasa kuat dan siap untuk mengambil alih kekuasaan, menyiapkan angkatan ke 5 buruh tani dipersenjatai, import senjata jenis Tschung dari RRChina, banyak mengadakan pelatihan militer di beberapa daerah dan mengadakan aksi sepihak menduduki tanah-tanah perusahaan dan tanah masyarakat, serta mengadakan teror dan pembantaian terhadap lawan politiknya.

Menyerang tempat-tempat Ibadah menginjak-ijai kitab suci Al Qur’an, seperti peristiwa Kanigoro, Bandar Betsy, menteror dan menangkapi seniman Manikebu lawannya Lekra (PKI). Puncaknya meletuslah Pemberontakan G30S/PKI. Digerakkan oleh Dewan Revolusi yang berisi tokoh-tokoh PKI (DN Aidit, Sam Qomaruzaman, Nyoto, Nyono, Istiajid dan sebagainya) sebagai pengendali gerakannya (Surat Perintah Comite Central/CC PKI No. 13/P1/65, tanggal 28 Septembar 1965, isinya Perintah mendirikan Dewan Revolusi Daerah).

Pemberontakan G30S/PKI telah membantai kalangan ABRI, para santri dan kyai di pedesaan, pemuka agama lainnya termasuk di Bali, mereka telah disediakan sumur-sumur untuk penguburannya.

Umat Islam membentuk Kogalam (Komando Kesiapsiagaan Umat Islam) dan GEMUIS (Genarasi Muda Islam), Organisasi-organisasi Islam mendirikan pasukan Banser, Kokam, Brigade PII, Korba HMI dan sebagainya, sebagai kekuatan untuk menghadapi pemberontakan PKI 1965 itu.

Gerakan pemberontakan G.30.S./PKI di pusat maupun daerah-daerah berhasil ditumpas, sehingga selamatlah negara Republik Indonesia dari usaha dijadikan negara komunis.

Situasi negara mulai ada perubahan, masyarakat menyadari akan bahaya laten komunis, dan membuka lembaran baru dalam kehidupan negara yang memiliki nuansa keagamaan atau religiusitas yang memang sebagai jati diri Bangsa Indonesia. Dengan adanya Ketetapan MPRS No.XXV/1966, Partai Komunis Indonesia (PKI) dan orderbouwnya dibubarkan, ajaran Komunisme Marxisme dilarang untuk seluruh Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here