Home Khasanah Ulama Umara dalam Sejarah Daulah Utsmani

Ulama Umara dalam Sejarah Daulah Utsmani [2-selesai]

98
0

Oleh: Alwi Alatas (Jurnalis Republika dan Penulis Buku-buku Sejarah Perjuangan Islam)

SejarahOne.id – Demikian pula generasi awal pasukan khusus Utsmani, yaitu Yanisari, diseleksi, didoakan, dan diberi seragam antara lain oleh Timurtash Dede. Timurtash Dede merupakan keturunan Haji Bektas-i Veli, seorang yang dipercayai sebagai waliyullah dan hidup kurang lebih sejaman dengan Utsman Ghazi.

Belakangan muncul tarikat Bektasiyah yang memiliki keyakinan menyimpang dan meninggalkan solat serta puasa, tetapi menurut Akgunduz (2011: 63-64) tarekat ini serta penyimpangan yang dilakukannya tidak memiliki kaitan dengan Haji Bektas-i Vali. Hal-hal di atas merupakan beberapa contoh penghormatan para pemimpin Utsmani terhadap agamanya serta hubungan mereka yang baik dengan para ulama.

Syeikh Edebali sendiri, mertua Sultan Utsman, merupakan seorang ulama sekaligus sufi dari tarekat vefa’iyye (wafa’iyah) yang merupakan cabang dari tarekat Syadziliyah. Ia mendalami fiqh Hanafi dan sempat menuntut ilmu di Damaskus, sebelum kembali ke kawasan Asia Minor dan membuka zawiyah di Bilecik. Utsman sering berkonsultasi dengannya dan menjadikannya sebagai qadi dan mufti pertama di pemerintahannya.

Puteri Edebali yang dinikahi oleh Utsman disebut dalam sumber-sumber Sejarah sebagai Mal Hatun, atau Rabi’a Bala Hatun. Namun ia bukan satu-satunya perempuan yang dinikahi oleh Utsman. Malah para sultan selepas Utsman, menurut catatan Sejarah yang lebih kuat, bukanlah dari jalur keturunan puteri Edebali ini.

Istri Utsman yang melahirkan Orhan dan para sultan Utsmani berikutnya adalah puteri dari seorang emir Bani Saljuk bernama Omar Bey (Akgunduz, 2011: 45). Dengan kata lain, pohon besar (kesultanan) yang dilihat Utsman di dalam mimpinya itu sebenarnya bukanlah buah pernikahan antara dirinya dengan puteri sang Syeikh Sufi.

Walaupun begitu, mimpi Utsman itu tampaknya memberikan gambaran lain yang lebih bersifat simbolik. Pohon besar itu sebenarnya merupakan hasil ‘pernikahan’ (baca: hubungan baik dan kerja sama) antara umara (pemimpin) dan ulama, dalam hal ini antara Utsman Ghazi dan Syeikh Edebali, dan diikuti oleh generasi setelahnya.

Daulah Utsmaniyah dan kiprah peradabannya yang besar dan berumur panjang itu adalah representasi dari pernikahan ulama dan umara, juga pernikahan antara tasawuf dan kemiliteran.

Jejak-jejak kerjasama yang kuat di antara kedua belah pihak dapat dilihat pada banyak bagian sejarah Utsmani, sebagaimana telah dicontohkan sebelum ini.

Pernikahan itu langgeng dan memberikan berkah karena para umara-nya sungguh-sungguh dalam Islam dan perjuangannya dan para ulamanya zahid terhadap dunia serta jujur kepada Rabbnya dalam menunaikan amanah ilmunya.

Kejujuran dan kesungguhan kerja sama itu mungkin masih dapat kita lihat perwujudannya yang sederhana pada sebuah marmer putih di sebuah tempat di Sogut, pusat pemerintahan Utsman yang awal sekali.

Pada marmer putih itu terpahat nasihat Syeikh Edebali kepada Utsman Ghazi, sebuah nasihat tentang kelapangan dada serta tanggung jawab yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin:

Wahai anakku! Sekarang engkau adalah raja
Mulai sekarang, kemarahan adalah bagi kami; bagimu (tugasmu, pen.) rida!
Bagi kami tersinggung; bagimu menghibur!
Bagi kami menuduh; bagimu bersabar!
Bagi kami ketidakberdayaan dan kesalahan; bagimu kelapangan dada!
Bagi kami pertengkaran; bagimu keadilan!
Bagi kami iri hati, desas-desus, mengumpat; bagimu pengampunan!
Wahai anakku!
Mulai sekarang, bagi kami adalah memecah, bagimu menyatukan!
Bagi kami kemalasan; bagimu peringatan dan dorongan!
Wahai anakku!
Bersabarlah, tak akan mekar bunga sebelum waktunya. Jangan pernah lupa ini: Biarkan manusia berkembang, dan negara juga akan berkembang!
Wahai anakku!
Bebanmu berat, tugasmu sukar, kekuatanmu tergantung di atas sehelai rambut! Semoga Allah menjadi penolongmu!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here