Home Opini Ulama Memiliki Peran, Soekarno Bukan Pendiri NKRI

Ulama Memiliki Peran, Soekarno Bukan Pendiri NKRI

102
0
Kerjasama bilateral Indonesia-China Kian Erat

Oleh. Gus Baha

SejarahhOne.id – Bangsa Indonesia  seolah sedang di-‘Nina Bobo-‘kan, seakan-akan Indonesia itu dimulai dari Soekarno dan PDIP.  Ini tidak benar sama sekali, ulama dan kyai memili peran besar dalam mendirikan NKRI, serta berperan mengantarkan Indonesia Merdeka. Oleh karena itu,  Indonesia tidak bisa meninggalkan partai Islam

Orang yang pro Megawati, begitu mendewa-dewakan Soekarno, seakan-akan Indonesia, itu dimulai dari Soekarno. Sekarang ini, elite PDIP dan Rezim Jokowi Harusnya Meminta Maaf Kepada Rakyat Indonesia Karena Mau Mengubah Pancasila*

Sampai ada HAM Soekarnoisme, bahwa Indonesia itu seakan-akan dimulai dari Soekarno. Meski demikian, pengasuh Pondok Pesantren Al-Quran, di Kragan, Narukan, Rembang, Jawa Tengah, itu tidak memungkiri jika Soekarno adalah deklarator kemerdekaan Indonesia.

Partai-partai Islam sebenarnya memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Tahun 1908, partai Islam menjadi pelopor perjuangan, sebelum ada partai nasionalis yang berani melawan kolonialisme-kolonialisme Belanda. Kebangkitan Indonesia, sudah dimulai sejak tahun 1908. Karena saat itu yang pertama kali mencetuskan ide melawan Belanda adalah kiai-kiai Islam.

Saat itu, (mereka) bikin Serikat Dagang Islam, terus lama-lama menjadi Serikat Islam, terus lama-lama menjadi Partai Islam.

Semua itu dimulai dari Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Jadi tidak bisa Indonesia itu meninggalkan partai Islam.Secara kesejarahan, ulama dan kyai gak kalah sama tuannya Soekarnoisme,” sambung Gus Baha.

Kita ini seperti di-‘Nina Bobo-‘kan, seakan-akan Indonesia itu dimulai dari Soekarno. Siapapun tak mungkin tidak menghormati Soekarno, sebagai pahlawan besar.

Kita hormati, tapi ya kebesaran Pak Karno, demi bangsa Indonesia, jangan kemudian direduksi, disederhanakan hanya melewati . Gus Baha yakin, Soekarno, tak mengarahkan Indonesia, hanya untuk PDIP, Partai Marhainisme, pun partai yang memiliki paham Soekarnoisme. Itu ‘kan namanya pengkerdilan, tentu Pak Karno bikin negara ini, ya untuk semua bangsa, kita juga adil, sebagai kiai juga adil. HOS Tjokroaminoto bikin Partai Islam adalah untuk mengusir Belanda dari bumi Indonesia.

Semua perjuangan Indonesia adalah untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia, bukan hanya Islam. Kita adil, sama-sama adil, saat nasionalisme tidak mengurangi keagamaan, saat kegamaan tidak mengurangi nasionalisme.

Ketika televisi terus mengungkap sejarah kebangkitan Indonesia, contohnya di Hari Kebangkitan Nasional lalu. Menjadi penting, biar orang-orang yang sok Soekarnoisme, tak mereduksi Pak Karno, hanya milik mereka sendiri, karena bangsa ini berdiri sejak 1908.

Dimulai dari gerakan Budi Utomo, Hos Cokroaminoto, dan lainnya, serikat-serikat Islam.

Tapi intinya, kita secara sejarah sama, sebagai santri juga gak kalah sejarah, karena berdirinya nasional adalah lewat para ulama. Sejarawan manapun bilang, kalau kebangkitan Indonesia itu dari partai-partai Islam,” imbuhnya. Bahkan versi orang nasionalis sekalipun, itu bilang, karena Islam adalah satu agama yang paling sensitif terhadap penjajahan. Islam, melahirkan paham jihad, di mana ketika muncul kolonial Belanda, Muslim terinspirasi untuk berjihad.

Sehingga lahir partai-partai Islam. Kalian lihat sejarah, tahun 1908, itu namanya tidak SI (Serikat Islam), tapi Serikat Dagang Islam. Karena (tujuan) para kiai adalah melawan dominasi Cina di Surakarta, dan dominasi Belanda, menguasai sentra-sentra perdagangan.

Elit PDIP Agar Tidak Arogan dan Sombong

Para Elit PDIP diminta untuk Tidak Arogan dan Sombong apalagi menantang pasca insiden pembakaran bendera partainya yang terjadi saat unjuk rasa menolak RUU HIP di Gedung DPR dan MPR beberapa waktu lalu.

Rezim Jokowi Harusnya Meminta Maaf Kepada Rakyat Indonesia Karena Mau Mengubah Pancasila

Elit dan kader PDIP keluar garis seperti Dewi Tanjung yang menyebutkan banteng-banteng akan menyeret kalian. Lalu seperti pernyataan Budiman Sujatmiko kalau kader PDIP ada jutaan, bahaya kalau bergerak.

Belum lagi elit yang lainnya membanggakan sebagai partai besar pemenang pemilu. Hanya untuk membuat heboh tentang pembakaran bendera, yang pada kenyataan pembakaran bendera sudah sering terjadi bahkan oleh kader PDIP di beberapa daerah sendiri yang kecewa karena kebijakan partai.

Syafril Sjofyan juga menilai, pernyataan dari elite dan kader PDIP hanya memanaskan kondisi dan situasi. Pasalnya, umat Islam, kalangan nasionalis, akademisi dan purnawirawan TNI sedang solid menolak RUU HIP yang isinya bertentangan dengan Pancasila 18 Agustus 1945.

“Yang disepakati oleh founding father, dan pembukaan UUD 45,” tegas dia.

Jika hanya sebagai pemenang Pemilu 2014 dan 2019, kata Syafril Sjofyan, PDIP hanya menghasilkan suara pemilih dan pendukung berkisar sekitar 18% -19% dalam setiap pemilu legislatif.

Bahkan perolehan suara PDIP pernah merosot pada pileg 2004 dan 2009. Hal ini karena di Indonesia tidak ada pemenang mutlak melebih 40%-50% sejak 5 kali Pileg era Reformasi.

“Artinya jika berkaca pada pileg 2019, 19% dari 140 juta pemilih, pendukung riil PDIP hanya sekitar 27,5juta,” ungkap dia.

Syafril Sjofyan membandingkan, perolehan suara tersebut dengan jumlah penduduk Indonesia 260 juta, atau penduduk Jawa Barat yang berjumlah 45 juta.

“Kemenangan pileg PDIP tidak merata diseluruh provinsi, kabupaten dan kota. Beberapa diantaranya tidak dapat kursi sama sekali, artinya pemenang Pemilu di Indonesia tidak lebih dari 20% dari jumlah pemilih, tidak perlu dibanggakan atau disombongkan,” ungkap Syafril Sjofyan.

Terlebih lagi, lanjut dia, menurut beberapa hasil survei pendukung PDIP dari pileg ke pileg  berasal dari kalangan marhaenisme (Soekarnoisme).

“Dan kelompok yang merasa kurang nyaman pada kalangan mayoritas seperti WNI keturunan. Kelompok kiri kelompok aliran syiah, ahmadiyah serta aliran kepercayaan. Mengenai kelompok aliran kiri diakui sendiri oleh kadernya Ribka Tjiptaning,” papar dia.

Syafril Sjofyan pun melihat konstruksi pendukung PDIP sebenarnya rapuh, hanya sebagian yang militan atau revolusioner istilah Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto hanya karena kharisma nama Soekarno dan marhaen.

“Sebagian lagi jika terjadi sesuatu mereka akan kabur, artinya jika elit PDIP tetap saja angkuh, bisa terdepak dari kalangan mayoritas rakyat Indonesia, tidak heran jika tagar bubarkan PDIP pernah trending topik berkali-kali,” tandas dia.

Jika PDIP terbukti punya keinginan merubah/menyelewengkan Pancasila seperti yang termaktub dalam Bab II RUU HIP Pancasila diperas menjadi Trisila dan Ekasila, menurut konstitusi PDIP bisa dibubarkan karena dianggap telah mengkhianati UUD 45 dan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara

Kenapa PDIP dan Rezim Jokowi Ngotot Ingin Melanjutkan Pembahasan RUU HIP yang Jelas Jelas Neo Komunis !

Dari penelusuran, hingga Minggu siang tagar tersebut menduduki posisi teratas sebagai tagar yang paling banyak dibicarakan di linimasa Twitter. Sedikitnya ada lebih dari 211 ribu cuitan menggunakan tagar tersebut.

PDIP Sendirian Hadapi Demo Umat Islam Indonesia

Sejumlah warganet yang menyerukan tagar tersebut memprotes adanya Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUUU HIP). Publik menuding Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai dalang dibalik munculnya RUU HIP.

Dalam RUU HIP, salah satu klausul yang menjadi sorotan adalah konsep Trisila dan Ekasila serta frasa ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’. Konsep dan frasa tersebut langsung menjadi kontroversi dan mendapatkan tentangan keras dari publik hingga sejumlah ormas.

Merujuk pada laman resmi DPR, RUU HIP sudah dibahas sebanyak tujuh kali dan tinggal menunggu persetujuan Jokowi untuk pembahasan selanjutnya.

Publik beramai-ramai menolak RUU HIP disahkan. Bahkan, mereka mendesak agar dalang dibalik usulan RUU HIP. Merujuk pada laman resmi DPR, RUU HIP sudah dibahas sebanyak tujuh kali dan tinggal menunggu persetujuan Jokowi untuk pembahasan selanjutnya. Publik beramai-ramai menolak RUU HIP disahkan. Bahkan, mereka mendesak agar dalang dibalik usulan RUU HIP bisa ditangkap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here