Home Khasanah Turki dalam Kepemimpinan Sultan Sulaiman Al-Qanuni

Turki dalam Kepemimpinan Sultan Sulaiman Al-Qanuni

62
0

SEJARAHONE.ID – Kesultanan Turki Utsmaniyah pada masa keepemimpinan Sultan Sulaiman Al-Qanuni memberikan dampak positif dalam bidang hukum Islam. Sultan Sulaiman menghasilkan beberapa Undang-undang yang mengatur hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

Kondisi Sosial Masyarakat Bangsa-bangsa Turki  sejak dulu bahkan hingga kini tetap menjadi kelompok minoritas dalam lingkup kekuasaan mereka yang begitu luas. Dan, bangsa Turki tidak pernah berusaha menjajah negerinegeri Arab.

Sebelum kepemimpinan Sulaiman Al Qaninu, keluarga penguasa memelihara keturunan mereka dengan cara menikahi wanita-wanita nonmuslim. Dan, memberikan hak kewarganegaraan yang penuh kepada siapa pun yang menerima Islam. Orang non muslim wajib memakai bahasa Turki, dan bekerjasama dengan penguasa.

Sistem rekrutmen pasukan dari kalangan remaja dan pemuda yang selama ini dipertahankan memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan militer dan layanan sipil, serta mampu menyaingi pesatnya pertumbuhan anak muda dari komunitas nonmuslim. Anak-anak muda yang berbakat dari kelompok masyarakat yang ditaklukan, digiring dan disalurkan ke ibukota.

Kemudian di sana mereka di Islamkan, diturkikan, dan digunakan demi keagungan dan kemajuan negara. Orang-orang Sirkasius, Yunani, Albania, Slavia, Italia, bahkan Armenia berhasil mencapai kedudukan yang tinggi di kesultanan, bahkan ada yang menjadi menteri, atau perdana menteri. Keseluruhan kebudayaan Turki merupakan campuran dari beraneka ragam elemen yang berbeda-beda. Dari orang Persia, yang telah berhubungan dengan bangsa Turki bahkan sebelum mereka berimigrasi ke Asia Barat, lahir corak-corak yang artistik, pola-pola yang yang indah, serta ide-ide politik yang mengangkat keagungan raja.

Dengan mengadopsi karakter-karakter Islam dan Arab, ribuan istilah keagamaan, ilmu dan banyak di antara istilah itu yang masih digunakan di Turki walaupun baru-baru ini ada gerakan nasionalisasi bahasa. Kesultanan Utsmani memberikan kontribusi orisinal yang cukup berarti dalam tiga bidang berikut: ilmu ketatanegaraan, arsitektur, dan puisi.

Kondisi Keagamaan Kesultanan Turki Utsmaniyah

Kondisi keagamaan Kesultanan Turki Utsmaniyah sebelum Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Dalam tradisi masyarakat Turki, agama merupakan sebuah faktor penting dalam transformasi sosial dan politik seluruh masyarakat. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kesultanan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku.

Oleh karena itu, ulama mempunyai kedudukan yang istimewa dalam kesultanan dan berfungsi sebagai penasehat politik sultan. Pada periode pertama Turki, dipimpin oleh beberapa sultan di antaranya yaitu Utsman I, Orkhan, Murad I, dan Bayazid I.

Utsman mendapat gelar Padisya Alu Utsman atau Raja dari keluarga Utsman, pasukan Kesultanan Turki Utsmaniyah didorong oleh jiwa agama Islam yang berbasis pada ajaran Tarekat Bektasyiyyah31 yang dipelopori oleh Hajji Bektasy.

Kondisi Ekonomi Keadaan Perekonomian

Kesultanan Turki Utsmani pada masa sebelum kepemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni mengalami peningkatan yang sama besar dengan kemajuan dalam bidang politik dan militer. Daerah-daerah yang ditaklukan dari segi ekonomi merupakan masukan bagi sumber ekonomi kesultanan.

Hal ini dikarenakan dalam setiap keberhasilan kesultanan mendapatkan rampasan perang, jizyah, dan pajak sesudahnya. Dengan demikian, tidak mengherankan jika Kesultanan Turki Utsmaniyah mendapat kemajuan ekonomi melalui perdagangan. Sebagai contoh kegiatan perdagangan itu adalah adanya kerja sama perdagangan antara Kesultanan Turki Utsmaniyah dan Inggris, Genoa, dan Venesia dalam jual 31 Tarekat Bektashiyah didirikan oleh Hajji Bektash asal Khurasan. Tarekat ini menyebar luas melalui Ottoman terutama ke wilayah Balkan. Dimana para pemimpinnya membantu mengkoversi Islam. Gagasan Syiah masuk dengan kuatnya pada tarekat sufi ini, tarekat ini terbatas di Anatolia, Turki.

Tarekat ini memiliki pengaruh yang sangat dominan dikalangan Yenniseri, sehingga sering disebut tentara Bektasyi.

Kemajuan dalam bidang ekonomi sama besar dan kuatnya dengan kemajuan dalam bidang politik dan militer.

Daerah kekuasaan yang luas memungkinkan Kesultanan Turki Utsmaniyah untuk membangun perekonomiannya yang kuat dan maju. Pada masa puncak kemajuannya, semua daerah dan kota penting yang menjadi pusat perdagangan dan perekonomian jatuh ke tangannya.33 4.

Kondisi Politik Dan Militer Tentara Utsmani dari segi susunan organisasinya kurang rapih, maka dibentuklah tentara dengan memilih dan melatih tentaranya dengan ketat.

Tapi setelah mereka ini dibentuk ternyata mereka lupa akan tugas mereka yang sebenarnya sebagai tentara. Kemudian oleh Orkhan berusaha untuk membentuk tentara dari orang-orang non-Turki. Penguasa Turki cenderung mengambil orang-orang Kristen yang telah berpengalaman dan telah terbiasa dengan organisasi semacam ini. Atas pertimbangan agama, mereka kemudian mengambil anak orang Nasrani untuk dididik dan diarahkan agar masuk Islam.

Sistem Pertahanan

Dalam kepemimpinannya Sultan Salim I merombak segala bentuk perhatian pertahanannya ke arah Timur dengan menaklukkan Syria, Persia dan juga Mamalik di Mesir. Akan tetapi dalam masa pemerintahannya ada sebagian daerah yang belum dikembangkannya.

Dan akhirnya usahausahanya itu dikembangkan kembali oleh anaknya yaitu Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Sultan Sulaiman Al-Qanuni tidak menitikberatkan hanya kepada satu arah semata, akan tetapi seluruh wilayah yang berada di sekitar Kesultanan Turki Utsmani telah membuat dirinya bersemangat dan berjuang untuk mendapatkan seluruh wilayah tersebut, khususnya wilayah Eropa.

Peran dan Implikasi Sultan Sulaiman Al-Qanuni dalam Kesultanan Turki Utsmaniyah 

Jennissari atau Inkisyariah, secara bahasa berarti: “pasukan baru”, yang dibentuk melalui Devshirme atau semacam pendidikan wajib militer ketika masa kepemimpinan Orkhan. Adapun Inkisyariyah adalah tentara Kesultanan Turki Utsmaniyah yang berasal dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk Islam. Pasukan ini merupakan mesin perang yang sangat kuat dalam Kesultanan Turki Utsmaniyah.

Peran Sultan Sulaiman Al-Qanuni dalam sistem perundangundangan

Sulaiman al-Qanuni lebih dikenal oleh rakyatnya dengan sebutan yang sangat mulia “al-Qanuni”.35 Hal itu karena mereka sangat menghormatinya sehingga namanya diabadikan menjadi nama himpunan perundang-undangan oleh generasi setelahnya. Sultan Sulaiman al-Qanuni meminta Ibrahim alHalabi untuk menyusun sebuah kitab hukum (Qanun) yang oleh Sultan diberi nama Multaqa al-Abhur.

Adapun Hukum utama yang digunakan oleh Sultan Sulaiman dalam 35Asal kata “al-Qaanuun” yang berarti pokok, pangkal, asal, kemudian menjadi isim fail “alQanuni” berarti peletak Undang-undang/ penetap Undang-undang/ orang yang menjalankan Undang-undang.

Dalam sumber lain juga dijelaskan bahwa, Gelar “al-Qanuni” yang diberikan kepada Sulaiman I adalah karena jasanya dalam menyusun dan mengkaji sebuah sistem undang-undang dari Kesultanan Turki Utsmaniyah. Tak hanya itu, Sulaiman I (alQanuni) juga sangat disiplin, tegas, dan konsisten dalam setiap menjalankan undangundang tersebut. Selain itu, dia juga mempunyai sebuah kharisma yang tinggi sehingga ia sangat dihormati dan disegani oleh kawan maupun lawannya.

Disebutkan bahwa, Sulaiman I telah menerapkan Hukum Syariah Islamiyah ketika memimpin rakyatnya yang tersebar luas di antara Eropa, Persia, Afrika, serta Asia Tengah. Tidak hanya menerapkan, tetapi dia juga dengan tegas memerintahkan kepada rakyatnya untuk menjalankan dengan disiplin. 36 Kitab hukum yang berjudul Multaqa al-Abhur yang berarti titik pertemuan lautan, yang kemudian menjadi karya standar menyangkut undang-undang hukum Utsmani hingga terjadinya reformasi pada abad ke 19.

 

Hukum mengatur negara adalah syariat Islam. Sultan tidak mempunyai kewenangan atau hak apapun untuk mengubah syariat Islam tersebut. Dengan bantuan Mufti Agung Kesultanan Turki Utsmaniyah saat itu, Abu Su’ud,37 Sultan Sulaiman Al-Qanuni melakukan upaya reformasi undang-undang yang disesuaikan dengan perubahan zaman dan kondisi kesultanan.

Dalam setiap undang-undang yang dibuat oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni mampu memberikan keadilan terhadap umat lain, sehingga seluruh penduduk Kristen maupun Yahudi merasa mendapatkan keadilan atas apa yang menjadi keputusan undang-undang tersebut.

Dalam hal ini Sultan Sulaiman Al-Qanuni sangatlah berhati-hati dalam mengambil keputusan. Pada tahun 1554 M, Sultan Sulaiman Al-Qanuni mengeluarkan dekrit yang isinya secara resmi melarang blood libel39 terhadap orang Yahudi. Syaikh Abu Su’ud Affandi ialah seorang ulama ahli bahasa, ahli tafsir, peneliti, penulis kitab Tafsir Irsyad al-Aql as-Salim ila Mazaya alKitab al-Karim, atau yang sering dikenal dengan tafsir Abu Su’ud.

Tafsir ini tebalnya 9 jilid, banyak menjelaskan sisi keistimewaan bahasa dan logika yang diajarkan Al-Quran. Bahkan Sultan Sulaiman Al-Qanuni juga melakukan terobosan hukum yang sangat baik dalam bidang undang-undang kriminal dan kepolisian, perpajakan, serta pertanahan.

Membangun Pasukan Kuat

Upaya Sultan Sulaiman Al-Qanuni dalam Membangun Pasukan yang Kuat Upaya pertama yang dilakukan Sultan Sulaiman Al-Qanuni dalam membentuk suatu pasukan yang kuat yaitu dengan sistem rekrutmen pasukan dari kalangan remaja dan pemuda.

Dengan sistem rekrutmen tersebut, para pemuda yang telah dipilih dan dianggap berbakat dari kelompok masyarakat digiring dan disalurkan ke ibukota.

Kemudian mereka tidak hanya diislamkan dan diturkikan. Melainkan mereka juga diberikan pendidikan formal maupun pendidikan militer.41 Dalam menghadapi gempuran Eropa yang jumlah lebih banyak, Sulaiman Al-Qanuni membagi pasukannya menjadi tiga barisan sepanjang 10 Km. Jenissari diletakkan di garis depan guna menghadapi gempuran langsung pihak musuh. Baris kedua diisi  oleh kavaleri dan infanteri (pasukan pejalan kaki) yang dilengkapi dengan persenjataan ringan. Sedangkan baris ketiga adalah beliau dengan pasukan meriam.

Dalam buku karangan Philip K. Hitti dikatakan bahwa, Khairuddin Barbarosa mendirikan aristokrasi militer dengan pasukan Jenisseri sebagai kekuatannya. Ia juga mengorganisir satu pasukan khusus yang anggotanya diatur secara reguler. Pasukan-pasukan tersebut kebanyakan dari hasil pengrekrutan dari orang Kristen yang berhianat yang mayoritas dari masyarakat Italia dan Yunani. Mereka senantisa siap untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan kekaisaran yang agresif ke seluruh kawasan Mediterenia.

 

 

 

 

 

 

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here