Home Galeri Tragedi Ratu Syarifah Fatimah, Ratu Banten Bersekongkol dengan Belanda

Tragedi Ratu Syarifah Fatimah, Ratu Banten Bersekongkol dengan Belanda

84
0

Sejarahone.id – Ratu Syarifah Fatimah disebutkan beberapa buku sejarah adalah puteri seorang ulama bernama Sayyid Ahmad, sang ulama ini sangat disegani dan hormati oleh kalangan Keraton Surosowan. Ratu ini dinikahi oleh Pangeran Ranamanggala yang kelak dikemudian hari menjadi sultan yang bergelar Sultan Syifa Zaenul Arifin (1690-1733).

Jauh sebelum menjadi sultan, Pangeran Ranamanggala sudah mempunyai putera yang nanti dipersiapakan jadi sultan berikutnya. Yaitu Pangeran Gusti atau Pangeran Arif. Setelah ibunya pangeran Gusti ini meninggal maka Ratu Syarifah lah yang menggantikannya sebagai permaisuri.

Namun, sang ratu ini belakangan diketahui mempunyai ittikad yang tidak baik atas keberlangsungan kesultanan Banten perihal suksesi kepemimpinan pasca Sultan Zaenul Arfin. Maksud sang ratu dalam posisinya sebagai permaisuri menginginkan puteranya yaitu Pangeran Syarif Abdullah kelak yang menggantikannya.

Siasat keji itu mulai disusun oleh sang ratu dengan mencoba membuka lobi politik ke Batavia. Lewat tangan halus Gubernur Jenderal VOC Gustaff Williem Van Imhoff itulah Ratu Syarifah semakin di atas angin untuk menyusun peta konflik antara Sultan Zaenul Arifin dengan puteranya Pangeran Gusti, dan rupanya anaknya sultan ini terprovokasi oleh Ratu Syarifah hingga mengadakan “pemberontakan sunyi“ atas kekuasaan Sultan Zaenul Arifin.

Hasilnya kemudian sang putera mahkota dinyatakan pemberontak oleh sang ayah (sultan zaenul arifin) dengan menghukuminya dibuang ke Sri Langka. Ketika sang putera mahkota terbuang, kerja dan siasat Ratu Syarifah tidak berhenti pada itu, ia ternyata menyusun agenda politik untuk menjatuhkan kewibawaan sang sultan yang memang sejak sultan Haji, wibawa sultan Banten di mata Kompeni Belanda sangat direndahkan.

Pada 1748, ending dari konspirasi busuk antara Sang Ratu dan Kompeni Belanda adalah menggulingkan kekuasaan Sultan Zaenul Arifin. Dan itu terwujud sampai kemudian Sultan Zaenul Arifin dibuang ke Ambon sebagai pesakitan. VOC Belanda dengan taktik “ devide et empera “ ini sangat diuntungkan oleh kerja cerdas seorang Syarifah Fatimah dengan semakin menguasianya monopoli pedagangan di Banten atas lada dan cengkih, yang banyak di kirim dari Semangka dan Tulang Bawang Lampung.

Situasi sosial di masyarakat Banten umumnya begitu muak melihat tampakan ambisi yang digelorakan Ratu Syarifah Fatimah dengan mengorbankan suaminya yang tengah menduduki sebagai sultan Banten serta memfitnah dan mengusir Pangeran Gusti ke Sri Langka. Maka 1 November 1750, kemurkaan dan kemuakan rakyat Banten itu diinisiasi oleh 2 tokoh yang kelak kemudian oleh orang Banten menjadi tokoh legendaris ( menyejarah ), yaitu Kiai Tapa ( disinyalir sebagai Kiai Bagus Mustofa ) dan yang kedua Tubagus Buang. Awal dari inisiasi itulah rencana pemberontakan atas Keraton Surosowan yang disusun secara matang dengan basis perjuangan di Gunung Munara ( kini antara wilayah Gunung Kaler dan Kresek Tangerang ).

Perang itu pecah dan tak terhindarkan hingga pasukan pemebrontak yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Tubagus Buang semakin mampu merangsek masuk di dalam area keraton yang prajuritnya tanpa gigih meladeni serbuan pasukan Kiai Tapa, padahal pasukan itu tesusun dari tentara campuran Eropa yang dibina oleh VOC, selain pasukan pribumi non parjurit keraton yang ikut bergabung dalam menghalau serbuan pasukan Kiai Tapa dan Tubagus Buang. Situasi keraton tak terkendali hingga kemudian keraton mengajukan bala bantuan tentara VOC yang ditempatkan di tangsi-tangsi yang jaraknya tidak jauh dari Keraton Surosowan, namun otoritas Belanda di Banten tidak mengabulkan bala bantuan tersebut dan pihak VOC justeru menuduh Ratu Syarifah sebagai biang kegaduhan atas terjadinya chaos ( huru hara ) di kesultanan Banten. Sifatnya yang tak kenal menyerah, wataknya yang ingin menguasai serta ambisius sangat sulit dikendalikan.

Pemberontakan yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Tubagus Buang hampir mengusai Keraton Surosowan jika saja Kompeni Belanda ternyata punya niatan untuk menetralisir keadaan dengan maksud agar Kesultanan Bnaten tetap dalam posisi Vassal VOC Batavia, kendati Kesultanan Banten dipimpin oleh seorang sultan sekalipun. Maka keputusan Kompeni Belanda pada Januari 1751 menghukum Ratu Syarifah dengan hukum buangan yang sejak itu nge-trend sebagai hukuman utama kompeni.

Sang Ratu akhirnya diekstradisi ke Pulau Edam di Kepulauan Seribu bersama puteranya Syarif Abdullah hingga wafatnya di sana ( Pulau Edam ) sebagai tahanan politik. Sementara Pangeran Adi Santika saudara tua dari sultan yang dibuang akhirnya dinobat oleh Kompeni Belanda sebagai Regent Pangeran ( penguasa sementara ). Kemudian di tahun 1752 keputusan VOC di Batavia memutuskan untuk menjemput kembali sang putera mahkota yakni Pangeran Gusti dari Sri Langka untuk kemudian didudukan sebagai Regent Pangeran atau putera mahkota.

Kelicikan kompeni ditunjukan ketika Pangeran Gusti tidak secara langsung diangkat sebagai sultan baru pengganti mendiang ayahnya yang dibuang di Ambon Maluku melainkan VOC mengangkat Pangeran Adi Santika sebagai sultan baru dengan gelar Sultan Wasi Zaenul ‘Alimin. Meski kemudian Sultan Wasi harus meletakkan jabatanya di tahun 1752 sebagai sultan kepada keponakanya yang memang sudah digadang-gadang akan dinobatkan menjadi Sultan Banten.

Suksesi Kesultanan Banten secara priodik pasca lengsernya Sultan Haji hingga sultan yang bertahta di awal abad 19 M tidak lain dari sekenario geo-politik Kolonial Belanda dalam mengamankan penguasaan atas monopoli, dan anehnya pelantikan tersebut atas restu Gubernur Jenderal VOC di Batavia.

Taktik Kompeni Belanda tersebut belakangan kita pahami sebagai taktik yang halus dalam upaya pelemahan atas perlawanan dari sultan-sultan khususnya Sultan Zanul Arifin dengan mengirim Ratu Syarifah sebagai agen kompeni, meski kemudian sang ratu tetap dijadikan target sekligus korban politik VOC Belanda tanpa pembiayaan besar atas penguasaan kesultanan Banten sejak mendiang Sultan Haji akhir abad 17 M.

Tragedi Ratu Syarifah Fatimah ( Ratu dari Timur ) ini sering dijadikan bahan pelajaran betapa ambisi politik selalu menghasilkan kekusaan yang singkat, bahkan selalu berujung tragis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here