Home Khasanah Tokoh Ilmuwan Muslim Pada Masa kebangkitan Islam

Tokoh Ilmuwan Muslim Pada Masa kebangkitan Islam

22
0

SEJARAHONE.ID – Pada masa kejayaan Islam, tidaknya hanya ilmu di bidang filsafat dan sains yang berkembang, tetapi dibidang ilmu matematika para ilmuwan Muslim juga telah menemukan tentang sistem notasi dan desimal.

Rizqon Halal Syah menguraikan sumbangan matematikawan Muslim, yang antara lain yaitu : Sayyidina Ali Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, Al Khawarizmi dan Abu Al Wafa

Mengenal Tokoh-Tokoh Ilmuwan Muslim : Okezone techno

Ali bin Abi Thalib

Dikenal sebagai pintunya ilmu (hadis Nabi: Ana Madinah al-ilmi wa Ali babuha: Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya). Ali bin Abi Thalib ra adalah sahabat Rasulullah SAW yang terkenal cerdas, jujur dan berwawasan luas. Banyak riwayat yang mengkisahkan kemahiran beliau dalam ilmu matematika.

Temuan Ali bin Abi Thalib r.a yang telah dijelaskan di atas tentang kelaziman bilangan kelipatan yang sekarang terkenal dengan istilah KPK (kelipatan Persekutuan Terkecil), berguna dalam operasi-operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan, dengan cara menyamakan penyebutnya. Dalam hukum waris (faraidh) ini pun digunakan. Berkaitan dengan persoalan waris, dikisahkan bahwa suatu waktu ada tiga orang menemui Ali bin Abi Thalib ra. Mereka membawa persoalan waris yang menimpa dan rumit.

Ketiga orang ini, mempunyai 17 ekor unta sebagai harta warisan.

Mereka hendak membaginya dengan pembagian yang berbeda yakni ½, 1/3, dan 1/9. Jika menggunakan perhitungan langsung masing-masing mendapat 8½, 5 2/3 dan 1 8/9, tentunya tidak mungkin dalam perhitungan unta yang dalam keadaan hidup. Ketika itu Ali bin Abi Thalib ra menyarankan agar mereka menambahkan 1 ekor unta dengan cara meminjam kepadanya, sehingga jumlah unta sekarang menjadi 18 ekor. Walhasil mereka mendapatkan angka bulat yakni 18 ekor sehingga mudah dalam pembagian. Sehingga masing-masing mereka mendapatkan 9 ekor (1/2 bagian), 6 ekor (1/3 bagian) dan 2 ekor (1/9 bagian). Sehingga total yang dibagikan tetap 17 sehingga satu ekor unta milik Ali bin Abi Thalib ra pun diambilnya kembali. Peristiwa ini, menunjukan bahwa kemampuan matematika Ali bin Abi Thalib ra sungguh luar biasa di masanya sehingga cepat tanggap menyelesaikan persoalanpersoalan sehari-hari dengan metode yang kreatif dan non konvensional.

Al Khawarizmi Al-Khawarizmi

Adalah tokoh ilmuwan Muslim yang sangat konsen dalam pengembangan matematika. Ia banyak memberikan sumbangan pemikiran dalam bidang aljabar. Nama lengkap ilmuwan Muslim ini adalah Abu Jafar Muhammad bin Musa alKhawarizmi. Ia merupakan matematikawan pertama yang mengajarkan aljabar dengan 50 elementer.

AlJabar banyak dipelajari berasal dari karyanya yang berjudul kitab alMukhtashar fi Hisâb al-Jabr wa al-Muqâbalah (buku kesimpulan proses kalkulasi untuk paksaan dan persamaan), namun sering disingkat dengan al-Jabar wa al-Muqâbalah (aljabar dan persamaan).

Ada tujuh hal yang patut diketahui untuk menelaah karya besar al-Khawarizmi sebagai sumbangan yang cukup berarti bagi khazanah Islam dan pengembangan sains dan matematika. Pertama adalah memperkenalkan desimal atau persepuluhan, konsep ini memperkaya khasanah dari penemuan formula seksagesimal atau perenampuluhan.

Formula perenampuluhan merupakan perhitungan kuno yang diwariskan dari zaman Babilonia yang biasa digunakan dalam perhitungan jam yakni enam puluh detik, enam puluh menit. Desimal banyak digunakan saat ini, sehingga angka dapat digunakan operasi angka dibelakang koma, sebagai angka pecahan. Sumbangan kedua, penggunaan variabel dan simbol-simbol. Memang sebenarnya matematika adalah bahasa simbol.

Hal ini mendorong pesatnya perkembanagan formulaformula persamaan dalam matematika. Ketiga adalah menemukan bilangan nol. Sumbangan angka nol olehnya, mengubah kemajuan penemuan angka lewat angka romawi yang belum mengenal angka nol. Angka nol (shifr) diterangkan pertama kali pada perhitungan sistem desimal.

Temuan ini membuka cakrawala baru dalam banyak operasi dan persoalan matematika. Keempat, penemuan nilai simbol phi (π), nilai ini menyatakan perbandingan keliling sebuah lingkaran yang dipakai sampai saat ini. Nilai phi ditetapkan 22/7 atau secara desimal ditulis 3,1428571. Ia menemukan bahwa perbandingan keliling terhadap garis tengah lingkaran bernilai tetap dalam istilah matematika dinamakan konstanta. Penemuan konstanta phi membantu kita dalam menghitung volume bola dan menghitung luas maupun keliling lingkaran.

Kelima, al-Khawarizmi juga menyusun daftar logaritma. Daftar ini digunakan untuk menemukan jawaban atas masalah-masalah aritmatika. Keenam, metode aljabar, temuan ini digunakan untuk menghitung tinggi segitiga. Ketujuh, merumuskan penyelesaian persamaan kuadrat dengan konsep variabel, parameter, dan akar kuadrat. Persamaan kuadratik yang dipecahkan secara umum mempunyai formula ax2 + bx + c = 0dengan penyelesaian masalah dengan rumus sekarang terkenal dengan rumus ABC. X12 = (-b ± √(b2 -4ac) / 2a c.

Abu al-Wafa

Abu al-Wafa mempunyai nama laengkap Muhamad bin Yahya bin Ismail bin AlAbbas Abu al-Wafa al-Buzjani. Abu al-Wafa memperkenalkan konsep tangen, cotangen, secon cosecan dalam ilmu yang sangat terkenal untuk ilmu matematika yakni trigonometri. Ia menemukan formula penjumlahan dalam trigonometri yang terkenal yakni; Sin (A+B) = Sin A. Cos B + Sin B. Cos A Cos (A+B) = Coa A.Cos B + Sin A. Sin B Tangen (A+B) = (Tan A + Tan B)/(1-Tan A.Tan B). Selain itu juga, Abu al-Wafa mengembangkan trigonometri sferis (bidang lengkung/kurva), Ia menyempurnakan teorema Menelaus yang disebut rule of the four magnitudes aturan empat besaran), yaitu Sin a : Sin c = Sin A:1, dan teorema tangen tan a : tan A = Sin b : 1, yang kemudian dari rumus itu al-Wafa mengambil keseimpulan berupa teorema baru yakni Cos c = Cos a. Cos b.

Lebih dari itu al-Wafa juga menemukan dua buah rumus untuk setengah sudut dalam perhitungan trigonometri yaitu; Sin2 ½ A = 1-Cos A, Cos2 ½ A = 1 + Cos A. Kemudian, ia juga menemukan rumus sudut ganda; Sin 2 A = 2 Sin A. Cos A yang ini menjadi pijakan rumus; Cos 2 A = Cos2A – Sin2A = 2 Cos2A-1 = 1-2 Sin2A

Bidang Kedokteran

Begitu juga di bidang kedokteran, salah satu buku yang diadopsi ilmuan-ilmuan Barat adalah karya Ibnu Shina yang kemudian pada abad ke 17 menjadi materi pokok fakultasfakultas kedokteran di Barat. Kegigihan dan kecerdasan ilmuwan Muslim ini, juga secara langsung telah memberikan motivasi kepada Barat dalam rangka mengembangkan kebudayaan mereka atau budaya Romawi kuno yang kemudian disebut renaisans. Maka sepanjang abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya kaum Muslim dalam berbagai bidang telah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa latin khususnya ke bahasa Spanyol.

 

===Selain penerjemahan karya-karya ilmuwan Muslim ke bahasa latin Spanyol, masih banyak fakta-fakta yang mendukung tentang kemajuan-kemajuan ilmu yang dilakukan ilmuwan Muslim yang antara lain sebagai berikut : Ilmuwan Muslimin telah berhasil memberikan sumbangan ekperimental mengenai metode-metode dan teori-teori sains ke dunia Barat atau ilmuwan-ilmuwan Barat. ==

Ilmuwan Muslim telah berhasil memberikan sumbangan tentang sistem notasi dan desimal bangsa Arab yang dalam waktu yang sama telah dikenalkan dikalangan ilmuwan Barat. Karya-karya ilmuwan Muslim pakar bidang kedokteran telah banyak diterjemahkan, khususnya karya Ibnu Shina atau Avicenna bahkan digunakan sebagai referensi utama di lembaga-lembaga pendidikan tinggi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here