Home Opini TNI Lahir dari Perjuangan Pribumi, Pertahankan Kemerdekaan RI

TNI Lahir dari Perjuangan Pribumi, Pertahankan Kemerdekaan RI

116
0

SEJARAHONE.ID-Oleh Batara R. Hutagalung (Sejarawan dan Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda-KUKB).

TNI Lahir Dari Perjuangan PRIBUMI Mempertahankan Kemerdekaan RI. Digaris bawahi kata PRIBUMI,  karena dalam dua agresi militer Belanda yang dilancarkan terhadap Republik Indonesia, ada pasukan bangsa Cina PO AN TUI yang ikut berperang di pihak Belanda.

Mereka adalah bangsa Cina yang tinggal di Republik Indonesia. Mereka berpihak ke Belanda.

Bangsa Cina adalah mitra Belanda, terutama di bidang perdagangan, sejak zaman penjajahan Belanda, sejak tahun 1619,termasuk PERDAGANGAN BUDAK.
Pribumi, leluhur bangsa Indonesia, diperjual- belikan sebagai *BUDAK DI NEGERI SENDIRI* oleh bangsa Belanda dan bangsa Cina.

Kekuatan pasukan Po An Tui di Sumatera dan Jawa sekitar 50.000 orang. Mereka dibentuk, dipersenjatai dan dilatih oleh tentara Belanda sejak akhir tahun 1946.

Dalam agresi militer I yang dilancarkan oleh Belanda tgl. 21 Juli 1947 dan agresi militer II tgl. 18 Desember 1948, Po An Tui ikut berperang di pihak Belanda untuk menghancurkan Negara dan Bangsa Indonesia.

Ini adalah sejarah kelam bangsa Cina sejak zaman penjajahan Belanda dan kemudian sejak 17.8.1945 di Republik Indknesia.

Selama puluhan tahun, sejarah kelam ini berhasil situtup-tutupi, bahkan kini diputar-balikkan, seolah-olah bangsa Cina ikut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Memang ada satu-dua orang bangsa Cina yang ikut berperang di pihak Republik Indonesia, seperti Laksamana John Lie. Namun sebagian terbesar, bahkan membentukan pasukan, yang ikut berperang di pihak Belanda. Padahal mereka hidup dan mencari makan di wilayah Republik Indonesia.

Pengkhianatan ini adalah latar belakang mengapa Sultan HB IX di DI Yogyakarta, melarang orang Cina memiliki lahan di Yogyakarta.

Di mana keturunan pasukan Po An Tui sekarang? Di lembaga mana saja mereka sudah menyusup sejak tahun 1950?

Sampai sekarang belum ada permintaan maaf dari bangsa Cina di Indonesia atas pengkhianatan ini.

Sudah waktunya Pengkhianatan Po An Tui
dibahas secara terbuka, tanpa ada tuduhan rasialis, diskriminatif, intoleran dsb.

Dengan mumbuka lembaran sejarah akan terlihat, siapa yang sebenarnya SELAMA RATUSAN TAHUN rasialis, diskriminatif bahkan pelanggar HAM besar.

Sebagai catatan, menurut sensus pemerintah kolonial tahun 1930, jumlah bangsa Cina di wilayah jajahan Belanda adalah 1.200.000 orang. Sebagian besar tinggal di Pulau Jawa.

Setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan mendirikan Negara Indonesia, sampai tahun 1960, sebagian terbesar bangsa Cina yang ada di Republik Indonesia tidak mau menjadi warganegara Indonesia. Hal ini dikarenakan pernyataan Mao Ze Dong tahun 1950, bahwa semua orang Cina di seluruh dunia adalah warganegara RRC.
Tahun 1955, disela-sela Konferensi Asia-Afrika tahun 1955, ada kesepakatan antara pemerintah RI dan pemerintah RRC, bahwa semua orang Cina di Republik Indonesia diberi waktu sampai tanggal 20 Januari 1960, untuk memilih, nejnadi warganegara RI atau RRC.

Sampai akhir tahun 1959, sebagian terbesa bangsa Cina tetap tidak mau menjadi warga negara RI. Presiden Sukarno mengeluarkan Peraturan Presiden NO. 10 tahun 1959, bulan November 1959, yang inti isinya adalah melarang ORANG ASING BERDAGANG DI LUAR IBUKOTA KABUPATEN tentu yang terkena adalah bangsa Cina. Oleh karena itu, orang2 Cina yang tetap ingin berdagang sampai ke kampung2, TERPAKSA mengajukan permohonan menjadi warganegara RI.
Yang memilih menjadi warga negara RRC, lebih dari 200.000 orang, pulang ke RRC.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here