Home Pahlawan Tjipto Mangoenkusumo, Dokter Pejuang Kebangsaan Indonesia

Tjipto Mangoenkusumo, Dokter Pejuang Kebangsaan Indonesia

54
0

Oleh Pramana Asmadiredja

SejarahOne.id – Nama Tjipto Mangoenkusumo atau Cipto Mangunkusumo diabadikan salah satu rumah sakit di Jakarta (RSCM). Tjipto Mangoenkusumo merupakan seorang dokter yang dalam kisah hidupnya sibuk untuk membela hak rakyak pada masa penjajahan Belanda dan Jepang melalui gerakan politik yang beliau ikuti kala itu. Ia lahir pada 4 Maret 1886 di Jepara dan meninggal pada 8 Maret 1943.

Pada usia 13 tahun Tjipto Mangoenkusumo masuk Sekolah Dokter Pribumi bikinan Belanda bernama STOVIA dan lulus tahun 1905 kemudian menjadi dokter pemerintah dan menjadi pahlawan ketika wabah pes melanda di Malang.

Gelar kepahlawan disematkan karena Tjipto berhasil memerangi wabah pes tersebut dengan menyembuhkan banyak pasien yang terkena wabah pes, sampai pada akhirnya pemerintah kolonial Belanda memberinya penghargaan Willem Klas 3, namun Tjipto menolak penghargaan tersebut.

Karir politik Tjipto Mangoenkusumo dimulai sejak dia mundur sebagai dokter dan memilih terjun ke dunia politik dengan ikut bergabung menjadi anggota Pengurus Besar Boedi Oetomo.

Selain di Boedi Oetomo, pada tahun 1912 bersama dengan Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat Tjipjo mendirikan “Indische Partij” sebuah partai politik pertama kali di Hindia Belanda.

Lewat Indische Partij ini Tjipto menyuarakan keadilan dengan menulis kritikan-kritikan tajam kepada pemerintahan Belanda melalui surat kabar De Express. Karena sering mengkritik pemerintahan Belanda, tiga serangkai Indische Partij tersebut diasingkan dan dibuang ke Belanda.

Setelah menjalani pembuangan dari Belanda, sesampainya di Jawa semangat berpolitik Tjipto Mangoenkusumo tidak runtuh, Tjipto kembali melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintahan Belanda dengan bergabung menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) dan ikut serta dalam aksi pemogokan petani perkebunan di Klaten pada tahun 1919.

Karena aksi pemogokan tersebut Tjipto kembali menjalani pembuangan ke Banda Neira selama 14 tahun, dimulai sejak 1927. Ketika Belanda tidak lagi menjajah di Indonesia dan pucuk penjajahan dipegang oleh Jepang semangat untuk terus melawan penjajah ditunjukkan oleh Tjipto melalui Gerakan Anti Fasis (Geraf), sebuah gerakan yang dibuat oleh Tjipto pada tahun 1940 dan dipimpin oleh Amir Syarifuddin.

Tiga tahun setelah Tjipto mendirikan Gerakan Anti Fasis tersebut Tjipto menghembuskan nafas terakhir, tepatnya pada tahun 1943 dokter Tjipto Mangoenkusumo meninggal di saat Indonesia masih dalam penjajahan Jepang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here