Home Khasanah Tiga Periode Keemasan Islam

Tiga Periode Keemasan Islam

135
0

SEJARAHONE.ID – Ratusan tahun lalu, peradaban Islam lebih unggul dari peradaban Barat. Ketika itu, perdaban Islam mencapai masa kejayaan. Perkembangan Islam dalam kacamata sejarah, terbagi menjadi tiga periode.

Tiga periode tersebut yaitu pertama disebut periode klasik, pada masa ini Islam mengalami kemajuan bahkan disebut sebagai masa keemasan Islam namun sekitar tahun 650-1250 Masehi Islam mengalami gelombang disintegasi (pemecahan).

Kedua, disebut periode pertengahan tepatnya pada tahun 1250-1800, pada periode abad pertengahan ini Islam juga mangalami kemunduran cukup signifikan. Ketiga, disebut periode modern yang dimulai dari tahun 1800 hingga sampai sekarang ini.

Setiap perkembangan periode ini, terdapat perbedaan dimensi yang khas antara
satu periode dengan periode lainnya, dinamika ini dipengaruhi oleh sosial, politik, budaya, dan agama sehingga peradaban Islam pada masa klasik, pertengahan, sampai modern memiliki nuansa yang berbeda satu sama lain.

Perkembangan Islam di Dunia

Perkembangan Ilmu Masa Kejaan Islam

Masa kejayaan Bani Abbasiyah, tepatnya pada masa khalifah Harun al-Rasyid dan anaknya al–Ma‟mun kondisi ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umun sangat berkembang pesat mulai ilmu fikih, tafsir, hadis, kalam, tasawuf, dan siyasah.

Sedangkan bidang ilmu pengetahuan umum yang antara lain adalah imu filsafat, kedokteran, astronomi, farmasi, geografi, sejarah, dan bahasa. Kemajuan peradaban dunia yang ditorehkan (dikembangkan) peradaban Islam tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan tetapi budaya juga tidak luput dari dinamika peradaban Islam, dikarenakan ajaran Islam bersifat sangat terbuka terhadap peradaban bangsa lain hingga membuat Islam semakin maju dan tinggi dalam hal peradaban.

dalam catatan sejarah, bahwa ketika Barat masih terkungkung atau berkutat
dalam kegelapan maka pada saat itu umat Islam sudah berhasil melestarikan pemikiranpemikiran dan kebudayaan Romawi – Persia

Maka tidak heran banyak sarjana Barat yang berbondong-bondong mendatangi negara-negara Islam dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam untuk kemudian dibawa mereka ke negara mereka masing-masing.

Sumbangan Islam Terhadap Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Sejarah telah membuktikan, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern
menjadi fakta sejarah yang tidak terbantahkan, bahkan banyak yang berpendapat bahwa ilmupengetahuan bermula dari dunia Islam yang kemudian mengalami transmisi (penyebaran) dan poliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya dunia Barat dilanda dark ages(masa kegelapan) sehingga muncul zaman enlightenment (yang cerah) di Eropa.

Melalui dunia Islam mereka mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern sebagaimana diungkapkan Gore Barton bahwa orang-orang Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tidak merujuk sepenuhnya kepada sumber-sumber Yunani melainkan kepada sumber-sumber Arab.

Pada abad ke-12, merupakan peradaban Islam yang tertinggi dari sepanjang tahun
sebelumnya sehingga banyak buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat karangan para ahli
dan filsuf Muslim diterjemahkan kedalam bahasa Eropa, dimasa ini selain tercatat sebagai
prestasi tertinggi yang pernah diraih umat Islam, juga tercatat sebagai masa awal kemunduran umat Islam sedangkan di Barat mulai gemilang dengan kesadaran dan perhatian bangsa Barat terhadap ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku hasil karya cendikiawan.

Muslim hingga akhirnya membuat pola perubahan kiblat pengetahuan dari yang sebelumnya berkiblat kepada peradaban Islam menjadi berkiblat kepada peradaban Barat yang sampaizaman sekarang cukup terasa.

Selain itu, Islam juga hadir di tengah kerasnya peradaban Jahiliyah di Jazirah Arab
sehingga mampu merubah peradaban Jahiliyah yang ada di Jazirah Arab saat itu, maka dalam perspektif historis Islam sudah banyak memainkan peran yang signifikan dalam
perkembangan beberapa aspek peradaban dunia. Mulai dari masa kenabian sampai dengan wafatnya Rasulullah SAW perkembangan dan pemikiran peradaban Islam pun terus mengalami berbagai varian berupa metode, dan kerangka berpikir yang berbeda.

Bahkan dalam catatan sejarah, bahwa misi ekspansi umat Islam semata-mata tidak hanya untuk mengambil keuntungan materi sebanyak-banyaknya dari daerah-daerah yang telah dikuasai, melainkan mewujudkan keadilan serta ikut membangun dan memajukan peradaban yang ada, maka pemerintahan kerajaan Islam sangat terkesan toleran terhadap budaya-budaya lokal yang ada.

Maka tidak mengherankan, apabila disebutkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan umat Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai peradaban dunia, bahkan pesatnya perkembangan Islam ke Barat dan Timur membuat peradaban Islam dianggap sebagai peradaban yang paling besar pengaruhnya di dunia yang dapat dilihat dari beberapa indikator.

Beberapa indikator adalah sebagai berikut :
1. Keberadaan perpustakaan Islam dan lembaga-lembaga pendidikan/ keilmuan, yaitu
Baitul Hikmah, Masjid al-Azhar, Masjid Qarawiyyin dan sebagainya, yang mana
tempat-tempat ini merupakan pusat perkumpulan para intelektual Muslim untuk
menyelenggarakan proses pengkajian dan pengembangan ilmu dan sains.
2. Peninggalan karya intelektual Muslim, yaitu karya Ibnu Shina, Ibnu Haytam, Ibnu
Hisyam, imam Syafi‟i, imam Abu Hanifah, imam Malik bin Anas, imam ath-Thabari,
Ar-Razi, Al-Kindy, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Abu Yazid al-Busthami, Husain bin
Mansur al-Hallaj, dan masih sangat banyak rentetan nama-nama ilmuan Muslim
lainnya yang tidak memungkinkan untuk dituliskan semuanya di kolom ini.
3. Penemuan-penemuan intelektual yang dapat mengubah budaya dan tradisi umat
manusia, yaitu penemuan kertas, karpet, kalender Islam, penyebutan hari-hari, seni
arsitektur, tata perkotaan, dan perekonomian.
4. Pengaruh konsep iman, ihsan, dan takwa, yaitu keutamaan nilai-nilai iman, ihsan, dan
takwa yang merupakan kebudayaan asasi dalam Islam kemudian memanifestasi budaya
silm (tenang/ kodusif), salam (damai), salaamah dan (selamat). Dengan kata lain, dari
konsep iman melahirkan budaya amn (rasa aman) dan amanah (tanggungjawab
terhadap amanah), sedangkan dari konsep ihsan dan takwa melahirkan budaya hasanah
(keindahan) dan husn (kebaikan).

Khususnya, pada masa kepemimpinan Harun al-Rasyid dan al-Ma‟mun sangat
memperhatikan ilmu pengetahuan yang ditandai dengan penerjemahan buku-buku yang berbahasa Yunani dan Bizantium ke dalam bahasa Arab, bahkan khalifal al-Ma‟mun telah mendirikan Bait al-Hikmah yang mengkaji cabang-cabang ilmu kedokteran, fisika, geografi, astronomi, optik, sejarah, dan filsafat. Tidak hanya dibidang ilmu-ilmu umum, tetapi pada periode ini ilmu-ilmu keagamaan dalam Islam juga mulai disusun dengan rapi, maka dalam bidang penyusunan hadis dikenal nama imam Bukhari dan Muslim, bidang fikih dikenal nama imam Abu Hanifah dan imam Malik bin Anas, di bidang tafsir dikenal nama imam athThabari, bidang sejarah dikenal nama Ibnu Hisyam, bidang tasawuf terdapat nama Abu Yazidal-Busthami, Husain bin Mansur al-Hallaj dan bidang-bidang lainnya.

Perhatian terhadap ilmu pengetahuan ini, terus berlangsung hingga ke masa
kebangkitan umat Islam yang ditandai dengan bermunculannya berbagai tokoh Muslim
melakukan pembaharuan pemikiran Islam atau modernisasi dalam Islam untuk kejayaan umat Islam , salah satu tokoh pemaharu tersebut diantaranya adalah Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan Jamaluddin al-Afghani di Mesir, Sir Sayyid Ahmad Khan di India, dan lainnya. Sebenarnya ide pembaharuan itu tidak hanya terjadi di luar negeri tetapi juga termasuk diIndonesia yang dikembangkan oleh K.H. Ahmad Dahlan dari organisasi Muhammadiyah dan K.H. Hasyim Asy‟ari dari organisasi Nadhatul Ulama (NU) dengan mengembangkan qawaidul fikhiyah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here