Home Merdeka Teuku Umar, Kisah Heroik Perjuangan Dari Aceh

Teuku Umar, Kisah Heroik Perjuangan Dari Aceh

269
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Teuku Umar adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda di Aceh. Setelah meninggal, sang istri, Cut Nyak Dien melanjutkan perjuangan Teuku Umar. Teuku Umar adalah anak seorang Uleebalang (kepala daerah) bernama Teuku Achmad Mahmud.

Teuku Umar terkenal dengan taktik berperangnya yang berpura-pura bekerjasama dengan Belanda, Teuku Umar berhasil mengelabui Belanda dua kali. Pada tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam perang akibat terkena tembakan peluru.

Dilahirkan di Meulaboh Aceh Barat pada 1854, Teuku Umar adalah keturunan Teuku Achmad Mahmud dan Tjut Mohani. Teuku Umar memiliki dua orang saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki. Kakek Teuku Umar, Datuk Makdum Sati adalah keturunan Minangkabau. Pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang lain di perang Aceh.

Saat itu Teuku Umar baru menginjak usia 19 tahun. Perjuangannya berawal di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Karena jasanya, Teuku Umar diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh. Dari kecil, Teuku Umar dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan suka berkelahi.

Sifat yang keras dan pantang menyerah, melahirkan semangat juang yang besar dalam menghadapi segala persoalan. Padahal, Teuku Umar tidak pernah mendapatkan pendidikan formal. Di usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Cut Nyak Sofiah, anak Uleebalang dari Glumpang.

Istri kedua Teuku Umar adalah Cut Malighai/Meuligou, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikah dengan Cut Nyak Dien, yang saat itu menjanda. Suami Cut Nyak Dien, Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dunia pada Juni 1878 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun.

Teuku Umar terkenal dengan taktik perangnya yang tak biasa. Pada 1883, Teuku Umar menyerahkan diri kepada Belanda. Bahkan Cut Nyak Dien tidak menduga akan hal itu dan sangat bersedih dengan keputusan Teuku Umar. Teuku Umar masuk ke dinas militer Belanda bahkan dipercayai untuk menangani kasus kapal Nicero yang disita oleh penguasa Aceh.

Teuku Umar malah merampas kapal itu dari pihak dan mengembalikan kapal beserta muatannya ke pihak Aceh. Senjata-senjata milik Belanda yang telah diberikan kepada Teuku Umar kemudian dibagikan ke tentara Aceh. Untuk kedua kalinya, Teuku Umar menyerahkan dirinya.

Pada bulan Agustus 1893 Belanda bahkan mengadakan upacara untuk Teuku Umar. Dalam upacara tersebut, Teuku Umar bersumpah setia di hadapan Gubernur Belanda. Mendapat gelar Teuku Johan Pahlawan, Teuku Umar diizinkan membentuk pasukan yang beranggotakan 250 orang dengan persenjantaan lengkap.

Dalam misinya, banyak pos-pos Aceh yang berhasil Teuku Umar taklukkan. Hal itu membuat Cut Nyak Dien sangat marah kepada Teuku Umar. Beberapa kali Cut Nyak Dien mendesak Teuku Umar untuk meninggalkan Belanda. Dengan kepercayaan penuh dari Gubernur, Teuku Umar dan pasukannya ditugaskan mengamankan daerah-daerah pejuang Aceh dengan kekuatan yang besar, saat terjadi pertempuran, Belanda terdesak.

Teuku Umar menyuruh Belanda untuk keluar dari lini pertahanan yang langsung disetujui Belanda. Perang itu sebenarnya memang hanya tipuan dari Teuku Umar. Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan segenap pasukannya, 800 pucuk senjata, 23.000 butir peluru, 500kg amunisi dan uang 18.000 dolar.

Segera Teuku Umar bersatu dengan pasukan pejuang Aceh, membuat marah Gubernur Belanda. Pimpinan Pemerintah Hindia Belanda di Jakarta turut tangan dengan mendatangkan van Heutsz pada Mei 1898. Karena dikhianati Teuku Umar, Belanda geram dan mulai mengejar Teuku Umar.

Perlawanan pejuang Aceh tetap berkobar meskipun terus terdesak. Pada Februari 1899, Teuku Umar berangkat ke Meulaboh dengan niatan menyerang Belanda. Rencananya diketahui van Heutz yang mengepung Teuku Umar begitu ia tiba di pinggiran Meulaboh. Dalam pertempuran yang sengit itu, Teuku Umar tertembak dua peluru yang menembus dadanya.

Jasad Teuku Umar dapat diselamatkan pasukannya dan dikebumikan di dekat masjid Kampung Mugo. Pemerintah RI dengan SK Presiden RI No. 087/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973 menganugerahi Teuku Umar gelar Pahlawan Nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here