Home Opini Tan Malaka: The True Founding Father of Indonesia yang Terlupakan

Tan Malaka: The True Founding Father of Indonesia yang Terlupakan

172
0

Oleh Amiruddin

SejarahOne.id – Seorang pejuang kemerdekaan bernama asli Sutan Ibrahim, dikenal dengan nama semi-bangsawan yaitu Tan Malaka, yang ia dapatkan dari garis keturunan ibunya, dilahirkan di Pulau Sumatera tepatnya di Nagari Pandang Gadang, Suliki, Lima Puluh kota

Sejak kecil Tan malaka, adalah orang yang cerdas, pada tahun 1913 Tan malaka, melanjutkan pendidikanya ke Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah) dengan bantuan dana oleh engku di desanya.

Pahlawan Kemerdekaan Begitu banyak di Indonesia yang tidak bisa dilupakan, dengan sejarah yang sudah dituliskan, ataupun yang belum dituliskan, melawan penjajahan untuk dihilangkan dari Indonesia.

Untuk memberikan kecerahan masa depan yang baik. melahirkan indonesia tanpa intervensi penjajah adalah keinginan bersama dari para pejuang terdahulu, sehingga para generasi selanjutnya bisa menikmati alam dan semesta indonesia.

Meski begitu, terkadang ada seorang pahlawan nasional yang jasanya begitu besar, namun malah terlupakan salah satunya adalah Bapak Republik yaitu. Tan Malaka, namun tidak bisa dipungkiri bahwa beliau pejuang kemerdekaan yang juga sebagai orang pertama kali yang menentang antikolonialisme di Hindia Belanda.

Dalam bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925) diterbitkan sebagai konsep “Negara Indonesia” dan buku itu pula yang menjadi inspirasi bagi Soekarno, Hatta, dan Sjahrir untuk terus memperjuangkan kemerdekaan indonesia.

Sementara itu Tan Malaka sebagai seorang pejuang nasional untuk melahirkan kesejahteraan bagi para kaum buruh di Indonesia. terkesan berjuang sendiri untuk mengumpulkan massa, untuk membuat satu kesatuan, menulis buku, dan berbicara di Kongres internasional, ikut tempur langsung di lapangan dengan Belanda keluar masuk penjara itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Tan malaka, yang akhirnya menjadi buronan oleh para interpol dan kejar-kejaran sama polisi internasional.

Namun perjuangan Bapak Republik Tan Malaka, sebagai seorang pahlawan nasional itu “dibalas oleh indonesia” dengan tembakan mati oleh tentara Republik yang didirikannya sendiri (Tentara Indonesia) di Kediri 1949, yang sampai hari ini jenazahnya masih diperdebatkan.

Tan Malaka tidak ditemukan secara pasti keberadaannya, Presiden Soekarno, mencatatkan namanya sebagai pahlawan nasional pada 28 Maret 1963 melihat jasanya yang begitu besar bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Namun, pada masa Orde Baru (1966-1998) seakan-akan nama Tan Malaka tercoret dari daftar pahlawan nasional bahkan dilupakan bahwa dia pernah mengajarkan arti perjuangan bagi bangsa ini. Sampai sekarang hampir tidak pernah dibahas namanya di dalam pelajaran sejarah SD-SMA atau bisa daya katakan pahlawan yang terlupakan.

Tan Malaka diberi Julukan “Bapak Republik Indonesia” awalnya oleh Mohammad Yamin sebagian ada yang menganggap sebagai the true founding father of indonesia. Beranggapan seperti itu bukan tanpa alasan yang kuat, tapi adanya memang perlu diperlihatkan kepada masyarakat dan generasi muda yang dedikasi pada bangsa ini sudah hilang dari ingatan atau terkubur, karena orang-orang yang serakah.

Implementasi perjuangan dimulai sepulang dari belanda dengan menjadi guru bahasa melayu untuk anak anak di sumatra utara, pengalaman dari inilah hingga akhirnya Tan Malaka sadar untuk memperjuangkan hak rakyat dari bentuk kolonialisme Belanda.

Tan Malaka melihat langsung orang-orang yang bekerja dengan upah yang begitu rendah, penghasilan para kaum proletar di sumatra utara, orang tani yang ditipu karena tak mampu membaca dan tak berhitung dengan angka, diperas keringat namun dengan hasil miris, melihat perbudakan yang begitu kejam di rumah sendiri

Bermodal pengetahuan sosial politiknya yang pernah dipelajari di eropa dan membela kaumnya dan orang-orang tertindas, Tan Malaka memutuskan untuk bergabung dengan organisasi ISDV, Organisasi tersebut adalah bentukan dari para kaum buruh dan pekerja, pergerakan ISDV ini mempunyai ideologi marxisme yang pada dasarnya memperjuangkan tanah dan alat produksi petani dari monopoli tangan kolonial asing dan para pemilik modal.

ISDV sempat mengundang simpati para pemuda Islam yang tergabung dalam dalam Sarekat Islam (SI) yang dipimpin oleh Semaoen dari Surabaya dan Darsono dari Solo. Setelah keduanya tergabung akhirnya dan didominasi oleh pribumi Muslim pada tahun 1920, berubah menjadi “Perkumpulan Komunis di Hindia” (PKH).

Sementara itu dengan kesemangatan yang dimiliki oleh Tan Malaka sendiri. Memutuskan untuk pindah ke Jawa, dipercaya untuk merintis sekolah rakyat sekaligus menjadi guru dan kepala sekolah.

Selain sibuk mengajar, Tan Malaka juga ikut bergabung dengan para pekerja dan buruh supaya para kaum tertindas dibela oleh orang yang sudah terdidik. Ikut memimpin demo akhirnya diasingkan ke Belanda oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, karena dianggap sebagai pemberontak.

Kembali ke Indonesia setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945. Tan Malaka sambil menulis hingga akhirnya tertulis sebuah buku dengan judul, Madilog Sebuah buku yang sangat luar biasa menggambarkan pola berpikir manusia dengan jalan metode urat kebudayaan Indonesia pada masa itu.

Gagasan dan perjuaganya dipastikan tentang tradisi, kenegaraan, politik, dan rakyat Indonesia. Buku yang sangat memainkan peranan dialektika dan logika itu. Sangat enak dibaca oleh banyak kalangan terutama mahasiswa yang sudah sangat suka dengan perjuangan Bapak Republik tersebut.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here