Home Khasanah Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi Ulama Besar Abad Ke-19

Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi Ulama Besar Abad Ke-19

90
0

Sejarahone.id – Pada abad ke-19, di Mekkah ada ulama Indonesia yang terkenal, yakni Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi Rahimahullah. Syeh Ahmad Khatib adalah gurunya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang mendirikan Nahdatul Ulama, serta gurunya KH. Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyyah. Beliau juga gurunya Ayahnya Hamka, Abdul Karim Amrullah.

Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi bukan hanya mengajari ilmu di Mekkah tetapi membawa kegundahan. Kegundahan untuk mengusir penjajah pemecah belah bangsa. Dia selalu mendorong untuk bersatu bersatu bersatu!. Bersatu untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, Bersatu untuk membuat penjajah yang suka memecah pergi. Kemerdekaan Indonesia adalah, Karya Ulama.

Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi salah satu ulama yang menyerukan resolusi jihad di Indonesia. Kita tahu Resolusi jihad dikeluarkan oleh Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari rahimahullahu ta’ala. Kobaran semangat jihad dari Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, telah menggerakkan perjuangan dari mulai Diponogoro sampai Imam Bonjol. Keduanya adalah ulama dan pahlawan bangsa, mereka semua ahli ilmu. Mereka menyerukan jihad untuk mengusir penjajah dari nusantara.

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi pernah mengajar ulama-ulama besar Indonesia. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (selanjutnya ditulis Ahmad Khatib) dilahirkan di Sumatra Barat pada 1860. Sebelum belajar di Makkah, ia sempat mengenyam pendidikan di Kweekschool atau Sekolah Guru di Fort de Kock, Bukittinggi. Pada usia 11, barulah ia pergi ke tanah suci.

Di negeri seberang, karena baik budinya dan keluasan ilmunya, ia disayangi banyak orang termasuk seorang hartawan bernama Syekh Shaleh Kurdi, dan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Khadijah.

Ia menjadi guru bagi para penuntut ilmu dari Nusantara, di antaranya K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Syekh Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Jamil Jaho, dan lain-lain. Selain itu ia juga diangkat sebagai mufti mazhab Syafi’i di Masjidil Haram.

Infografik Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

 

 

Menurut Hamka berdasarkan catatan ayahnya, Ahmad Khatib hanya sekali pulang ke Indonesia selama beberapa bulan, setelah itu ia kembali ke Makkah sampai akhir hayatnya.

Meski ia menetap di Makkah hampir seumur hidupnya, tapi kecintaannya kepada tanah kelahiran, Minangkabau, tak pernah luntur. Dari catatan ayahnya, Hamka mengetahui jika guru ayahnya itu sangat suka jika ada yang mengiriminya rendang dan belut kering.

Namun ia selalu menolak jika diajak pulang ke Minangkabau. Sambil menggelengkan kepala dan mukanya muram, ia berkata, “biarlah saya meninggal di tanah suci ini.”

“Beliau cinta ke Minangkabau, tetapi beliau tidak suka akan adatnya yang berpusaka kepada kemenanakan,” tulis Hamka dalam Ayahku (2016).

Keluasan ilmu Ahmad Khatib sempat membuatnya di tak disukai sebagian ulama di Makkah yang menganggap orang Melayu tak cakap dalam urusan agama. Ketidaksukaan ulama-ulama ini juga menimpa Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul (ayah Hamka) hanya karena ia salah satu murid Ahmad Khatib.

“Engkau tidak usah mengaji dengan aku lagi, ilmumu sudah cukup untuk mengajar. Pada waktu yang musykil sahaja engkau datang bertanya kepadaku,” ucap Ahmad Khatib kepada Haji Rasul.

Atas perintah gurunya, Haji Rasul pun mulai mengajar di rumahnya. Dari hari ke hari jumlah murid yang mengaji kepadanya semakin banyak sehingga rumahnya tak sanggup menampung lagi. Persoalan ini ia sampaikan kepada Ahmad Khatib.

Gurunya menyuruh ia agar pindah ke Masjidil Haram. Haji Rasul pun menurut dan mulai mengajar di suatu tempat di Masjidil Haram yang bernama Bab Ibrahim, di bawah menara putih.

Saat Haji Rasul mengajar, tiba-tiba datang Muhammad Sa’id Babsil, ulama Masjidil Haram. Ia melarang Haji Rasul mengajar di masjid tersebut. Haji Rasul tentu saja kaget sebab ia melihat banyak pengajar lain yang tak dilarang.

“Guruku Syekh Ahmad Khatib, imam dan khatib dalam masjid ini yang menyuruh saya mengajar di sini. Kalau bukan beliau, mana saya berani,” kata Haji Rasul.

Mendengar perkataan itu, sang pelarang semakin marah dan mengancamnya akan dilaporkan ke polisi. Dan kemarahannya semakin menjadi-jadi saat Haji Rasul “menantangnya”.

“Kalau paduka merasa ragu membiarkan daku mengajar di masjid ini, paduka boleh menguji ilmuku dalam segala bab pelajaran agama, supaya paduka tahu kesanggupan saya,” kata Haji Rasul.

Ketegangan itu berakhir saat wakil Sa’id Babsil yang bernama Syekh Umar Junaid menengahi keduanya. Ia meredakan kemarahan sang pelarang dan menyuruh Haji Rasul pulang.

Kejadian itu ia laporkan kepada Ahmad Khatib. Tapi gurunya itu malah tertawa terbahak-bahak. Sang guru lalu bercerita bahwa ia juga saat mula-mula mengajar di Masjidil Haram mengalami hal yang sama. Pelbagai fitnah menyerangnya, bahkan orang-orang sempat melemparinya dengan batu hingga lampunya pecah.

“Engkau dilarang mengajar sebab engkau muridku. Coba engkau suka tempo hari belajar dengan dia, tentu engkau mudah sahaja mengajar,” imbuhnya.

Kedengkian itu, menurut Ahmad Khatib, karena mereka memandang rendah bangsa Melayu, dan merasa lebih tinggi dan paling berhak untuk mengajar di Masjidil Haram. Bangsa Melayu dianggap tak mengetahui apapun soal ilmu agama, apalagi mengajarkannya dalam bahasa Arab.

Mendengar penjelasan gurunya, Haji Rasul pun pamit hendak meneruskan mengajar di Masjidil Haram. Namun hal itu dilarang sang guru yang menyuruhnya untuk mengajar kembali di rumahnya. Haji Rasul menyampaikan kembali bahwa rumahnya tak mampu lagi menampung murid-murid yang terus berdatangan. Akhirnya ia disuruh mengajar di rumah kemenakan gurunya.

“Mengajarlah di dewan yang lapang di rumah kemenakanku Siti Hafsah di Berhatil Awaji, dan tak usah menyewa di sana, gratis sahaja!” ucap Ahmad Khatib.

Manuskrip Terakhir

Ahmad Khatib wafat di Makkah pada 1916. Empat bulan enam hari sebelum berpisah dengan kehidupan dunia, ia sempat merampungkan sebuah autobiografi. Ia menerangkan latar belakang penulisan manuskrip setebal lima puluh dua halaman ini.

“Murid-muridku memintaku untuk menulis sejarah hidupku dan menjelaskan karya tulisku, maka aku tuliskan kitab ini untuk menjelaskan hal itu agar mereka mengenal keadaanku, termasuk generasi sesudahnya yang ingin mengetahui sejarah hidupku, dari kawan-kawan dari Indonesia dan lainnya,” tulisnya dalam Dari Minangkabau untuk Dunia Islam: Otobiografi Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860-1916 M).

Di halaman lain saat menyampaikan nasihat—yang menurut penulis pengantar autobiografi ini ditujukan kepada anaknya—ia merasa kecewa dan sedih karena anaknya tidak konsentrasi dengan ilmu.

“Dulu aku sangat gembira dengan kehadiranmu di majelisku, tapi kini aku sedih dan kecewa karena di majelisku tidak ada lagi wajahmu.” Di bagian lain ia juga menulis, “Inilah nasihat dari lubuk hati, dan air mata terus mengalir di pipi.”/red

Sumber: Tirto.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here