Home Uncategorized Sutan Takdir Alisjahbana dan Perannya dalam Perkembangan Bahasa Indonesia

Sutan Takdir Alisjahbana dan Perannya dalam Perkembangan Bahasa Indonesia

162
0

SEJARAHONE.ID – Sutan Takdir Alisjahbana (STA) adalah pendiri dan tokoh sastra pujangga baru. Sutan Takdir juga salah seorang pendiri Universitas Nasional Jakarta. STA adalah penulis buku dan beberapa karya sastra. 

STA memiliki peran dalam perkembangan bahasa Indonesia. Dalam kedudukannya sebagai penulis ahli dan kemudian ketua Komisi Bahasa selama pendudukan Jepang, STA melakukan modernisasi Bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa.

Hari Ini di 1938 Kongres Bahasa Indonesia Pertama di Solo | Republika Online

Konggres Bahasa Indonesia Pertama, Tahun 1938 di Solo

 

STA adalah orang yang pertama kali menulis Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari segi Indonesia, yang mana masih digunakan sampai sekarang. Serta Kamus Istilah yang berisi istilah-istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang.

Setelah Kantor Bahasa tutup pada akhir Perang Dunia kedua, ia tetap mempengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia melalui majalah Pembina Bahasa yang diterbitkan dan dipimpinnya. Sebelum kemerdekaan, STA adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo.

Pada tahun 1970, STA menjadi Ketua Gerakan Pembina Bahasa Indonesia dan inisiator Konferensi Pertama Bahasa- bahasa Asia tentang “The Modernization of The Languages in Asia (29 September-1 Oktober 1967)

Mendadak Filsafat: Teringat Sutan Takdir Alisyahbana | Republika Online

STA di Usia senja

Sampai akhirnya hayatnya, STA belum mewujudkan cita-cita terbesarnya, yakni menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kawasan di Asia Tenggara. Ia kecewa, Bahasa Indonesia semakin surut perkembangannya. Padahal, bahasa itu pernah menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara.

STA kecewa, bangsa Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, sebagian Filipina, dan Indonesia yang menjadi penutur Bahasa Melayu gagal mengantarkan bahasa itu kembali menjadi bahasa pengantar kawasan.

STA Berpolitik

STA adalah anggota Partai Sosialis Indonesia. STA pernah menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante (1950-1960). Selain itu, ia menjadi anggota Société de linguistique de Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies Federation, Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976).

STA juga pernah menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (1994).

STA merupakan salah satu tokoh pembaharu Indonesia yang berpandangan liberal. Berkat pemikirannya yang cenderung pro-modernisasi sekaligus pro-Barat, STA sempat berpolemik dengan cendekiawan Indonesia lainnya. STA sangat gelisah dengan pemikiran cendekiawan Indonesia yang anti-materialisme, anti-modernisasi, dan anti-Barat. Menurutnya, bangsa Indonesia haruslah mengejar ketertinggalannya dengan mencari materi, memodernisasi pemikiran, dan belajar ilmu-ilmu Barat.

 

Karya STA sebagai penulis

Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)

Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)

Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)

Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)

Layar Terkembang (novel, 1936)

Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)

Puisi Lama (bunga rampai, 1941)

Puisi Baru (bunga rampai, 1946)

Pelangi (bunga rampai, 1946)

Pembimbing ke Filsafat (1946)

Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)

The Indonesian language and literature (1962)

Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)

Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)

Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)

Values as integrating vorces in personality, society and culture (1974)

The failure of modern linguistics (1976)

Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)

Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)

Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)

Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)

Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)

Kalah dan Menang (novel, 1978)

Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab (1982)

Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam Semesta (1982)

Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)

Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)

Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)

Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985)

Sajak-Sajak dan Renungan (1987).

Pemikiran Islam Dalam Menghadapi Globalisasi Dan Masa Depan Umat manusia (1992)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here