Home Pahlawan Sultan Nuku Muhammad Amiruddin, Pahlawan Pembebas Tidore dan Ternate

Sultan Nuku Muhammad Amiruddin, Pahlawan Pembebas Tidore dan Ternate

45
0

SEJARAHONE.ID – Tokoh yang satu ini lahir pada 1738 di Soa Siu, Maluku Utara. Ayahnya bernama Sultan Jamaluddin yang memerintah Kesultanan Tidore pada tahun 1757–1779. Sebenarnya, orangtuanya memberi nama Muhammad Amiruddin. Karena ia biasa dipanggil “Nuku”, maka akhirnya sebutan lengkapnya menjadi Nuku Muhammad Amiruddin.

Sebelum kita lanjutkan kisah hidup Sultan Nuku, mari kita lihat situasi Maluku saat itu. Di sepanjang abad 17 dan 18, di kepulauan Maluku perdagangan rempah-rempah seperti cengkih dan pala dikuasai oleh bangsa Eropa, terutama Belanda melalui VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie atau Maskapai Dagang Hindia Timur).

Keberhasilan VOC dalam menegakkan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku ditunjang oleh keunggulan mereka dalam teknologi perkapalan, senjata, dan organisasi. VOC adalah perusahaan dagang modern yang memiliki kekuatan modal yang sangat besar untuk ukuran jamannya.

Perusahaan ini juga dibekali dengan hak-hak istimewa, yaitu hak oktrooi, yang diberikan oleh negeri Belanda yang menjadikannya bagaikan negara. Penaklukkan Banda pada tahun 1621 dan dilanjutkan dengan pertempuran sengit yang berkepanjangan dalam peperangan Ambon selama paruh pertama abad 17 menandai awal dominasi VOC di Kepulauan Maluku.

Cara yang dilakukan Belanda untuk menguasai kesultanan Tidore adalah melalui tawaran kerjasama dengan ayah Nuku, yaitu Sultan Jamaluddin. Karena menolak dan dianggap membahayakan kepentingan VOC, maka Sultan Jamaluddin ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Batavia pada tahun 1779. Nuku menentang hal ini.

Secara garis keturunan, Nuku mewarisi tahta kerajaan untuk menggantikan sang ayah. Namun, Belanda terus ikut campur dalam urusan kerajaan dan menolak Nuku menjadi Sultan. Untuk menggantikan Sultan Jamaluddin, Belanda malah mengangkat Kaicil Gayjira sebagai Sultan di Tidore.

Kejadian ini pun membuat Nuku makin menentang Belanda. Terlebih lagi setelah Belanda menurunkan Sultan Kaicil Gayjira dan menunjuk putra Kaicil yang bernama Patra Alam, sebagai sultan Tidore yang baru yang mau bekerjasama dengan Belanda.

Perlawanan Nuku terhadap VOC dipicu oleh ditandatanganinya traktat tahun 1780. Dalam traktat tersebut kesultanan Tidore tidak lagi disebut sebagai sekutu VOC melainkan sebagai negeri vasal atau negeri bawahan.

Status ini menyebabkan Tidore sejak itu memiliki kedudukan yang sama dengan kesultanan Ternate yang telah diturunkan menjadi vasal sejak tahun 1683. Traktat 1780 dilihat oleh Pangeran Nuku dan para pendukungnya sebagai akhir dari periode Tidore sebagai negara merdeka.

Nuku Muhammad Amiruddin lalu menggalang kekuatan untuk melawan kompeni Belanda. Ia membangun armada Kora-kora di daerah sekitar Pulau Seram dan Papua dengan mendirikan basis pertahanan di Seram Timur.

Kemudian Belanda sekali lagi menunjukkan kesewenang-wenangannya dalam penentuan pemegang tahta kesultanan Tidore sekaligus menerapkan politik adu dombanya. Belanda mengangkat adik kandung Nuku Muhammad Amiruddin, yaitu Kamaluddin, sebagai Sultan Tidore setelah menurunkan Sultan Patra Alam.

Pada 1787, Belanda berhasil menguasai wilayah kekuasaan Nuku di Seram Utara. Namun, Nuku berhasil meloloskan diri dari serangan Belanda. Nuku membangun kekuatan baru di Pulau Gorong.

Di sana, ia menyusun strategi baru dengan menjalin kerjasama dengan Inggris. Kemudian Nuku pun memperoleh bantuan senjata dari Inggris. Nuku dengan pasukannya melanjutkan perlawanan mereka dan akhirnya berhasil mengalahkan Belanda.

Nuku tidak melancarkan perlawanannya dari wilayah pusat Tidore. Untuk menghindari penangkapan pasukan VOC, ia berkali-kali berpindah tempat antara Seram Timur, Halmahera, dan Raja Ampat. Selama pelariannya keluar dari pusat Tidore ia harus bertempur menghadapi tiga pusat kekuasaan VOC di Maluku, yaitu di Ternate, Ambon, dan Banda.

Perlawanan Nuku mendapat dukungan dari masyarakat yang ada di wilayah- wilayah pinggiran kesultanan ini. Dukungan kepada Nuku datang dari orang papua di Raja Ampat, Orang Gamrange dari Halmahera Tenggara, dan Orang Seram Timur. Sultan Nuku tercatat pada Sejarah Kerajaan Tidore sebagai Jou Barakati (Panglima Perang) ketika melawan VOC (Belanda) saat itu.

Dalam menghadapi Belanda, Sultan Nuku meniru siasat yang sering digunakan oleh Belanda sendiri, yaitu siasat devide et impera. Sultan Nuku juga menjalankan siasat pecah belah. Sultan Nuku mempengaruhi orang-orang Inggris agar mengusir orang-orang Belanda.

Setelah berhasil sultan Nuku segera menggempur orang-orang Inggris. Cara ini berhasil sehingga Pasukan Nuku semakin kuat setelah mendapat berbagai perlengkapan perang dari Inggris. Dengan peralatan perang yang semakin baik itulah pasukan Nuku menggempur dan memenangkan pertempuran melawan Belanda.

Mendapati kekalahan di berbagai medan peperangan, pemerintah kompeni Belanda mengajukan tawaran berunding dengan Nuku Muhammad Amiruddin. Belanda menawarkan kekuasaan kepada Nuku jika bersedia berunding dengan Sultan Kamaluddin.

Sultan Nuku menolak secara tegas siasat Belanda dan semakin menggiatkan serangan pasukannya terhadap pasukan Belanda yang dibantu pasukan kesultanan Tidore yag setia terhadap Sultan Kamaluddin.

Pada tahun 1796, pasukan Nuku berhasil merebut dan menguasai Pulau Banda. Setahun kemudian, mereka mampu merebut Tidore dan membuat Sultan Kamaluddin melarikan diri ke Ternate. Sepeninggal Sultan kamaluddin, rakyat Tidore secara bulat menunjuk Nuku Muhammad Amiruddin menjadi sultan Tidore dengan gelar “Sri Paduka Maha Tuan Sultan Saidul Jehad el Ma’bus Amirruddin Syah Kaicil Paparangan”.

Sultan Nuku terus menggempur kekuatan Belanda di Ternate hingga tahun 1801 Ternate dapat dibebaskan dari cengkraman Belanda. Kehebatannya sebagai panglima perang yang bukan saja berhasil menghindari musuh, tapi bahkan bisa mengalahkannya, membuatnya dijuluki Lord Of Fortune oleh Inggris.

Beberapa tahun setelah berhasil membebaskan Ternate dan Tidore, pada 14 November 1805 Nuku wafat pada usia 67 tahun. Pada 7 Agustus 1995, berdasarkan Keppres No. 071/TK/1995 pemerintah Indonesia mengukuhkan Nuku Muhammad Amiruddin sebagai pahlawan.

Untuk mengenang kepahlawanan Sultan Nuku, namanya digunakan sebagai nama salah satu kapal perang Indonesia, yaitu KRI Sultan Nuku-373. Kapal ini merupakan kapal perang TNI Angkatan Laut yang tergabung dalam Satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), yang bertugas mengamankan perairan teritorial dan yuridiksi Indonesia khususnya wilayah Timur.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here