Home Pahlawan Sultan Hasanuddin, Perlawanan Gigih Raja Gowa XVI Melawan Belanda

Sultan Hasanuddin, Perlawanan Gigih Raja Gowa XVI Melawan Belanda

258
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Beliau lahir di Gowa, Sulawesi Selatan pada 12 Januari 1631 dan wafat di Gowa Sulawesi Selatan pada 12 Juni 1670 pada usia 39 tahun.

Sosoknya yang pemberani dalam mengusir penjajah dari Sulawesi Selatan membuat Belanda menjulukinya Ayam Jantan dari Timur atau de Haav van de Oesten. Sultan Hasanuddin berusaha menyatukan semua kerajaan di sisi timur Indonesia untuk berperang melawan Belanda, yang dimulai pada 1660.

Sultan Hasanuddin bahkan berhasil menguasai dua kapal penjajah, de Walvisch dan de Leeuwin. Sultan Hasanuddin pernah menandatangani perjanjian paling terkenal selama era kolonial yaitu Perjanjian Bungaya. Perjanjian ini menandai dimulainya monopoli pasar oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda.

Sultan Hasanuddin atau yang dikenal sebagai Mallombosi adalah putra kedua dari Sultan Malikussaid, Sultan Gowa ke-15. Ibu Mallombosi bukanlah permaisuri, maka seharusnya Mallombosi tidak berhak menduduki tahta kerajaan Gowa. Saat Sultan Malikussaid meninggal dunia pada 1655, para pejabat kerajaan sepakat menobatkan Mallombosi sebagai raja.

Sejak kecil Mallombosi terkenal dengan prestasinya yang luar biasa dan sering memperlihatkan jiwa kepemimpinan. Sultan Hasanuddin juga pandai bergaul tidak hanya di lingkungan istana dan rakyat, tetapi juga orang asing yang berkunjung ke Makassar untuk berdagang.

Sultan Malikussaid ternyata memang mengarahkan Mallombosi untuk menjadi pewaris tahta kerajaan dengan mengajarkan berbagai keahlian seperti cara menjalankan pemerintahan, diplomasi dan strategi peperangan. Di usia 20 tahun, Mallombosi sudah dikirim sebagai utusan resmi kerajaan Gowa untuk menjalin kerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain. Ayahnya juga mengangkat Mallombosi sebagai panglima perang.

Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape dinobatkan menjadi Raja Gowa ke-16 dengan gelar Sultan Hasanuddin pada Nopember 1653 di usianya yang ke-22 tahun. Saat beliau menaiki tahta kerajaan, hubungan antara Gowa dengan Vereenigde Oast Jndische Compagnie (VOC) sedang memanas.

Pertentangan tersebut telah terjadi semenjak masa ayahnya menjadi raja. Gowa saat itu merupakan kerajaan besar dan menguasai lalu lintas perdagangan di wilayah Indonesia bagian timur. Bahan dagang utama ialah rempah-rempah yang berasal dari Kepulauan Maluku. VOC menganggap orang-orang Makassar dan kerajaan Gowa sebagai penghalang misi mereka menjalankan monopoli perdagangan di kawasan itu.

Gowa menganut politik bebas dalam hal perdagangan yang artinya mereka berdagang dengan pihak mana pun yang dianggap akan menguntungkan. VOC melarang orang-orang Makassar berdagang dengan musuh-musuh Belanda (VOC) seperti Portugis dan sebagainya. Keinginan VOC ditolak oleh Sultan Malikussaid.

Karena menduga sewaktu-waktu mereka harus berhadapan dengan VOC, Sultan Malikussaid menghimpun kekuatan dengan membentuk peresekutuan dengan kerajaan lain di sekitar Gowa. Sayangnya beberapa kerajaan menolak untuk bergabung seperti Wajo, Bone, Soppeng dan Bantaeng. Sultan Malikussaid bahkan memerangi Bone pada tahun 1644 karena menolak bergabung.

Sehingga ketika Hasanuddin menjadi raja, beberapa kerajaan kecil sudah bersiap untuk melepaskan diri dari kekuasaan Gowa. Arung Palakka (atau Aru Palaka) memberontak dengan dibantu oleh Raja Soppeng. Pemberontakan itu berhasil dipatahkan, tetapi Arung Palakka melarikan diri ke Buton dan mendapat perlindungan dari Sultan Buton.

Bersama dengan kurang lebih 400 orang pengikutnya, Aru Palaka kemudian berangkat ke Jakarta dan bergabung dengan VOC. Pada tahun 1662, kapal VOC de Walvish memasuki perairan Ujung Pandang (sekarang disebut Makassar) tanpa izin. Sultan Hasanuddin kemudian menyita kapal itu beserta 16 pucuk meriam. Dua tahun kemudian terjadi lagi insiden kapan VOC de Leeuwin yang kandas di Pulau Dayang-dayangan.

Sebanyak 100 orang anak buah kapal mati tenggelam dan sisanya sebanyak 162 orang ditawan oleh Gowa. Melihat sikap Hasanuddin yang keras, VOC berusaha membujuk Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker pada tahun 1665 mengutus Joan van Wesenhagen ke Gowa untuk menemui Sultan Hasanuddin. Usaha perdamaian itu gagal karena beliau merasa VOC merugikan kepentingan Gowa.

Saat Gowa menyerang Buton karena telah melindung Arung Palakka, VOC melibatkan diri sebagai sekutu. Pada tanggal 24 November, Cornelis Speelman berangkat dari Batavia (Jakarta) menuju Gowa. Speelman mengirim utusan untuk menyampaikan tuntutan VOC yang kemudian ditolak oleh Sultan Hasanuddin. Dan pada 21 Desember 1666, VOC menyatakan perang dengan Gowa. Saat itu sebagian pasukan Gowa terlibat perang di Buton.

Namun, VOC gagal karena masyarakat Gowa yang siap tempur berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Pasukan Belanda terdesak dan mundur ke Buton. Di Buton, perang besar terjadi antara pasukan Gowa melawan Buton, Belanda dan pasukan Arung Palakka. Pasukan Gowa kalah dan pemimpin mereka, Karaeng Bontomarannu bersama Datu Luwu dan Sultan Bima ditawan oleh Belanda.

Sultan Hasanuddin menarik simpati rakyat Bone dengan melepaskan tawanannya, Raja Bone, La Maddaremmeng. Namun, saat kembali ke Bone, Maddaremmeng menyerahkan kekuasaannya kepada Arung Palakka. Pertempuran besar kembali terjadi pada 7 Juli 1667. Pertempuran yang telah berlangsung selama beberapa bulan itu menimbulkan kerugian yang cukup banyak di pihak Gowa. Kekuatan mereka menjadi lemah dan banyak prajurit yang tewas. Menyadari hal itu, Sultan Hasanuddin akhirnya menerima tawaran Belanda untuk mengadakan perundingan damai.

Perjanjian Bungaya terjadi pada 18 November 1667 berisi hal-hal yang merugikan rakyat Gowa. Sultan Hasanuddin bertekad untuk mengalah dan menanti waktu terbaik untuk menyerang kembali. Sesuai siasat, Sultan Hasanuddin mulai menyiapkan pasukan dan kekuatan. Pertempuran kembali terjadi. Pasukan Gowa menggunakan peluru beracun yang menimbulkan kerugian di pihak Belanda.

Tanggal 5 Agustus 1668, Belanda kembali balas menyerang dan berhasil mendesak pasukan Gowa. Namun sebagian besar pasukan Belanda terkepung oleh pasukan Gowa. Seminggu kemudian, Belanda mencoba lagi dan berhasil merampas 27 pucuk meriam Gowa. Setelah pertempuran berhenti untuk sementara waktu, Speelman memulihkan kekuatan dan menunggu bantuan dari Jakarta.

Speelman menawarkan perundingan damai pada November 1668 yang ditolak oleh Hasanuddin. Pada April 1669, Belanda kembali memberi tawaran yang juga di tolak oleh Hasanuddin. Setelah bantuan dari Jakarta datang, Speelman kembali menyerang Gowa. Dalam perang kali ini, Sultan Hasanuddin dan keluarganya menyingkir ke Maccini Sombala.

Setelah menderita kekalahan, Sultan Hasanuddin mundur dari Benteng Somba Opu ke Benteng Kale Gowa. Speelman mencari siasat baru untuk melemahkan semangat orang-orang Gowa dengan mengumumkan amnesti pengampunan kepada rakyat yang menyerah. Beberapa pembesar kerajaan menyantakan tunduk pada Belanda. Tidak ingin mengorbankan rakyatnya lebih banyak lagi, Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari tahta kesultanan Gowa.

Sultan Hasanuddin bersumpah tidak akan sudi bekerja sama dengan penjajah Belanda. Pada 29 Juni 1669, Sultan Hasanuddin turun tahta setelah 16 tahun berperang melawan penjajah. Putranya, I Mappasomba Daeng Nguraga bergelar Sultan Amir Hamzah yang baru berumur 13 tahun ditunjuk sebagai penerus tahta kerajaan.

Karena masih sangat muda, pemerintahan dijalankan oleh Karaeng Tunananga Ripasiringanna. Sultan Hasanuddin mundur dari jabatannya sebagai Raja Gowa dan memilih menjadi pengajar agama Islam sambil tetap menanamkan rasa kebangsaan dan persatuan.

Pada Kamis, 12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin meninggal dunia dalam usia 39 tahun. Setelah meninggal diberi gelar Tumenanga Ri Balla Pangkana. Sultan Hasanuddin dimakamkan di bukit tempat pemakaman Raja-raja Gowa dalam Benteng Kale Gowa di Kampung Tamalate.

Melalui Keputusan Presiden RI No. 087/TK/tahun 1973 tanggal 6 November 1973, Sultan Hasanuddin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, untuk menghargai jasa-jasa kepahlawanannya. Selain itu Bandar Udara Internasional Makassar yang bertempat di Maros juga memakai nama Sultan Hasanuddin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here