Home Merdeka Strategi Politik Agama Penjajah Belanda, Melanggengkan Penjajahan di Indonesia

Strategi Politik Agama Penjajah Belanda, Melanggengkan Penjajahan di Indonesia

88
0

SEJARAHONE.ID – Para orientalis Belanda, seperti Snouck Hurgronje mengambil jalan strategi mengerdilkan peran umat Islam untuk melanggengkan penjajahan Belanda di Indonesia. Prof Naquib al-Attas menulis tentang potensi Islam untuk kebangkitan sebuah peradaban, selama ratusan tahun upaya tersebut dilakukan dengan berbagai usaha untuk memperkecil peran Islam, tak terkecuali di bumi Nusantara.

Sekularisasi ala Snouck Hurgronje: Islam Hanya Dijadikan "Agama Masjid" |  Sejarah, Agama, Indonesia

Snouck Hurgronje Mengupayakan Islam Hanya Menjadi “Agama Masjid”

Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Ke pulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini. Namun begitu, baik dalam tulisan Hurgronje maupun dalam tulisan Van Leur, tidak terdapat hujjah-hujjah ilmiah yang mempertahankan pandangan demikian mengenai Islam dan peranan sejarahnya. Ini ditulis Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hlm 36.

Snouck Hurgronje menyambut Pangeran Saud di Leiden University, 1936. Sumber foto: Wikimedia Commons

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan  Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, 1989), PSJ Van Koning sveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’.

Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang Muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Makkah. Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim.

Snouck dianggap kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’, bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.”

Pada 1938, M Natsir pernah menulis sebuah artikel berjudul: ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. Artikel ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Okto ber 1938, yang juga menyinggung pentingnya peran pendidikan Barat dalam menjauhkan kaum Muslim dari agamanya.

Natsir mengutip ungkapan Prof. Snouck Hurgronje, dalam bukunya Nederland ende Islam, ”Opvoeding en on der wijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here