Home Khasanah Strategi Hebat Al Fatih Berhasil Taklukan Konstantinopel

Strategi Hebat Al Fatih Berhasil Taklukan Konstantinopel

27
0

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Kehebatan strategi Al Fatih dan pasukannya berhasil menaklukan konstantinopel. Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad AL-FATIH pada tahun 1453 adalah arus besar yang merubah sejarah Islam dan sejarah dunia. Pusat dan kiblat kekuatan spiritual dan negara di sebagian belahan dunia beralih secara massif dari Barat ke Timur. Dari Nasrani ke Islam. Dari penindasan bangsa lemah ke perlindungan Daulah Islamiyah. Baca: Cikal Bakal Kemunculan Dinasti

Negara-negara muslim seakan mendapat angin segar dan energi baru untuk melawan ketertinggalan dan penindasan bangsa lain. Posisi Konstantinopel sangat strategis untuk mengendalikan jalannya misi agama dengan kekuatan tentara atas bangsa-bangsa Asia dan Afrika khususnya. Sehingga pertahanan kota benteng itu sedemikian ketat dan tangguhnya. Dengan perlindungan dan perlengkapan senjata moderen pada saat itu. Kemudian, jika akhirnya ditaklukan, sudah pasti dengan sebuah strategi luar biasa yang bukan dengan cara biasa.

Strategi hebat yang tidak biasa itu membuat para ahli sejarah yang jujur dan objektif  berdecak kagum. Strategi yang menggambarkan kecerdasan dan luasnya wawasan Al fatih. Strategi yang mewakili ketinggian iman dan semangat jihad yang membara. Strategi yang mencerminkan kreativitas dan kemampuan berpikir dan bertindak cepat dan akurat . Strategi yang menceritakan dengan gamblang  kualitas pribadi  Muhammad  Al Fatih yang sangat spesial, sebagai seorang Sultan atau Raja, sebagai seorang ayah dan suami, sebagai seorang panglima dan sebagai seorang ulama.

Sebaik-Baik Panglima

Al fatih berupaya keras memantas-mantaskan diri untuk bisa menjadi sebaik-baik panglima. Karena syarat utama dan pertama seperti yang tersurat dalam Hadits Nabi SAW untuk bisa menaklukkan KOnstantinopel adalah menjadi panglima terbaik. Dan Aal Fatih sudah paham betul bagaimana menerjemahkan panglima terbaik itu. Karena ini berasal dari Sabda NAbi SAW, bukan surat keputusan kerajaan atau wasiat orangtuanya.  Maka segala daya upaya dia lakukan untuk menjadi pribadi yang layak disebut terbaik dari kaca mata syariat, dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya.

“Sesungguhnya Allah meletakan pedang di tanganku untuk berjihad di jalan-Nya. Maka jika aku tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku melakukan kewajiban dengan pedang ini, maka sangat tidak pantas bagiku untuk mendapat gelar Al-Ghozi yang aku sandang sekarang ini. Lalu, bagaimana aku akan menemui Allah pada hari kiamat nanti..?”

“…Wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu di depan matanya,  dan jangan sampai ada di antara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaklah mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaklah mereka tidak mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya…” (pidato Al-Fatih menjelang keruntuhan Konstantinopel)

Sultan Muhammad Al Fatih membentuk pasukan tentara terbaik. Ini menjadi syarat kedua yang melekat dalam satu kalimat wasiat. Panglima yang hebat tanpa pasukan hebat hanya sia-sia. Apalagi pasukan hebat tanpa panglima hebat, hanya fatamorgana saja. Sebenarnya, dengan takluknya Konstantinopel sudah menjawab betapa hebatnya panglima dan tentara yang menaklukkannya. Karena seperti itu nubuwatnya. Dan perjalanan sejarah Daulah Turki Utsmani beberapa abad di pentas dunia, dengan menguasai wilayah yang sangat luas, itupun sudah mencerminkan kehebatan pasukan Utsmani ini.

Menurut Sejarahwan, Rede De Lusinge, dedikasi pasukan Al Fatih pada jihad, semangat untuk melakukan penaklukkan, tidak terlalu tertarik dengan pertahanan permanen (benteng). Tentara yang sangat terlatih dan disiplin tinggi, menggunakan strategi jitu dalam perang terbuka, pemimpin yang baik dan tidak menghabiskan waktunya untuk hiburan-hiburan.  (rene de lusinge, sejarawan)

Strategi Teknis Penguasaan Benteng

Al Fatih melakukan berbagai strategi dan persiapan untuk melakukan pengepungan Konstantinopel. Al-Fatih kemudian mendirikan benteng besar di pinggir Bosporus yang berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus ini dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rumi). Benteng ini dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel.

Setelah berbagai persiapan, pasukan Utsmani di bawah Al-Fatih kemudian melakukan pengepungan selama sembilan bulan. Pada 2 April 1453, Mehmet II menyatakan perang ke kota itu. Seperti dikutip dari buku berjudul Berfikir Gaya Al-Fateh karya Muhammad Syaari Abdul Rahman, serangan Konstantinopel dimulai seusai shalat Jumat pada 6 April 1453, dengan tembakan yang dilepaskan oleh meriam raksasa. Meriam ini diciptakan oleh Sultan Mehmet II dengan bantuan seorang insinyur bangsa Hungaria bernama Urban. Meriam yang mampu menembak peluru seberat antara 800 pon hingga 1.200 pon, itu ternyata berhasil merobek benteng yang selama ini amat kebal terhadap berbagai serangan.

Selain meriam, Mehmet II juga mengerahkan 140 buah kapal perang dan 320 buah perahu dengan angkatan tentara berjumlah 150 ribu orang, termasuk 12 ribu pasukan khusus Janisari yang terlatih. Upaya penaklukkan ibu kota Byzantium ini tidak mudah. Sebab setelah dua pekan serangan dilancarkan, kota itu masih mampu bertahan. Salah satu faktor kegagalan itu karena keterbatasan serangan yang dilancarkan dari darat.

Karena itulah, pada 21 April hingga 22 April, Mehmet II mengerahkan kapal perangnya agar diseret melalui Bukit Galata menuju ke Tanduk Emas (Golden Horn). Sehingga, serangan dilakukan dari laut agar lebih efektif. Dengan bantuan kayu bulat yang dihaluskan menggunakan lemak sapi, satu landasan diwujudkan guna memudahkan kapal itu diseret menaiki bukit.

Strategi ini rupanya mampu memecahkan pertahanan musuh. Namun, penaklukan belum sepenuhnya berhasil. Strategi demi strategi dilakukan. Sultan Mehmet kemudian memutuskan untuk melakukan serangan utama dan memerintahkan pasukannya beristirahat dan berpuasa sebelum serangan dilakukan.

Sang sultan tidak hentinya memberikan semangat pada bala tentaranya. Hingga pada Rabu pagi pada 29 Mei 1453, serangan dimulai dari pengerahan tentara yang kurang mahir hingga tentara yang lebih terlatih. Pasukan pemanah dan tentara janisari yang lebih terlatih juga dikerahkan. Serangan secara terencana ini akhirnya membuahkan hasil dan membawa jatuhnya Konstantinopel ke tangan kekhalifahan Turki Utsmani. Dengan penaklukkan yang dilakukan itu, kota Konstantinopel diubah namanya menjadi Istanbul.

Saat mendapatkan kemenangan itu, Sultan Mehmet II tidak serta merta mengusir masyarakat di dalamnya. Namun, ia justru memberikan pengampunan pada masyarakat di kota itu dan mereka dilindungi. Selanjutnya, Istanbul dijadikan sebagai ibu kota Daulah Utsmaniyyah pada 1457. Sultan Muhammad II memegang tampuk kekuasaan hingga ia wafat pada 886 H (1481 M).

 

Istanbul sendiri dikenal sebagai pusat dunia di masanya. Di kota itu hidup beragam masyarakat dari berbagai kebangsaan dari mulai Yunani, Armenia, Yahudi, orang-orang Latin, Arab, India, Iran dan Afrika. Pada tahun 1800an umat Islam mengalami kemunduran di beberapa bidang khususnya di sektor industri.

 

Para cendikiawan muslim menganalisa dan membuat kesimpulan akhir. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa kemunduran umat Islam adalah karena umat Islam sendiri. Sedangkan Syaikh Muhammad Abduh Rahimahullah ulama asal Mesir mengatakan bahwa kemunduran umat Islam disebabkan oleh perpecahan umat di wilayah furu’iyah (cabang-cabang agama) seperti fiqh.

 

Abdul Hamid Tsani Rahimahullah (Khalifah Utsmani terakhir) mengatakan ketertinggalan umat Islam tak lain disebabkan oleh umat Islam yang kurang meresapi nilai-nilai Islam dan kurang maksimal mengamalkan ajaran Islam. Untuk mengantisipasi kemunduran umat yang lebih parah, Khalifah Abdul Hamid Tsani membangun universitas di beberapa kota penting di Turki. Dari kebijakan tersebut beliau mengembalikan peradaban ilmu di tengah-tengah kaum muslimin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here