Home Pahlawan Sikap Rendah Hati Jenderal Soedirman Dalam Bergaul

Sikap Rendah Hati Jenderal Soedirman Dalam Bergaul

340
0

Oleh Hamzah Afifi

Sejarahone.id – Sejak kecil Jenderal Soedirman di mata kawan-kawannya dinilai memiliki sifat yang baik dalam bergaul dan juga beradaptasi dengan lingkungan dimana ia berada. Ia tidak pernah memilih teman dalam bergaul, semua kawan-kawannya disikapi dengan ramah dan baik. Walaupun ia dikenal sebagai anak angkat seorang ningrat tetapi ia selalu bersikap rendah hati.

Sifat yang dimiliki Jenderal Soedirman sudah tampak sejak kecil yaitu sifat egalitarian, artinya tidak membeda-bedakan, tidak ekslusif dan menganggap semua kawannya diperlakukan dengan baik. Hal inilah yang menandakan bahwa Jenderal Soedirman memiliki sifat yang demokrat terhadap semua kawan-kawannya pada waktu kecil.

Menginjak remaja sifat tersebut mulai terlihat saat ia menjadi seorang aktifis dalam kegiatan-kegiatan di sekolah maupun di masyarakat. Sebagai contoh ketika Jenderal Soedirman duduk di Sekolah HIS dimata teman-temannya sangat tekun dalam belajar dan sering mengajari teman-temannya yang belum menguasai mata pelajaran tertentu, sehingga tidak heran apabila pada waktu kecil Jenderal Soedirman dikenal sebagai “Guru Kecil”.

Begitu pula saat duduk di MULO Wiworotomo, ia banyak aktif dalam kegiatan organisasi di sekolah seperti Organisasi Ikatan Pelajar Wiworotomo. Melalui organisasi inilah Jendral Soedirman aktif dalam pertemuan-pertemuan, kesenian dan olah raga.

Karena keaktifannya itulah oleh kawan-kawannya diangkat sebagai ketua organisasi Ikatan Pelajar Wiworotomo. Dalam kegiatan tersebut ia selalu mengutamakan kerja sama dengan teman-temannya dan selalu minta pendapat dengan kawan-kawannya dalam melakukan kegiatan kesiswaan.

Dalam masyarakat, Jenderal Soedirman juga aktif berperan dalam melakukan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti gotong royong dan mengkoordinir kawan-kawan sekampung dalam membantu setiap keluarga yang punya kerja seperti acara perkawinan, kematian dan kegiatan olah raga sepak bola. Berkat ketekunan, kedisiplinan, keramahan dan perhatian kepada kawan-kawannya, ia juga sering dipercaya untuk mengkoordinir kegiatan-kegiatan pemuda di kampungnya.

Saat Jenderal Soedirman menjadi Pandu Muhammadiyah (Hizbul Wathan; HW), ia sangat dikenal karena keaktifannya sebagai anggota HW, sehingga ia juga dipercaya untuk memimpin Hizbul Wathan di Banyumas dan Jawa Tengah. Kepercayaan yang diamanahkan membuktikan bahwa Jenderal Soedirman memiliki sifat yang demokratis, karena kepemimpinannya dapat diterima oleh para anggota HW dari tingkat Banyumas sampai Jawa Tengah.

Menurut Jenderal Soedirman sendiri Hizbul Wathan sudah dianggap sebagai wadah untuk membina diri baik secara mental dan fisik untuk mendewasakan sikap-sikap dirinya dalam menjalani kehidupan. Dari Hizbul Wathan inilah yang kemudian menjadi dasar bekal untuk membela negara dan bangsa Indonesia.

Sewaktu menjadi guru di HIS Muhammadiyah, sifat demokratisnya nampak pada waktu kegiatan belajar mengajar di depan para siswanya. Dalam memberikan materi pelajaran tidak monoton, tetapi divariasikan dengan tanya jawab dengan murid.

Bahkan ia sering menciptakan kelas itu hidup dengan memberi kesempatan kepada para siswanya untuk menyampaikan pendapatnya mengenai materi pelajaran yang disampaikan. Hal inilah yang menjadikan Jenderal Soedirman sebagai seorang guru yang disenangi oleh para siswanya karena memiliki kemampuan dalam menyampaikan materi pelajaran dan juga sangat menguasai khususnya pengetahuan sosial.

Dimata kawan sejawat guru Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai guru yang rajin, disiplin, santun dan selalu menghargai kawan-kawan guru dan muridnya. Bahkan, ia sering dimintai pendapatnya oleh para guru lainnya mengenai persoalan dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sekolah ia selalu bekerja sama dengan guru yang lain dan juga sering meminta saran-saran dari kepala sekolah dalam menangani masalah yang dihadapi di sekolahnya.

Berkat prestasi kerajinan dan kedisiplinan sebagai seorang pendidik serta jiwa kepemimpinannya, Jenderal Soedirman terpilih sebagai Kepala Sekolah HIS Muhammadiyah Cilacap. Para dewan guru memilih Jenderal Soedirman sebagai Kepala Sekolah berdasarkan pemikirannya yang sangat baik untuk memajukan pendidikan di lingkungan Muhammadiyah.

Sebagai Kepala Sekolah Jenderal Soedirman tidak pernah otoriter, tetapi ia lebih mengedepankan musyawarah dan kerja sama. Segala persoalan diatasi dengan jalan musyawarah yang dilakukan bersama-sama dengan dewan guru. Dalam musyawarah, bila ada perbedaan antara Kepala Sekolah dan Guru, Jenderal Soedirman berusaha mencari solusinya dengan mengkaji akar persoalannya agar supaya dapat dipecahkan dengan cara saling menguntungkan.

Dalam mengambil keputusan, ia harus merenungkan secara mendalam pendapat yang disampaikan oleh dewan guru. Hal ini agar keputusan yang diambil dapat diterima oleh semua pihak. Dari penuturan rekan-rekan guru, dalam mengambil suatu keputusan Jenderal Soedirman memiliki ketepatan dan pada umumnya dapat memuaskan semua pihak. Bahkan ia juga memiliki kemampuan dan ketepatan dalam mengambil keputusan yang menguntungkan semua pihak yang sering dikagumi oleh rekan-rekan guru.

Dengan gaya kepemimpinannya tersebut mencerminkan sifat yang demokratis dan akomodatif. Dalam menjalankan tugas sebagai kepala sekolah, ia tetap berpegang pada prinsip lebih menekankan pada pendidikan persuasif. Ia tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga memberikan teladan dalam ucapan maupun tindakannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here