Home Merdeka Serangan Umum 1 Maret, Pertempuran di Yogyakarta yang Guncang Dunia

Serangan Umum 1 Maret, Pertempuran di Yogyakarta yang Guncang Dunia

51
0

SEJARAHONE.ID -Serangan Umum 1 Maret pun digelar. Selama 6 jam, pasukan TNI  berhasil menguasai Kota Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret pun disebarkan ke seluruh dunia melalui radio Republik di pegunungan.

Ada nama besar di balik peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Bertahun-tahun nama Kolonel Bambang Sugeng seolah terlupakan.

Kolonel Bambang Sugeng adalah Gubernur Militer III sekaligus Panglima Divisi III. Kolonel Bambang juga merupakan atasan Letkol Soeharto kala itu.

Ia memerintahkan jajaran di bawahnya untuk menggelar serangan serentak pada tentara Belanda di Kota Yogyakarta. Serangan tersebut harus dilakukan di siang hari.

Perintah Kolonel Bambang Sugeng tersebut diteruskan pada Komandan Wehrkreise III Letkol Soeharto. Kemudian atas bantuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Serangan Umum 1 Maret dapat dilakukan.

Dalam biografinya yang ditulis oleh Edi Hartoto dan diterbitkan Kompas, Panglima Bambang Sugeng selama pertempuran berperan mengendalikan jalannya pertempuran di seluruh Divisi III.

Alasan TNI Tak Terus Bertahan di Yogyakarta

Pasukan TNI hanya diperintahkan untuk menguasai Yogyakarta selama 6 jam. Setelah itu, pada siang harinya seluruh pasukan akan ditarik kembali ke kantong gerilya di pegunungan.

Tetapi, Bambang Sugeng tetap memerintahkan perlawanan terus dilakukan, tetapi kembali secara gerilya. Ia memiliki beberapa alasan kenapa TNI tak terus bertahan di Kota Yogyakarta.

Pertama, menurut Sugeng Bambang, hal ini dilakukan untuk mencegah balas dendam pasukan Belanda. Kedua adalah mendesak tentara Belanda agar benar-benar kebingungan.

Siasat ini efektif karena korban di pihak dapat di minimalisir. Sedangkan pasukan Van Langen di Yogyakarta jatuh morilnya.

Peran Letkol Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret tak bisa dipisahkan dalam perang untuk merebut kembali Kota Yogyakarta tersebut.

Dalam buku karya Mahpudi Cs, Soerjono yang berjudul ‘Pak Harto Untold Stories’ disebutkan bahwa Serangan Umum 1 Maret telah sangat dipersiapkan secara matang. Mahpudi Cs, Soerjono adalah salah satu staf Letkol Soeharto kala itu.

Soerjono mengaku bahwa dirinya telah ikut dengan Soeharto bergerilya di hutan-hutan sebelum peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Bahkan ia mengatakan bahwa Soeharto selalu tampil di depan saat bertempur melawan Belanda.

“Pada saat itu, Pak Harto seolah-olah memiliki kekuatan mental yang luar biasa. Boleh percaya atau tidak, tetapi Pak Harto seperti tidak mempan ditembak. Pak Harto selalu di barisan depan jika menyerang atau diserang Belanda. Saya sering diminta menempatkan posisi diri di belakang beliau,” ujar Soerjono di halaman 99 buku tersebut.

“Saya ingat kata-kata Pak Harto, kalau takut mati tidak usah ikut perang,” tambahnya.

Soerjono pun menyayangkan beberapa orang yang meragukan peranan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret tersebut. Ia berpendapat bahwa orang-orang tersebut mempersoalkan karena tak menyukai Soeharto.

“Saya sendiri merasakan keikhlasan Pak Harto pada saat perang dan terus berjuang membangun Indonesia ini. kelak generasi penerus akan melihat nilai-nilai positif yang sudah pasti di Lakukan Soeharto untuk Indonesia,” terangnya.

Salah satu sejarawan, Asvi Warman mengkritik dominasi peran Soeharto tersebut. Berdasarkan fakta-fakta yang ada, Soeharto yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel jelas tidak mungkin menginisiasi Serangan Umum 1 Maret.

Ia yakin bahwa inisiator sesungguhnya pasti Sultan Hamengkubuwono IX. Sedangkan Soeharto hanya pelaksana lapangan.

“Sejauh mana Soeharto bisa memantau siaran radio luar negeri. Ide awal pasti datang dari Sultan yang selalu memantau situasi politik luar negeri lewat radio. Sultan tahu akan ada sidang PBB. Beliau ingin ada sesuatu hal yang bisa membuktikan Republik Indonesia masih ada,” ucap Asvi pada Merdeka.com.

Selain itu, Asvi merasa bahwa peran Sultan sangat dipinggirkan.

“Peran Sultan selama Orde Baru memang sangat dipinggirkan. Padahal Sultan sangat berperan selama perang kemerdekaan. Bukan hanya saat Serangan Umum 1 Maret saja. Tapi kan selama Orde Baru ini seolah-olah Sultan tidak berperan apa-apa,” kritik Asvi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here