Home Merdeka Serangan Umum 1 Maret, Perjuangan Rakyat Indonesia Mempertahankan Kemerdekaam

Serangan Umum 1 Maret, Perjuangan Rakyat Indonesia Mempertahankan Kemerdekaam

37
0

SEJARAHONE.ID -Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 tak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa ini menjadi salah satu bukti perjuangan para pahlawan. Terdapat beberapa versi seputar Serangan Umum 1 Maret. Bahkan, penggagas Serangan Umum 1 Maret pun masih menjadi kontroversi. Meski demikian, peristiwa ini harus lah tetap diingat sebagai wujud rasa menghargai jasa para pahlawan.

Penggagas Serangan Umum 1 Maret masih menjadi kontroversi. Dalam film dan buku-buku yang beredar selama Orde Baru, disebutkan bahwa Soeharto adalah penggagas sekaligus pelaku utama Serangan Umum 1 Maret.

Namun, perlahan sejarah mulai diluruskan. Hal ini juga tertulis dalam buku ‘Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI AD’ yang diterbitkan oleh Dinas Sejarah Militer TNI AD tahun 1972. Dalam buku tersebut, dituliskan Soeharto adalah inisiator Serangan Umum 1 Maret.

Peran Soeharto

Pada 19 Desember 1948, dalam waktu singkat, Ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta direbut oleh Belanda. Soekarno dan Hatta pun diasingkan ke Sumatera. Sedangkan Soedirman dan pasukan TNI memilih masuk ke hutan dan mengorbankan perang gerilya semesta.

Pada saat itu, Letnan Kolonel Soeharto selaku Komandan Brigade X/Wehrkreise III merasa perlu melakukan serangan di siang hari untuk menunjukkan TNI masih ada.

Belanda selalu mengklaim bahwa serangan di malam hari hanya dilakukan oleh Bandit. Oleh sebab itu, serangan di siang hari dirasa perlu dilakukan oleh TNI.

Ketika akan melakukan serangan, Soeharto melapor terlebih dulu kepada Sultan. Sultan pun memberikan restu. Seolah-olah Sultan sama sekali tak memiliki andil, hanya menyetujui rencana serangan yang akan dilakukan tersebut.

Penggagas Serangan Umum 1 Maret versi Buku Takhta untuk Rakyat

Dalam sebuah buku berjudul ‘Buku Takhta untuk Rakyat’ tertulis jelas siapa penggagas Serangan Umum 1 Maret. Pada saat itu, Sultan merasa was-was dan resah dengan semangat juang TNI dan rakyat yang kian menurun.

Sultan pun mengetahui bahwa Indonesia dan Belanda akan dibicarakan di forum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) melalui siaran radio luar negeri.

Sultan pun menginginkan adanya sebuah serangan di siang hari. Meski tidak dapat mengusir Belanda dari Yogyakarta, paling tidak dapat menunjukkan jika TNI masih ada.

Kemudian Sultan mengirimkan kurit pada Panglima TNI Jenderal Soedirman. Sultan pun ingin dipertemukan dengan pemimpin pasukan Gerilya di Yogyakarta.

Pada saat itu, Soeharto adalah Komandan Wehrkreise III yang membawahi Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Soeharto pun menyanggupi permintaan Sultan tersebut.

Meski pasukan TNI beberapa kali telah mengganggu pos-pos Belanda, tetapi hal tersebut dilakukan di malam hari. Sedangkan serangan yang terkoordinasi pada siang hari, belum pernah dilakukan oleh TNI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here