Home Galeri Sepenggal Kisah, Ketika Batik Ditinggalkan Orang Jawa

Sepenggal Kisah, Ketika Batik Ditinggalkan Orang Jawa

75
0

SEJARAHONE.ID – Pada 13 Juni 1918, RM Notosuroto melangsungkan pernikahannnya di Belanda dengan mengenakan pakaian pengantin Jawa, dengan bawahan kain batik. Notosuroto menjadi salah satu mahasiswa yang mendirikan Indische Vereeniging di Belanda pada 1908, namun kemudian dia berkhianat dan memilih pro Belanda.

Mempelai wanita Notosuroto adalah gadis Belanda. Di Hindia Belanda, keberadaan menantu dari Jawa masih dianggap sebelah mata oleh orang Belanda.

Koran Djawa Tengah –yang dinyatakan pailit oleh pengadilan di Semarang pada 1935—pada Juli 1918 memuji Notosuroto dalam acara penikahan itu. Sebagai bangsawan Jawa di Eropa, Notosuroto dianggap sangat tahu menjunjung tinggi budayanya. Sementara di Jawa, orang-orang Jawa menanggalkan pakaian Jawanya, menggantikannya dengan pakaian Eropa. “Menurut kami itu terlihat konyol,” tulis Djawa Tengah.

Notosuroto menjadi salah satu mahasiswa yang mendirikan Indische Vereeniging di Belanda pada 1908 –berubah menjadi Perhimpunan Indonesia pada 1922. Pada 1924 ia keluar dari Perhimpunan Indonesia karena ia lebih memilih Hindia Belanda tetap bergabung dengan Kerajaan Belanda daripada harus merdeka seperti yang diperjuangkan Perhimpunan Indonesia.

Jauh ke belakang, semasa Achmad Djajadiningrat memasuki sekolah di Batavia, ia sudah mengenakan pakaian Eropa, baju bekas milik anak Kampschuur. “Saya tidak lagi terlihat seperti anak laki-laki Banten, tetapi lebih seperti orang Ambon atau Indo-Eropa,” tulis Achmad Djajadiningrat di buku Herenningen van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (1936).

Ia menceritakan pengalamannya mendapat cemoohan yang luar biasa setelah pindah dari sekolah yang dipimpin Kampschuur. Di Europeesche Lagere School yang dikelola Kruseman itu –sebagai sekolah yang terbaik, ia diberi nama Belanda untuk menutupi identitas bumiputranya.

Kruseman khawatir orang-orang kaya Belanda tak mau menyekolahkan anaknya karena ada bumiputra belajar di sekolahnya. Nama Belandanya Willem van Bantam. Namun ini belum mampu menyelamatkannya dari cemoohan.

Itu ia alami ketika diajak Engelenberg berkunjung ke sekolah di Bandung, di tahun 1890-an. Engelenberg adalah aspirant controleur di Cilegon yang membawa Djajadiningrat ke Batavia, menitipkannya ke Kampschuur dan Snouck Hurgronje. Setelah Kampschuur pulang ke Belanda, Hurgronje memindahkan Djajadiningrat ke sekolah Kruseman.

Ia menyapa direktur sekolah di Bandung itu dan menyodorkan tangan untuk bersalaman, seperti kebiasaan di Pandeglang meniru cara Arab. “Dia tidak menjabat tangan saya, tetapi menatap saya dengan jijik dari kepala sampai kaki, seolah berkata: ‘Ini dia, bumiputra yang membayangkan menjadi orang Eropa’,” tulis Djajadiningrat.

Ia cukup lama mengacungkan tangan mengajak salam di depan tatapan mata dari para siswa yang mengenakan pakaian bumiputra. “Itu, tentu saja, merupakan momen yang menyakitkan, bagi Tuan Engelenberg juga,” lanjutnya. Pulang dari sekolah itu, Engelenberg menasihatinya tentang tata cara Eropa

Penulis: Priyantono Oemar

Sumber: Republika Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here