Home Pahlawan Sepak Terjang H.O.S Tjokroaminoto: Pendiri Sarekat Islam

Sepak Terjang H.O.S Tjokroaminoto: Pendiri Sarekat Islam

121
0

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Pendiri sekaligus ketua pertama organisasi Sarekat Islam, Hadji Oemar Said atau H.O.S Tjokroaminoto, menjadi sosok sentral atau god father yang melahirkan para founding father Republik Indonesia. H.O.S Tjokroaminoto adalah pahlawan nasional sekaligus pemimpin abadi Sarekat Islam (SI). Tjokroaminoto memimpin SI sejak 1914 hingga wafat pada 17 Desember 1934. Di bawah Tjokroaminoto, SI sempat menjadi organisasi masa terbesar dalam sejarah pergerakan.

Tjokroaminoto juga merupakan guru bagi tokoh-tokoh yang kelak sangat berpengaruh, seperti Sukarno, Semaoen, Musso, hingga Maridjan Kartosoewirjo. Maka, tidak berlebihan jika Tjokroaminoto boleh disebut sebagai bapaknya bapak bangsa Indonesia.

Tjokroaminoto awalnya adalah anggota Sarekat Islam Surabaya yang kemudian menjadi ketua cabang. Pada 1912 atas saran Tjokroaminoto, Haji Samanhoedi mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI). Di tahun 1913, dalam Kongres SI pertama pada 25 Maret 1913 di Surakarta, Tjokroaminoto ditunjuk menjadi wakil Ketua CSI (Centraal Sarekat Islam) mendampingi Hadji Samanhoedi sebagai Ketua CSI yang berpusat di Solo. Kemudian di Tahun 1914, Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua CSI dalam kongres kedua pada 19-20 April 1914 di Yogyakarta.

Kantor pusat SI pun dipindahkan dari Surakarta ke Surabaya. Di tahun pertama kepemimpinan Tjokroaminoto, anggota resmi SI tercatat mencapai 400.000 orang. Pada awal Februari 1918, Tjokroaminoto memimpin Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) di Surabaya dan menggerakkan aksi bela Islam sebagai respons atas tulisan di majalah Djawi Hiswara yang dianggap menghina Nabi Muhammad. Tahun itu, massa SI berjumlah 450 ribu orang. Pada 1919, sebagai dampak aksi tersebut, anggota SI membengkak menjadi 2,5 juta orang.

Tjokroaminoto sangat anti komunis, pada 1923 Partai Sarekat Islam Setelah berhasil mendepak anggota SI yang terindikasi berafiliasi dengan paham kiri, Tjokroaminoto mengubah nama SI menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) yang jelas-jelas berhaluan politik. Kemudian, di tahun 1929 Partai Sarekat Islam Indonesia Dalam kongres yang digelar pada Januari 1929, diputuskan bahwa PSI berganti nama lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Tjokroaminoto kembali terpilih sebagai ketua umum untuk kesekian kalinya. Kehidupan personal hingga totalitas pergerakan Tjokroaminoto di kancah organisasi sejak tahun 1912 telah menjadi peta awal penuntun Indonesia sebagai negara berdaulat.

Jika  mengikuti garis hidupnya dari keluarga mapan, seharusnya Tjokroaminoto menjadi bupati atau minimal wedana (asisten bupati). Tapi dia memilih tidak menjadi priyayi dan menjadi rakyat biasa.

Padahal, Tjokroaminoto berdarah biru yang diwariskan dari sang ayah, Raden Mas Tjokroamiseno, seorang wedana di masa itu. Dan, kakeknya adalah Raden Mas Adipati Tjokronegoro juga pernah menjadi Bupati Ponorogo. Darah biru Tjokro itu yang memberinya kesempatan khusus yang tak dimiliki warga biasa lainnya, yakni mengenyam pendidikan khusus pemerintahan untuk calon PNS yang dibuat Belanda yakni Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang.

Usai lulus dari OSVIA, Tjokro pun sempat bekerja sebagai pegawai negeri di Ngawi, Jawa Timur, pada 1902.Sebenarnya jika pekerjaan itu diteruskan, akan membuat Tjokro bisa jadi kepala daerah, hidup berkecukupan, dan tak perlu berurusan dengan pemerintah kolonial Belanda. Namun kurang dari satu dekade bekerja, Tjokro memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Tjokro menanggalkan baju priyayinya demi menjadi proletar atau rakyat biasa.

Tjokro lantas memilih bekerja di sebuah pabrik gula di Jawa Timur, dan malam harinya ia manafaatkan untuk kursus teknisi atau montir. Di masa-masa inilah, Tjokro mulai gencar mulai menulis pemikiran-pemikiran kritisnya secara berkala di media massa dan akhirnya membesarkan organisasi Sarekat Islam sebagai wadah pergerakannya melawan kolonial.

H.O.S Tjokroaminoto sangat cerdas, serta memiliki misi Indonesia Merdeka. Hal ini yang menuntunnya  membesarkan Sarekat Islam sebagai organisasi yang amat berpengaruh sekaligus tak berani disentuh pemerintah Belanda. Tjokroamintoro berhasil menyatukan hampir semua orang Islam saat itu, baik dari kalangan abangan dan putihan, organisasi ini menjadi amat besar. Keanggotaan Sarekat Islam saat itu diperkirakan 2,6 juta orang. Berhimpunnya berbagai elemen yang ada dalam Sarekat Islam saat itu,  secara tak langsung menunjukkan Tjokro sosok yang ekletik. Tjokroaminoto  bisa mengambil hal yang baik dari semua hal yang ada, kemudian menyatukannya.

Tjokroaminoto adalah sosok yang memperjuangkan kemurnian  berdasar agama bersama Sarekat Islam. Dia  justru bisa menjadi tokoh sentral karena bisa berbaur dengan berbagai dimensi pemikiran. Ketika Sarekat Islam menggelar kongres pertama di Bandung pada 1916, dari kongres itu berkembang cabang-cabang Sarekat Islam yang otonom dan menjadi momentum penting bagi organisasi itu mulai memiliki orientasi nasionalisme.

Tjokroaminoto wafat Tanggal 17 Desember 1934. Setelah itu, PSII terpecah-belah dengan hengkangnya beberapa tokoh penting, termasuk Haji Agus Salim setelah berselisih dengan adik Tjokroaminoto, Abikoesno Tjokrosoejoso. Tjokroaminoto memang tidak sempat menikmati alam kemerdekaan. Namun, pengaruh dan sumbangsihnya bagi gagasan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri sangat besar. Presiden Sukarno atas nama pemerintah RI menetapkan H.O.S. Tjokroaminoto sebagai pahlawan nasional pada 1961.

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here