Home Merdeka Sepak Terjang Diponegoro Melawan Penjajah Sampai Titik Darah Penghabisan

Sepak Terjang Diponegoro Melawan Penjajah Sampai Titik Darah Penghabisan

69
0
SEJARAHONE.ID – Sepak terjang Pangeran Diponegoro telah mengguncang eksistensi Belanda di Pulau Jawa.  Perlawanan Diponegoro atau biasa dikenal dengan Perang Diponegoro terjadi selama lima tahun dari 1825-1830. Perang besar ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang berpusat di Pulau Jawa. Perang ini telah menimbulkan kerugian materi yang besar bagi Belanda.  Belanda rugi 25 Juta Gulden atau sekitah 300 juta Dolar US.
Perang Diponegoro (1825-1830) - Tribunnewswiki.com Mobile

Perang Diponegoro meletus akibat penindasan demi penindasan yang telah dilakukan Belanda. Belanda yang awalnya datang menyampaikan hanya bermaksud  berdagang dan ikut mengeksploitasi hasil bumi. Namun sistem eksplotasi hasil bumi sangat merugikan rakyat Jawa sebagai pemilik sumber  daya.

Sejak kedatangan Marsekal Herman Willem Daendels di Batavia, pengaruh kolonial Belanda semakin kentara di pulau Jawa khususnya Keraton Yogyakarta. Banyak pihak istana yang memihak Belanda karena keuntungan yang dijanjikannya. Setelah Sri Sultan Hamengkubuwono IV wafat, Residen Yogyakarta Hendrik Smissaert banyak mencampuri urusan kekuasaan keraton. Banyak kebijakan sepihak yang dimuluskan olehnya.

Saat itu Pangeran Diponegoro yang menjabat sebagai Wali Raja tidak tahan dengan kehadiran Belanda di Keraton Yogyakarta. Akhirnya Pangeran Diponegoro memutuskan untuk kembali ke kediamannya di Tegalrejo.
Selang berapa waktu, Belanda memasang patok-patok perbaikan jalan di sepanjang makam leluhur Pangeran Diponegoro. Ulah Belanda ini memancing kemarahan Pangeran Diponegoro dan rakyat setempat. Akhirnya Pangeran Diponegoro mengganti patok tersebut dengan tombak sebagai tanda perlawanannya terhadap Belanda, rakyat pun menyatakan perang.
Kronologi Perlawanan Diponegoro
Pangeran Diponegoro melancarkan strategi perang melawan Belanda selama lima tahun. Ia mennggunakan taktik gerilya dengan melakukan pengelabuan, serangan kilat, dan pengepungan tak terlihat.
Sedangkan belanda yang saat itu dipimpin oleh De Kock menggunakan taktik Benteng Stelsel, yaitu dengan mendirikan benteng di setiap daerah yang dikuasainya dan dihubungkan dengan jalan agar komunikasi serta pergerakan pasukan bergerak lancar.
Ternyata taktik ini membuat pasukan Diponegoro terjepit. Sehingga pada tahun 1829 Kyai Mojo sebagai pemimpin spiritual perang tertangkap. Kemudian menyusul Panglima Perang Sentot Alibasah dan Pangeran Mangkubumi yang menyerah kepada Belanda.
Pangeran Diponegoro yang turut terjepit di Magelang kemudian menyerah kepada Belanda dengan syarat anggota laskarnya dilepaskan seluruhnya. Usai menyerahkan diri, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado dan dipindahkan Kembali ke Makassar hingga wafat di Benteng Rotterdam pada 8 Januari 1855.
Berakhirnya Perang Jawa ini merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Setelah perang berakhir, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here