Home Pahlawan Semangat Juang dan Kebesaran Jiwa Jenderal Soedirman

Semangat Juang dan Kebesaran Jiwa Jenderal Soedirman

168
0

Oleh: Acep Sukmaprana

Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah salah satu dari sekian banyak tokoh pejuang 45 yang telah mendarmabaktikan jiwa raganya serta kemampuan yang dimiliki demi nilai luhur cita-cita bangsa. Perjalanan hidupnya menimbulkan kesan mendalam dalam sejarah Perang Kemerdekaan Republik Indonesia.

Karena itu suatu yang sangat bijaksana jika kita berupaya semaksimal mungkin supaya amal bakti Jenderal Soedirman dapat diabadikan dan selanjutnya di komunikasikan atau diinformasikan secara luas khususnya kepada generasi muda Indonesia.

Pengabdian dan pengorbanan Jenderal Soedirman kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merdeka dan berdaulat, sangat singkat ditinjau dari sudut sejarah. Seolah-olah ia hanya dilahirkan untuk Perang Kemerdekaan.

Tugasnya berakhir segera setelah Sejarah Bangsa Indonesia menutup periode Perang Kemerdekaan, untuk selanjutnya menghadap Tuhan Yang Maha Esa sang pencipta. Namun demikian nilai-nilai dasar perjuangan Jenderal Soedirman akan tetap hidup dan terus ada, walau ia telah meninggalkan dunia yang fana ini.

Sikap dan perbuatan Jenderal Soedirman, sebagai prajurit TNI maupun sebagai warga negara RI, tanpa disadarinya merupakan pencerminan jiwa dan semangat juang 45 yang selanjutnya disebut-sebut sebagai Nilai-nilai 45 dan Nilai-Nilai TNI 45. Semua kejadian itu tidak dibuat-buat atau pun didorong oleh ambisi pribadi. Tetapi benar-benar muncul dari hati nuraninya yang tulus ihklas.

Jenderal Soedirman baik sebagai prajurit TNI maupun sebagai warga negara RI tahu apa yang harus dicapainya. Bukanlah keharuman nama pribadi, tetapi nilai-nilai kehormatan bangsanya yang hendak dicapainya; ada need of achievement di dalam perjuangannya. Inilah yang membuat masa pengabdiannya yang sangat singkat itu menjadi kaya akan pelajaran bagi kita semua.

Jenderal Soedirman benar-benar memulai hidupnya dari bawah, setapak demi setapak sampai ke puncak dan berakhir dalam suasana yang sangat sederhana. Beban tanggung jawabnya begitu berat disandangnya dengan penuh ketulusan sampai-sampai rela dan bersedia mengorbankan jiwanya.

Kebesaran jiwanya banyak digambarkan melalui kilasan kejadian atau peristiwa serta penilaian orang lain. Contohnya, cara beliau berpesan kepada adiknya. “Meskipun kakakmu sekarang Panglima Besar, adik jangan sekali-kali menginginkan pangkat, kedudukan atau harta dari Panglima Besar. Pekerjaan dan jabatan harus diusahakan sendiri”.

Dari makna peristiwa tersebut dapat diketahui pribadi Jenderal Soedirman mengenai hubungan kekeluargaan, keihklasan perjuangan, kepemimpinan dan kehormatan negara. Di lingkungan masyarakat yang bagaimanapun keadaannya, dimana ia berada; Jenderal Soedirman termasuk orang yang rela menerima apa yang sedang dihadapinya dan menggunakan apa adanya. Beliau tidak termasuk dalam istilah populer dewasa ini, ‘orang yang lain dulu lain sekarang’.

Gambaran semangat juang dan kebesaran jiwa Jenderal Soedirman dapat pula dicermati dari uraian berikut. Jenderal Soedirman setelah menjabat sebagai pimpinan organisasi apa pun tetaplah Jenderal Soedirman yang satu itu. Sebagai pimpinan HW Muhammadiyah Wilayah Banyumas ya tetaplah Jenderal Soedirman yang satu itu.

Terpilihnya beliau sebagai Ketua Kepanduan seluruh Banyumas, ya tetap saja Jenderal Soedirman yang satu itu. Diangkat menjadi Kepala Sekolah Muhammadiyah dan menjadi menantu orang kaya, ya tetap saja Jenderal Soedirman yang satu itu. Terpilih menjadi anggota DPR (Coo Sangi In) Karisidenan dan Ketua Badan Pengumpulan Bahan Makanan, ya tetap saja Jenderal Soedirman yang satu itu.

Menduduki jabatan sebagai Daidanco (Komandan Peleton Peta) ya tetap saja Jenderal Soedirman yang satu itu. Oleh Jepang kemudian diserahi gudang beras dan gudang perlengkapan pakaian yang isinya bertumpuk tumpuk, ya tetap saja Jenderal Soedirman yang satu itu. Terpilih sebagai Kepala BKR Banyumas dan berhasil menguasai gudang senjata dan mesiu ya tetap saja Jenderal Soedirman yang satu itu.

Terpilih sebagai Kepala Tertinggi TKR dan menjadi Panglima Besar, ya tetap saja Jenderal Soedirman yang dengan sikap hidup, pribadi serta cara bergaul Jenderal Soedirman yang dibesarkan dan menjadi dewasa baik fisik maupun tingkah lakunya di Cilacap yaitu jujur, sederhana, tekun dan taat terhadap agama.

Ia juga tumbuh menjadi seorang pemeluk Islam yang taat dan konsekuen serta seorang abdi masyarakat yang tekun dan jujur. Masyarakat Cilacap sangat menaruh kepercayaan besar kepada Jenderal Soedirman, baik dari kalangan orang tua maupun dari kalangan pemudanya.

Sebagai seorang Muslim yang taat dan tekun belajar sehingga terpilih menjadi pempinan HW dan Pemuda Muhhammadiyah Banyumas, Jenderal Soedirman benar-benar memahami makna Hizbul Wathon yaitu Cinta Tanah Air. Ketika Tanah Air Indonesia terancam bahaya pendaratan Jepang, maka Jenderal Soedirman terjun dalam LBD (Luch Beschermen Diers), barisan Pengamanan dan Bahaya Udara yang diadakan oleh pemerintah kolonial Belanda, tidak untuk bekerja sama dengan Belanda tetapi semata-mata karena cinta tanah air.

Jenderal Soedirman adalah perpaduan antara ulama, seorang jenderal dan seorang demokrat. Adik kadungnya menggambarkan watak sang kakak ini sebagai Bima (Werkudara) kalau dalam pewayangan, yaitu jujur, sederhana, berkata apa adanya dan berjiwa ksatria. Dalam hal kepemimpinan, Jenderal Soedirman dapat diumpamakan seperti Kresna, yang menggambarkan miniatur kebijakan keluarga Pandawa.

Sebagai seorang pejuang kemerdekaan RI, Jenderal Soedirman dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang tangguh, dan supel terhadap rekan seperjuangan, tetapi pantang menyerah bahkan tidak mau kompromi dengan Belanda.

Mantan Wakil Presiden, Mohamad Hatta pernah menyebutkan Jendral Soedirman sebagai berikut.

1. Jenderal Soedirman menjadi kampiun dari semboyan, bahwa salah satu negara yang adab dan modern hanya ada satu tentara sebagai alat negara, oleh karena itu ia berusaha dengan segala kebijaksanaan yang ada padanya untuk menghilangkan lasykar-lasykar sebagai barisan perjuangan yang berdiri di sebelah TNI.

2. Figur Jenderal Soedirman sukar diganti.

3. Berkat usahanya itu maka kita mencapai suatu TNI yang tak mengenal pertentangan antara Peta dan KNIL.

4. Dengan meninggalnya saudara Jenderal Soedirman, aku kehiIangan seorang kawan yang setia.

5. Dengan berpulangnya Jenderal Soedirman tentara kita kehilangan seorang Bapak yang sayang pada anak-anaknya.

6. Sering orang menyangka bahwa Jenderal Soedirman adalah seorang yang sukar dikendalikan. Tetapi siapa yang mengenal dia dari dekat sebagaimana saya mengenalnya, saya mengakui bahwa Jenderal Soedirman adalah seorang yang keras hati yang suka membela penderiaannya dengan bersemangat. Tetapi apabila pemerintah telah mengambil keputusan, ia selalu taat dan menjalankan keputusan itu dengan sepenuh tenaganya.

7. Jenderal Soedirman adalah seorang sangat disiplin yang harus menjadi contoh dan teladan bagi tentara seluruhnya.

Masyarakat juga banyak menilai mengenai kebesaran jiwa dan nilai kejuangan Jenderal Soedirman. Selain itu, Jenderal Soedirman mempunyai popularitas yang luar biasa di kalangan anak buahnya. Apalagi selama masa gerilya, Jenderal Soedirman yang sudah sakit payah masih sanggup juga mengikuti anak buahnya di peperangan gerilya sehingga sakitnya yang berbahaya itu tambah parah; dengan wajah yang pucat Jenderal Soedirman seakan-akan mendapat kedudukan yang legendaris.

Dengan serba kekurangan dan kelebihannya sebagai manusia, Jenderal Soedirman telah meletakkan dasar satu tradisi yang gilang gemilang bagi para perwira dan prajurit Indonesia. Tradisi kesatria Indonesia yang dapat digunakan sebagai contoh, terutama pula bagi pemimpin yang suka menyebut dirinya pemimpin pejuang untuk rakyat. Dia telah menunjukkan keteguhan, kebesaran jiwa dan keberanianya dalam dua kali peperangan melawan penjajah Belanda.

Dengan meninggalnya Jenderal Soedirman, para prajurit kehilangan seorang Bapak yang dicintai anak-anaknya. Angkatan Perang kehilangan seorang pemimpin dan perwira yang kepemimpinannya ditaati, karena kejujurannya dan keteguhan iman. Jenderal Soedirman menjadi contoh dan teladan bagi prajurit yang berjuang.

Dalam raga yang lemah, tersimpan kekuatan yang kuat, hingga selama tujuh tahun dapat pula Jenderal Soedirman memimpin perjuangan berupa perang gerilya, sehingga Republik Indonesia yang hendak dimusnahkan oleh Belanda, dapat berdiri dan timbul dengan megahnya. Mari kita terus berjuang dengan kejujuran, keberanian, ketabahan serta keuletan yang selalu ditunjukkan oleh Jenderal Soedirman untuk kejayaan Bangsa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here