Home Khasanah Sekilas Tentang Ulama Syeh Siti Jenar

Sekilas Tentang Ulama Syeh Siti Jenar

168
0

SEJARAHONE.ID – Banyak sekali mitos, cerita karangan dan kontroversi seputar Syekh Siti Jenar yang nama aslinya Sayyid Hasan Ali al Huseini,lahir di Persia pada 1404 M. Syekh Siti Jenar memiliki julukan atau sebutan tidak kurang 16 nama,seperti Syekh Lemah Abang, Syekh Datu Abdul Jalil,Sunan Jepara dan lain-lain untuk wali yang tinggal di Caruban (Cirebon).

Syekh Siti Jenar bersama ayahnya Sayyid as Shalih berdagang dan dakwah ke Malaka sebelum akhirnya ke Caruban,Cirebon. Pada usia 20 tahun dia menemui sepupunya Sayyid Kahfi seorang Mufti di Keraton Cirebon juga seorang Mursyd tarekat Ahadiyah, untuk belajar tasauf. Kemudian belajar fiqih selama 8 tahun dengan Sunan Ampel dan 2 tahun belajar ushuludin dengan Sunan Gunung Jati. Setelah sepupunya Sayyid Kahfi tiada kemursydan tarekat Ahadiyah dipegang oleh Syekh Siti Jenar.

Dalam hal tasauf,Syekh Siti Jenar mempedomani kitab utamanya: Fushulul Hikamnya Ibnu Araby,kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al Jili,kitab Ihya Ulumuddinnya Al Ghazali. Di kalangan muridnya Syekh Siti Jenar adalah seorang Mursyd Tarekat Akmaliyah.

Dari banyak sumber cerita minimal ada 7 versi tentang kematiannya Suekh Siti Jenar. Ada 7 tempat makam tersebar di pulau Jawa yang dipercaya masyarakat sebagai makamnya Syekh Siti Jenar. Muncul banyak mitos tentang asal muasal kejadian dan rupa jasad Syekh Siti Jenar setelah wafat yang berkembang di tempat-tempat petilasannya,semuanya beda-beda. Hal ini menunjukan ada upaya sengaja atau tidak sengaja untuk mengaburkan jejak Syekh Siti Jenar dalam sejarah Islam di tanah Jawa.
Salah satu cerita yang melekat dengan Syekh Siti Jenar dan juga menjadi sumber cerita kontroversial akan kematiannya adalah tentang ajaran Manunggaling Kawula Gusti – bersatunya ruh Al Kholik dan Hamba. Pemahaman ini memang menjadi kajian di ranah tasauf yaitu ” ruh al Haaq ” yang menjadi sebab seluruh malaikat sujud kepada Adam. Karena Adam as ditiupkan ruh al Haaq oleh Allah swt itu ke dalam qolbunya. Allah berfirman:
فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

“Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.””
(QS. Sad 38: ayat 72).

Dalam Hadist Qudsi juga disebutkan Allah berfirman “Aku tidak mungkin berada di langit dan bumi Ku,tetapi Aku bisa berada di dalam Qolbu hamba Ku yang beriman”.

Para Wali Songo dalam Majelis Dakwah Wali tidak menemukan kesalahan teologi dalam ajaran ruh al Haaq atau Sasahidan oleh Syekh Siti Jenar yang juga dianut oleh Wali yg lain . Bahkan gelar Sunan Giri juga mengenakan kata ” Ana al Haaq ” seperti ajaran tasauf Al Halaj dan Ibnu Araby. Memang dalam Majelis Wali dibahas ajaran itu khususnya yang diajarkan Syekh Siti Jenar kepada murid-muridnya dengan latar belakang beragam,mulai dari masyarakat biasa hingga kalangan pejabat di pemerintahan dan keraton,akibatnya banyak memunculkan persepsi yang dapat membahayakan aqidah. Kemudian Majelis Dakwah Wali memutuskan ajaran itu tidak boleh diajarkan lagi kepada masyarakat umum atau dapat dikatakan ajaran itu “dibunuh” untuk diajarkan. Jadi bukan Syekh Siti Jenar yg dibunuh oleh Majelis Wali sebagaimana cerita yang beredar hingga hari ini. Bahkan syekh Siti Jenar itu sangat karib dengan Sunan Kali Jaga. Karena masuknya Syekh Siti Jenar menjadi Anggota Majelis Wali yang awalnya 8 lalu menjadi 9 Wali,karena Sunan Kali Jaga mengajaknya dan disetujui oleh Wali yang lain. Demikian kesaksian para pengikut Tarekat Akmaliyah.( Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo,hal,330-331).
Menurut Cak Nun (Emha Ainun Najib), menanggapi kesesatan ajaran Syekh Siti Jenar, “…sebenarnya bukan ajarannya yang sesat tapi pemikiran kita yang tidak sampai pada pemikiran tersebut karena tingkat maqom yang berbeda”.

Terlebih lagi Syekh Siti Jenar menurut penelitian Agus Sunyoto, nasabnya sampai kepada Nabi saw lewat Husein. Jadi sangat tidak mungkin para Anggota Majelis Wali yang zhuriyat Nabi dan penganut tarekat juga, serta paham dengan makna ruhi al Haaq untuk membunuh sesama zhuriyat Nabi saw.

Menurut Syekh Fadhullah Burhanpuri ulama asal India murid Syekh Siti Jenar dan pengarang kitab at Tuhfatul al Mursala atau di kalangan keraton disebut kitab Tuhfat Martabat Tujuh. Pengakuan Syekh Burhanpuri banyak fitnah ditujukan kepada Syekh Siti Jenar ( Syekh Tanah Merah) ” mulai soal asal kejadian dari cacing, jasadnya berubah menjadi anjing,ingkar syariat hingga aliran sesat hingga dijatuhi hukuman pancung oleh Majelis Dakwah Wali dan fitnah yang lainnya. Saya belajar dengannya sembilan tahun,saya melihat sendiri ia pengamal syariat sejati,bahkan ibadah sunahnya jauh lebih banyak dari orang biasa. Bibirnya tidak pernah lepas dari zikir. Wafatnya saat shalat tahajut dan baru diketahui oleh murid saat akan shalat subuh”.

Menurut ahli sejarah Islam Indonesia,Azyumardi Azra,”Penghancuran sejarah adalah upaya Belanda dalam memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dan Syiah,antara ulama Syariat dan ulama hakikat. Belanda dalam politik pecah belahnya,membagi ada tiga kelas masyarakat yaitu , Santri diidentikkan dengan Wali Songo,Priayi identik dengan Raden Fatah dan Abangan diarahkan ke Syekh Siti Jenar”.

Ingat! dari sejarahlah kita bisa bercermin mengenai siapa sebenarnya kita. Pengaburan akan sejarah cara mudah untuk menghancurkan sebuah kebanggaan dan spirit moral generasi ke depan.

Tarekat Akmaliyah

Ada beberapa penelitian tentang tarekat Akmaliyah,salah satunya oleh Ahmad Masrukin yang dimuat di Jurnal Ilmiah Tribakti Vo.24 No.1/2013 tentang Tarekat Akmaliyah di Pondok Pesantren Futuhiyah Malang. Hasil penelitian ini membuktikan tarekat Akmaliyah yang diajarkan Syekh Siti Jenar masih eksis. Tarekat Akmaliyah berkatagori ghoir al mutabaroh disebabkan ada sanad yang terputus dan bersifat lokalistik sehingga belum diberi lisensi mutabar oleh JATMAN (Jaringan Ahli Tarekat Mutabaroh An Nahdah). Sanad tarekat Akmaliyah dari Abu Bakar as Shiddiq langsung ke Syekh Siti Jenar. Mursyid utama dari tarekat Akmaliyah adalah Syekh Siti Jenar, Mursyid berikutnya adalah Sunan Kali Jaga,Mas Karebet (Joko Tingkir),Pangeran Benowo yang keturunannya banyak menjadi raja-raja Islam di Jawa seperti Sultan Agung dan juga sebagai ulama-ulama pendiri pondok pesantren. Termasuk juga Hadratus Syekh Hasyim Asyari dan Syaikuna Syekh Kholil Bangkalan mengamalkan tarekat Akmaliyah. Namun pada praktiknya sekarang amalan tarekat Akmaliyah dijalankan atau dibungkus lewat tarekat Syatariyah dan Syaziliyah. Ajaran tarekat Akmaliyah yang paling menonjol yaitu menyembunyi amal lahir yang tampak dan sebaliknya menampakan kehinaan dan perilaku puritan secara permanen dalam kehidupannyasehari hari. Sehingga tidak aneh bila timbul mitos bahwa Syekh Siti Jenar dari cacing. Sebenarnya ini gambaran kehidupan Syekh Siti Jenar menyatu dalam kehidupan orang miskin atau berlumpur. Namun dibalik ajaran yang puritan, tarekat Akmaliyah mengutamakan amal kebajikan sosial,sedekah dalam segala keadaan- longgar ataupun sempit. Dan dengan keras berikhtiar membantu,menyelamatkan, menyamankan kehidupan orang yang lemah.Inilah dasar Syekh Siti Jenar merubah sebutan kawulo yang bermakna budak menjadi masyarakat yang bermakna merdeka,setara dan memiliki harga diri.

Hal ini menunjukkan kebenaran dari hasil penelitian Prof. Agus Sunyoto sebagsi ahli sejarah perkembangab Islam di Nusantara dan budaya Jawa, terkait reformasi sosial orang Jawa di jaman Majapahit yang dipelopori para Wali Songo terutama Syekh Siti Jenar dan Sunan Kali Jaga. Dengan mengganti kata “Kawulo” atau budak yang tidak punya apa-apa menjadi sebutan “Masyarakat” menjadi orang yang memiliki hak milik dan harga diri di hadapan golongan Gusti yaitu orang di lingkar istana/keraton dari kerajaan besar Nusantara Majapahit. Kata Musyawarah Diperkenalkan oleh Syekh Siti Jenar dan Sunan Kali Jaga mengambil dari kata musyarokah yaitu orang yang bekerjasama,gotong royong dalam kehidupan bersama. Kata masyarakat tidak ditemui dalam kosa kata bahasa Jawa kuno melainkan dari bahasa Arab. Padahal sebelum selama 800 tahun Islam tidak berkembang di Nusantara,tapi setelah para Wali datang dari Campa,Persia dan kawasan Arab lainnya. Dengan analisa lapangan bahwa masyarakat hanya terbagi dua kelompok yaitu Gusti beragama hindu ini adalah elit di era raja-raja kuno hingga Majapahit dan kawulo atau budak pada kerajaan tersebut dengan agama nenek moyang -Kapiyatan. Berangkat dari analisa ini maka tersusunlah strategi dakwah dengan metode pembelaan hak dan dibangunkannya kesadaran yang terpokus pada kalangan kawulo. Hasilnya bukan saja kawulo merdeka dari segala himpitan tapi juga mendapati agama yang lebih mencerahkan. Akhirnya seluruh Jawa dan pulau-pulau yang lainnya di Nusantara mayoritas memeluk Islam.Ketika elit atau penguasa yang segelintir beragama berbeda dari kebanyakan kawulo yang terhormat dengan sebutan baru yaitu masyarakat, maka dengan mudah Majapahit yang perkasa tergantikan oleh elit-elit baru yaitu Kerajaan Islam dengan cara damai.

HAM Di Jawa Lebih Tua Dari Magna Charta.

Saya ingin me ngatakan bila dunia modern selama ini berpatokan Magna Charta (1215 M) sebagai tonggak pelaksanaan HAM pertama di dunia. Padahal dokumen perjanjian itu hanya mengatur hak kaum bangsawan atau Baron terhadap raja John yang berkuasa di Inggris,sedangkan hak-hak rakyat,pekerja dan buruh belum menjadi obyek perjanjian tersebut. Akan tetapi Syekh Siti Jenar ( 1400-1500 an M) meskipun belakangan dari sisi tahun,tapi lebih terdepan dalam memberi pondasi hak-hak rakyat berupa hak milik,hak hidup dan harkat kemanusian lainnya kepada kelas yang paling rendah yaitu golongan kawulo/ rakyat jelata/pribumi di Jawa dan Nusantara dari penguasaan kerajaan Majapahit yang merasa memiliki hak hidup para kawulo. Bahkan Deklaration of Human Right oleh PBB sebagai tonggak HAM modern baru dimulai 10 Desember 1945.

Kini kata masyarakat tidak saja sebagai entitas dan identitas sebagai sebutan lain dari kata rakyat dalam kita bernegara di zaman modern. Bahkan Kata Masyarakat yang bermakna rakyat dalam UUD 1945 adalah pemilik kedaulatan tertinggi dalam kita bernegara. Hampir semua elemen demokrasi menempatkan masyarakat (civil society) menjadikannya sebagai landasan,simbol dan tujuan perjuangan yang bersifat sosiologis dan ideologis.

Mengurai kekusutan sejarah yang sudah dimanipulasi memang tidak mudah. Tetapi akan lebih tidak mudah bila pengaburan sejarah terus dibiarkan tanpa segera dihentikan dan dikoreksi total. Semua kita berkepentingan untuk mendapatkan cermin bening yang dapat memantulkan gambar diri kita yang sebenarnya untuk menjalani kehidupan baru yang lebih menantang dengan modal kepercayaan diri yang lebih mantap dan tidak tergoyahkan. Wahai generasi kini mulailah ambil peran sebagai bagian untuk pelurusan sejarah atau minimal menghentikan laju pembengkokan sejarah para ulama kita,pejuang kita,bangsa kita dan negara kita.

  • tudis,ciputat 18.11.21

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here