Home Merdeka Sekilas tentang Sultan Hamid II Pencipta Lambang Negara Indonesia

Sekilas tentang Sultan Hamid II Pencipta Lambang Negara Indonesia

61
0
Sultan Hamid II dalam Perundingan Meja bundar

Sejarahone.id – Sultan Hamid II (Tuanku Sultan Syarif Hamid Alkadrie bin Tuanku Sultan Syarif Muhammad Alkadrie), adalah salah seorang Sultan Pontianak. Lahir di Kesultanan Pontianak, 12 Juli 1913 – mangkat di Jakarta, 30 Maret 1978.

Kesultanan Pontianak
‎كسولتانن ڤونتيانق
merupakan sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1771 di Borneo Barat, oleh Sultan Syarif Abdurrahman Ibni Alhabib Husein bin Ahmad Alkadrie, keturunan Rasulullah dari Imam Ali ar-Ridha.

Pada tanggal 17 Desember 1949, Sultan Hamid II bergabung di Kabinet RIS, sebagai Menteri Negara Zonder Portofolio.
Saat menjabat sebagai menteri negara itu pula, beliau merencanakan, merancang, dan merumuskan gambar lambang negara Indonesia.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Portofolio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan R.M. Ngabehi Poerbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah Indonesia.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku Bung Hatta Menjawab, untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara.

Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin.

Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II.
Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan Sultan Hamid II terpilih, terjadi kesepakatan mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden saat itu. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk rajawali yang menjadi Garuda Pancasila.

Presiden kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Mohammad Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya Sekitar Pancasila terbitan Departemen Pertahanan dan Keamanan, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini.
Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.

Presiden kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.

Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden, yang kemudian memerintahkan pelukis Dullah, untuk melukis kembali rancangan Sultan Hamid II tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here