Home Ekonomi Sekilas Tentang Sejarah Perikanan Pada Masa Penjajahan

Sekilas Tentang Sejarah Perikanan Pada Masa Penjajahan

53
0

SEJARAHONE.ID – Aktivitas nelayan dan perikanan Indonesia telah bergerak jauh sebelum masa penjajahan. Pepatah “Nenek moyangku adalah pelaut” adalah benar untuk masyarakat Indonesia. Luas perairan Indonesia lebih luas dari pada luas daratanya, Indonesia memiliki potensi perikanan sangat besar. Dan, aktivitas nelayan di Indonesia telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Hal ini dapat dilihat dari peningggalan alat-alat perikanan yang menjadi bukti sejarah.

 

Cerita Tempat Wisata Bersejarah di Rote Ndao | Rote Ndao

Jangkar Raksassa di Rote Ndao, Peninggalan sejarah aktivitas perikanan

 Pada masa penjajahan Belanda segala aktivitas perikanan diatur oleh pemerinatah belanda, seperti pada tahun 1916 adanya Ordonansi Perikanan Mutiara dan Bunga Karang. Belanda  mengatur perusahaan siput mutiara, kulit mutiara, teripang dan Bunga karang di perairan pantai dalam jarak tidak lebih dari 3 mil laut.

Hal ini menggambarkan bagaimana geliat usaha perikanan di Nusantara kala itu dalam mengelola hasil laut. Ordonansi perikanan untuk melindungi ikan (1920), Ordonansi penagkapan ikan pantai (1927), Ordonansi perburuan ikan paus dimana mengatur perburuan dan perlindungan ikan paus (1927), Ordonansi  pendaftaran kapal-kapal nelayan laut asing (1938), Ordonansi laut teritorial dan lingkungan maritim (1939).

Dari adanya ordonansi-ordonansi ini, tergambar bagaimana aktivitas nelayan nusantara ini kala itu. Laut Negara ini tidak pernah sepi dari aktivitas nelayan baik nelayan Indonesia ataupun nelayan asing.

Pada tahun 1985, saat pemerintahan Presiden Soeharto semua ordonansi ini tidak diberlakukan. Hal ini karena pemerintah telah mengeluarkan  UU No.9 tahun 1985 tentang perikanan. Terdapat pula ketentuan-ketentuan yang menyangkut cara pelaksanaan penegakan hukum dilaut.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa  jauh sebelum ordonansi sekitar tahun 1640 M, Nelayan Makassar menjelajah hingga Australia bagian utara (Arnhem) tujuannya adalah mencari  Teripang. Kala itu Teripang menjadi komoditas yang banyak dicari oleh bangsa China untuk dijadikan bahan obat dan kuliner, sehingga harganya pun tergolong tinggi.

Aktivitas menangkap teripang,  nelayan Makassar menjalin kerjasama dengan suku aborigin Yolngu.

Bahkan pada tahun 1800 M seiring dengan kemajuan perdagang komoditas Teripang, para nelayan Makassar mendirikan fasilitas pengolahan teripang di Australia dan orang-orang aborigin yolngu sebagai pekerjanya.

Kala itu nelayan Makassar menyebut daratan uatra Australia dengan sebutan “Marege” (Cobourg Peninsula ke Groote Eylandt) dan “Kayu Jawa” untuk perairan di Kimberley Region. Sedangkan orang aborigin Yolngu menyebut orang Makassar sebagai “Mangathara”. Geliat usaha ini mulai redup seiring dengan hadirinya koloni Inggris di Port Essington pada tahun 1824 M, dan pada akhirnya nelayan Makassar harus mengakhiri aktivitasnya di Australia pada tahun 1907 M seiring dengan adanya larangan dari pemerintah Australia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here