Home Ekonomi Sekilas Tentang Sejarah Pasar di Indonesia

Sekilas Tentang Sejarah Pasar di Indonesia

36
0
SEJARAHONE.ID – Pasar zaman dulu bergerak karena transportasi. Daerah perairan seperti sungai menjadi urat nadi yang menghubungkan para pedagang yang datang dari berbagai penjuru. Sungai juga menjadi jalur bagi orang-orang pesisir untuk datang ke pedalaman, dan sebaliknya.
Catatan JJ Rizal dan kawan-kawan dalam Menguak Pasar Tradisional Indonesia (2012), mengemukakan terdapat penemuan prasasti Turyyan dan Muncan. Dua prasasti itu menerangkan bahwa Bengawan Solo dan Brantas dulu merupakan sungai-sungai yang digunakan untuk memperlancar lalu-lintas perniagaan. Karena transportasi air menjadi yang utama, maka pasar banyak tumbuh di sekitar daerah perairan ini.
Selain lewat sungai, transportasi melalui jalur darat juga digunakan para pedagang lain yang datang menaiki gerobak yang ditarik sapi atau kuda.

Dua jalur transportasi tersebut menggambarkan bahwa pasar tak hanya dihuni penduduk yang tinggal dalam satu wilayah, tapi juga diramaikan warga yang datang dari daerah lain—sebuah perjumpaan lintas teritorial.

“[…] kapwa ta sukha manah nikang maparahu samanghulu mangalap bhanda ri hujung galuh tka rikang para puhawang para banyaga sangka ring dwipantara (semua senang hatinya, orang-orang yang berperahu ke hulu untuk mengambil barang dagangan ke Hujung Galuh, [mereka yang] datang ke sana [ialah] para nakhoda [dan] para pedagang dari pulau-pula lain),” demikian sepenggal tulisan dalam prasasti Kamalagyan (1037 M), seperti dikutip Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-Masehi (2003).

Rizal dan kawan-kawan menambahkan, ada dua pasar berbeda yang tumbuh di Jawa saat itu. Pertama, kawasan berupa lapangan yang di dalamnya terdapat bangunan-bangunan semi permanen dan biasanya disebut sebagai pasar kerajaan. Kedua, pasar yang hanya berupa lapangan tanpa bangunan dan disebut sebagai pasar desa.

Sementara komoditas yang diperniagakan tentu terbatas sesuai dengan era itu. Beberapa di antaranya yaitu beras, rempah-rempah, buah-buahan, hewan ternak, ikan, kain, peralatan rumahtangga, alat-alat pertanian, dan lain-lain.

Pasar Tradisi Jawa

Pasar dalam tradisi Jawa tak sekadar berwujud kegiatan jual-beli, tapi juga dilingkupi perlambang tentang hari-hari baik dalam menjalankan niaga. Tradisi mancapat misalnya. Tradisi ini membentuk satu desa induk yang dikelilingi empat desa lain yang terletak di empat penjuru mata angin. Dari sinilah lahir nama-nama hari pasaran Jawa yang sampai hari ini kita kenal: Legi, Pahing, Wage, Pon, dan Kliwon.

Masih dalam buku yang sama, JJ Rizal dan kawan-kawan menjelaskan bahwa Legi diartikan sebagai tempat di timur dengan unsur udara dan memancarkan aura atau sinar putih. Pahing di selatan dengan unsur api dan memancarkan sinar merah. Wage di utara dengan unsur tanah dan memancarkan sinar hitam. Sementara Pon bertempat di barat dengan unsur air dan memancarkan sinar kuning. Dan Kliwon terletak di tengah dan memancarkan sinar mancawarna.

Simbol yang didasarkan pada arah mata angin ini ada pula yang berjumlah sembilan, artinya delapan penjuru mata angin ditambah tengah sebagai pusat.

Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya 3: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris (2018), simbol yang hadir di Jawa ini kerap dianggap sebagai pengaruh dari mitologi India yang menyebut nama-nama dewa penguasa keempat dan kedelapan penjuru mata angin. Namun, imbuhnya, mancapat memegang peran pokok dalam mentalitas orang Jawa karena berfungsi sebagai sistem klasifikasi.

Dari pelbagai keterangan ini tampaklah bahwa pasar, dalam hal ini pasar di Jawa baheula, tak sekadar urusan perniagaan, tapi juga kristalisasi perlambang, bahkan menjadi narasi yang dilekatkan kepada kekuatan tertentu yang secara bergantian menguasai Jawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here