Home Ekonomi Sejarah Tambang Batubara Pertama di Indonesia

Sejarah Tambang Batubara Pertama di Indonesia

157
0
Tambang Ombilin Abad Ke-19 (sumber: wikipedia)

Oleh Hana Wulansari

Sejarahone.id – Berdasarkan penelusuran studi pustaka, pertambangan batu bara di Indonesia secara resmi untuk pertama kalinya adalah Tambang Batu Bara Ombilin. Tambang batu bara Ombilin terletak di Kota Sawahlunto, tepatnya di lembah sempit di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, Sumatra Barat, Indonesia. Letaknya sekitar 70 kilometer (43 mi) dari timur laut Kota Padang, ibu kota provinsi.

Tambang Ombilin dikenal sebagai situs tambang batu bara tertua di Asia Tenggara dan satu-satunya tambang batu bara bawah tanah di Indonesia.

Pada 6 Juli 2019, Situs Tambang Batu Bara Ombilin secara resmi dikukuhkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa “UNESCO”. Batu bara di Sawahlunto ditemukan pertama kali pada pertengahan abad ke-19 oleh Willem Hendrik de Greve (tahun 1868). Sejak saat itu, eksploitasi batu bara dilakukan diiringi dengan pembangunan infrastruktur pendukung untuk kegiatan pertambangan. Penambangan di tambang terbuka dimulai pada tahun 1892 seiring dengan rampungnya infrastruktur pendukung berupa jaringan kereta api guna mengangkut batu bara ke Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Sebelum kemerdekaan, produksi batu bara mencapai puncaknya pada tahun 1930, dengan produksi lebih dari 620.000 ton per tahun. Produksi batu bara Ombilin mampu memenuhi 90 persen kebutuhan energi Hindia Belanda.

Tambang Ombilin dan Revolusi Industri

Sejarah mencatat, bahwa Revolusi Industri yang terjadi pada Abad ke-18 menuntut peningkatan kebutuhan energi global. Batu bara menjadi salah satu energi primer di masa itu. Setelah ditemukannya mesin uap, batubara semakin banyak dimanfaatkan, diantaranya difungsikan untuk menggerakkan mesin-mesin bertenaga uap, yakni kereta api uap, kapal uap, dan beragam jenis industri membutuhkan pasokan batubara. “Sebelum penemuan minyak dan sumber bahan bakar lainnya, batubara berperan penting dalam mendukung berbagai kegiatan perekonomian,” tulis Erwiza Erman dalam buku Membaranya Batubara: Konflik Kelas dan Etnik Ombilin-Sawahlunto-Sumatera Barat 1892-1996 (2016).

Tambang batubara Ombilin merupakan situs pertambangan batubara tertua di Asia Tenggara, yang ketika itu menjadi tambang batu bara yang memiliki peranan penting. Jika dikaitkan dengan revolusi industri maka batubara Indonesia memiliki peran bagi perkembangan industri di Belanda, yakni menjadi sumber energi pada abad ke-18.

Seiring ditemukannya mesin uap, produksi batubara pun meningkat lantaran digunakan sebagai bahan bakarnya.

Batubara tidak lagi hanya digunakan dalam kegiatan sehari-hari keluarga Eropa, seperti untuk bahan bakar perapian saat musim dingin, atau untuk memasak di dapur, tapi juga sebagai bahan bakar untuk kereta api dan sebagainya. Untuk mengurangi impor, Kerajaan Belanda melancarkan berbagai ekspedisi untuk menyelidiki cadangan batubara di Hindia-Belanda atau Indonesia.

Ekspedisi eksplorasi batubara yang dilakukan Belanda berhasil menemukan potensi batubara di Pengaron, Banjar, Kalimantan Selatan pada tahun 1848. Pertambangan batu bara di Pengaron dikuasai Belanda ketika itu, nyaris seluruh hasil produksi dari Pengaron digunakan armada laut Belanda yang berupaya menundukkan Kerajaan Banjar. Namun, karena biaya transportasi mahal dan tenaga kerja lokal yang tak terlatih, tambang ini hanya mampu memproduksi tak lebih dari 80.000 ton. Kendati tambang Pengaron gagal menutup impor batubara, namun para peneliti Belanda tak menyerah. Tak berselang lama, ditemukan dan dibuka lagi lokasi tambang batubara di tempat lain di Borneo. Hingga kini, penambangan batubara di Kalimantan masih terus berlangsung.

Pemerintahan Belanda terus melakukan ekspedisi eksplorasi batubara guna mendukung energi negaranya. Akhirnya, pada 1868, geolog muda Belanda bernama Willem Hendrik de Greeve menemukan kandungan batubara di Ombilin. Laporan ke Batavia mengenai penemuan ini ini disusun pada 1871 dengan judul “Het Ombilin-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra Weskust.” Berkat temuan di Ombilin yang berisi batubara dengan kualitas jempolan itu, tambang-tambang skala kecil terus dibuka di Sawahluto.

Setelah Ombilin dibuka, pertambangan batubara di Bukit Asam, Sumatera Selatan, menyusul. Pada 1872, de Greeve melakukan eksplorasi lanjutan di Sumatera Barat. Namun nasib sial, penemu batubara di Ombilin ini tewas setelah mengalami kecelakaan di Sungai Indragiri saat melakukan penelitian. Selanjutnya, dua insinyur tambang asal Belanda, Jacobus Leonardus Cluysenaer dan Daniel David Veth, ikut serta dalam proyek pertambangan di Ombilin, sejak 1874.

Menurut Erwiza dalam bukunya, inilah yang mendasari pembangunan jalur kereta api dari lokasi eksploitasi tambang menuju pelabuhan. Perdana Menteri Kerajaan Belanda saat itu, Pieter Philip van Bosse, memberi reaksi positif atas berbagai tawaran investor yang ingin mengelola tambang di Ombilin. Namun, sebelum diputuskan, jabatan Van Bosse berakhir dan digantikan oleh Isaac Dignus Fransen van de Putte. Van de Putte ternyata tidak langsung melanjutkan program Van Bosse terkait potensi batubara di Ombilin. Menurut Erwiza, Perdana Menteri Belanda yang baru ini menginginkan agar eksplorasi dilakukan lebih dulu sebelum keputusan dilaksanakan.

Keinginan eksplorasi tersebut dilaksanakan oleh Cluysenaer yang menulis tiga laporan rinci pada 1875 dan 1878. Cluysenaer menawarkan anggaran yang lebih rasional. Untuk rel kereta yang membelah lembah barat-timur, misalnya, membutuhkan biaya sekitar 24,4 juta gulden. Setelah melalui debat panjang di parlemen Belanda, akhirnya disepakati bahwa pembangunan rel kereta api sekaligus pengembangan tambang batubara di Ombilin akan segera dilaksanakan.

Penjajah Terus Eksploitasi Batubara Ombilin

Kemudian pada 24 November 1891, Rancangan Undang-Undang (RUU) pertambangan batubara Ombilin disahkan oleh parlemen Belanda. Namun, eksploitasi batubara ini memberikan efek politik yang justru merugikan bangsa Indonesia, termasuk menguatnya kontrol dari otoritas kolonial terhadap Hindia Belanda. Bentuk kontrol ini bisa beragam, salah satunya, batubara yang diambil dari perut bumi Nusantara digunakan sebagai bahan bakar angkatan militer Belanda untuk menaklukkan banyak wilayah di Indonesia.

Pada periode 1942–1945, tambang dikendalikan oleh penjajah Jepang. Pada periode 1945–1958, tambang dikelola oleh Direktorat Pertambangan  dan pada periode 1958–1968, oleh biro perusahaan pertambangan negara. Pada tahun 1968, tambang Ombilin menjadi unit produksi Ombilin dari perusahaan pertambangan batu bara negara Bukit Asam. Produksinya pernah mencapai pada tahun 1976 dengan total 1.201.846 ton per tahun. Penambangan batu bara secara signifikan mengubah lanskap Sawahlunto yang semula pedesaan menjadi situs industri./Hana

 

 

Pada 2002, cadangan batu bara di tambang terbuka Ombilin mulai menipis. Setelah itu, hanya tambang bawah tanah yang terus beroperasi.[7] China National Technology Import-Export Corporation (CNTIC) pernah menginvestasikan $100 juta untuk tambang Ombilin.

 

Saat ini, tambang ini dimiliki oleh BUMN, yakni PT Bukit Asam Tbk.Pada 2008, tambang ini diperkirakan memiliki cadangan sekitar 90,3 juta ton batu bara pembuat kokas, di antaranya 43 juta ton bisa ditambang.[6] Tambang ini menghasilkan sekitar 500.000 ton batu bara setiap tahunnya. Pada 2019, Bukit Asam menghentikan operasinya di Ombilin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here