Home Merdeka Sejarah Singkat Berdirinya Persatuan Ummat Islam (PUI)

Sejarah Singkat Berdirinya Persatuan Ummat Islam (PUI)

1142
0

Oleh: Hamzah Afifi

SEJARAHONE.ID – Persatuan Ummat Islam atau PUI berdiri pertama kali ditandai dengan hadirnya Jam’iyah Hajatoel Qoeloeb (Hayatul Qulub), sebuah gerakan keagamaan yang dimotori oleh KH Abdul Halim di Majalengka pada 17 Juli 1911 M/20 Rajab 1329 H

Tujuannya sebagai wadah kegiatan taklim agama Islam (Madjlisoel ‘Ilmi), program pendidikan Madrasah I’anat al-Muta’allimin dan kegiatan sosial ekonomi melalui koperasi dan usaha pertanian. Melalui rapat pengurus pada Selasa 16 Mei 1916 M/13 Rajab 1334 H, Jam’iyah Hajatoel Qoeloeb diubah menjadi Jam’iyah I’anat al-Muta’allimin.

Namun, ketika diurus izinnya ke pemerintah Hindia Belanda, atas saran Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, namanya diubah menjadi Persjarikatan ‘Oelama (PO) yang akhirnya ditetapkan sebagai Hari Lahir PUI melalui besluit (Keputusan/Ketetapan) pemerintah pada Jumat 21 Desember 1917 M/6 Rabbi’ul Awwal 1336 H (Gouvernments besluit No. 43)

Lalu, besluit ini diperbarui pada Sabtu, 19 Januari 1924 M/12 Jumadil Akhir 1342 H dan pada Rabu 18 Agustus 1937 M/11 Jumadil Akhir 1356 H. Kegiatan utama PO adalah pendidikan, berupa Madrasah Muallimin yang didirikannya pada 1923 M/1342 H, dakwah, sosial ekonomi, serta dilengkapi sejumlah organisasi otonom.

Kemudian organisasi ini berubah nama menjadi Perikatan Oemmat Islam (POI) pada Senin, 15 Februari 1943 M/10 Safar 1362 H, dengan tujuan mengajak masyarakat kembali pada tuntunan Ilahi dan mengurangi pertentangan di antara umat Islam sebagai akibat politik devide et empira pemerintah Hindia Belanda.

Lalu, pada Sabtu 21 November 1931 M/11 Rajab 1350 H di Batavia Centrum (Jakarta dari tahun 1931-1934) berdiri Al-Ittihadijatoel Islamijjah/Al Ittihaddiyyatul Islamiyyah (AII) oleh KH Ahmad Sanusi dan selanjutnya berpusat di Sukabumi (1934-1952). Kemudian, namanya diubah menjadi Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) pada Selasa 01 Februari 1944 M/06 Shafar 1363 H.

Tujuannya dibentuk untuk menjawab kegundahan hati dan pemikiran para alim ulama Priangan Barat yang mendapat serangan pemikiran secara bertubi-tubi dan membabi buta dari kelompok puritan Majelis Ahli Sunnah Cimalame (MASC) Garut yang disinyalir merupakan salah satu bagian strategi Pemerintah Kolonial Belanda dalam memecah belah ummat Islam dari dalam dengan politik devide et empira.

Pada Sabtu 5 April 1952 M/9 Rajab 1371 H ditandai dengan tujuan yang mulia, yaitu menggalang persatuan di kalangan bangsa Indonesia dan untuk mengurangi pertentangan di antara umat Islam, kedua perhimpunan Perikatan Oemmat Islam (POI) dan Persatuan Oemmat Islam Indonesia (POII) mengadakan fusi di Bogor yang diprakarsai oleh Mr R. Syamsudin menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI). Kemudian dinyatakan sebagai “Hari Fusi PUI”.

Fusi kedua organisasi keagamaan dan kemasyarakatan tersebut dimungkinkan karena ketiga pendirinya merupakan tokoh dan bapak bangsa. KH Abdul Halim, KH Ahmad Sanusi dan Mr R. Syamsuddin terpilih sebagai wakil rakyat dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Mereka dianugerahi Bintang Maha Putra Utama melalui Surat Keputusan Presiden No.048/TK/Tahun 1992 tertanggal 12 Agustus 1992. Dan pada 10 November 2008, KH Abdul Halim dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia.

PUI melakukan kegiatannya di sejumlah bidang, yaitu pendidikan, sosial, kesehatan masyarakat, ekonomi dan dakwah. Bahkan kini PUI telah merintis kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Diketuai Ustadz DR KH Ahmad Heryawan, Lc, M.Si selaku Ketua Majelis Syuro dan KH Nurhasan Zaidi selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat PUI. Kedua tokoh ini adalah aset terbaik umat yang diharapkan mampu meneruskan api perjuangan para pendirinya.

Selaku Ketua Majelis Syuro PUI yang juga mantan Gubernur Jawa Barat, DR KH. Ahmad Heryawan telah mampu membawa perubahan PUI ke arah organisasi yang modern dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya.

Sedangkan sosok KH Nurhasan Zaidi selaku Ketua Umum DPP PUI, dengan kapasitas keulamaannya yang mumpuni telah membawa angin optimisme selama ini, bahwa PUI bisa lebih berkembang dan maju seiring dengan tantangan umat yang lebih banyak di masa mendatang.

Lembaga Pendidikan PUI telah memiliki ribuan madrasah dalam berbagai tingkatan: 282 Madrasah Diniyah dan Pendidikan Informal, 308 Raudlatul Athfal (TK/RA/TPA), 165 Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), 93 Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), 47 Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA), 6 Perguruan Tinggi (STAI/STIE), 1 Universitas serta 1200 Pondok Pesantren dan Majelis Taklim.

Keanggotaan PUI memiliki heteroginitas anggota yang tersebar pada daerah tingkat I (Provinsi) yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Riau, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Bali.

Pergerakan dari kader PUI adalah kunci utama bagaimana roda organisasi terus melaju ke arah kemajuan yang diharapkan. Dukungan SDM yang ada, tidak mustahil jika kader PUI pun berhak dan pantas terlibat dalam kepempinan nasional secara konstitusional. Tak ada yang mustahil, bila santri PUI siap melenggang di jalur eksekutif, legislatif dan yudikatif secara elegan dan profesional.

Seabad lebih perjuangan PUI mensyiarkan Islam dan nilai-nilainya yang dirintis oleh para pendiri dan pengembang. Doa dan harapan kepada Allah SWT, agar meridhoi dan merahmati semua amal kebaikan di Persatuan Ummat Islam (PUI). Semoga PUI semakin maju dan berkembang dalam “Berdakwah untuk Mencerdaskan menuju Masyarakat Adil dan Beradab”. Selamat Milad PUI ke-103 tahun (21 Desember 1917 – 21 Desember 2020).

“Allah tujuan pengabdian kami.

Ikhlas dasar pengabdian kami.

Ishlah jalan pengabdian kami.

Cinta lambang pengabdian kami.” (Intisab PUI)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here