Home Galeri Sejarah Penetapan 1 Suro sebagai Awal Tahun Kalender Jawa

Sejarah Penetapan 1 Suro sebagai Awal Tahun Kalender Jawa

158
0

Peringatan tahun baru Hijriyah selalu bersamaan dengan peringatan tahun baru Jawa. 1 Muharram bertepatan dengan 1 Suro. Persamaan ini bukanlah sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Akan tetapi ada peristiwa yang melatarbelakangi persamaan keduanya.

Awal Mula Penetapan Kalender Jawa

Kala itu, Sultan Agung, Raja ke-3 Kerajaan Mataram Islam memperhatikan kondisi sosial masyarakat terutama pada saat perayaan hari-hari besar. Sebagian masyarakat merayakan hari-hari besar lebih dahulu, sedangkan sebagian yang lainnya merayakan setelahnya. Hal ini terjadi karena masing-masing masyarakat mempunyai perhitungan sendiri.

Ketika Sultan Agung diangkat menjadi Raja dari Kerajaan Mataram, ia bertekad untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Mataram. Sultan Agung menginginkan agama Islam dapat diterima dan diyakini oleh masyarakat Mataram. Oleh karena itu, Sultan Agung memikirkan strategi terbaik agar Islam dapat dengan mudah diterima di kalangan masyarakat.

Selang beberapa waktu kemudian, Sultan Agung menemukan satu cara yang kemungkinan besar dapat menjadikan Islam mudah diterima masyarakat Mataram. Cara tersebut adalah menggabungkan sistem penanggalan tahun Hijriyah dengan tahun Saka. Penggabungan ini akan memudahkan masyarakat Mataram utamanya yang belum memeluk Islam untuk melakukan ibadah dan merayakan hari-hari besar Jawa sekaligus merayakan hari-hari besar Islam.

Menggabungkan Kalender Hijriyah dengan Kalender Saka

Sultan Agung menggabungan sistem penanggalan tahun Hijriyah dengan tahun Saka dengan cermat. Perhitungan yang ia lakukan ialah dengan menggunakan penanggalan Hijriyah, namun untuk tahunnya tetap menggunakan dan mengikuti tahun Saka. Meskipun tahun Sakanya sama dengan tahun Saka yang dipakai umat Hindu, akan tetapi awal tahunnya berbeda. Tahun baru Saka jatuh setelah hari raya Nyepi, sedangkan tahun baru Jawa bertepatan dengan tahun baru Hijriyah.

Sultan Agung menggabungkan sistem penanggalan tersebut pada tahun 1035 tahun Hijriyah dan bertepatan pada tahun 1547 tahun Saka. Sistem penanggalan ini kemudian dikenal dengan kalender Jawa atau Kalender Sultan Agung.

Dalam perhitungan kalender Jawa, Sultan Agung menggunakan nama-nama bulan Hijriyah dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat Mataram. Nama-nama bulan tersebut yaitu:

  1. Suro. Bulan Suro merupakan bulan pertama dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Suro karena mengambil istilah dari perayaan hari Asyuro yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.
  2. Sapar. Bulan Sapar merupakan bulan kedua dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Sapar karena mengikuti istilah “Syafar” dari kalender Hijriyah.Mulud. Bulan Mulud merupakan bulan ketiga dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Mulud karena mengambil istilah dari perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad atau Maulid Nabi Muhammad yang bertepatan pada bulan Rabi’ul Awal.
  1. Bakda Mulud. Bakda Mulud merupakan bulan keempat dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Bakda Mulud karena berada setelah bulan Mulud.
  2. Jumadil Awal. Jumadil Awal merupakan bulan kelima dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Jumadil Awal karena mengikuti istilah dari kalender Hijriyah.
  3. Jumadil Akhir. Jumadil Akhir merupakan bulan keenam dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Jumadil Akhir karena mengikuti istilah dari kalender Hijriyah.
  4. Rejeb. Rejeb merupakan bulan ketujuh dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Rejeb karena mengikuti istilah “Rajab” dari kalender Hijriyah.
  5. Ruwah. Ruwah merupakan bulan kedelapan dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Ruwah karena mengambil istilah dari “amalan roh” yang dilakukan pada saat malam Nifsu Sya’ban.
  6. Poso. Poso merupakan bulan kesembilan dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Poso karena mengambil istilah dari “ibadah puasa” yang dilakukan pada saat bulan Ramadhan.
  7. Syawal. Syawal merupakan bulan kesebelas dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Syawal karena mengikuti istilah dari kalender Hijriyah.
  8. Selo. Selo merupakan bulan kesebelas dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Selo karena berasal dari bahasa Jawa,Siloyang artinya duduk bersila. Penamaan ini dikaitkan dengan penamaan bulan Dzulqa’dah di mana bangsa Arab lebih banyak menghabiskan waktunya untuk duduk di rumah dan tidak melakukan peperangan maupun perjalanan. \
  9. Besar. Besar merupakan bulan kedua belas dalam perhitungan kalender Jawa. Dinamakan bulan Besar karena mengambil istilah dari hari raya besar umat Islam yaitu Idul Adha dan ibadah haji yang dilakukan pada saat bulan Dzulhijjah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here