Home Ekonomi Sejarah Pasang Surut Peternakan Sapi di Indonesia

Sejarah Pasang Surut Peternakan Sapi di Indonesia

71
0

Sejarahone.id – Pemeliharaan dan perkembangan sapi pedaging, mengalami pasang surut. Kenyataan tersebut dipengaruhi oleh keadaan perekonomian masyarakat Indonesia dan berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Jaman Kolonial

Pada zaman kolonial Belanda, terutama sejak berdirinya pabrik-pabrik gula sekitar tahun 1830-1835, pemeliharaan sapi telah dilakukan denan tujuan utama diambil tenaganya untuk mengolah lahan pertanian dan penarik kendaraan pengangkut debu. Sapi-sapi lokal di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang berwarna merah dan tubuhnya kecil kemudian diganti dengan sapi-sapi impor yang berwarna putih dan bertubuh. Kebijaksanaan penggantian jenis sapi India itu dikenal dengan program ongolisasi , kerana sapi-sapi yang diimpor daan keberadaan sapi-sapi lokal, akhirnyya dilakukan upaya perkawinan anatara sapi – sapi impor dan sapi-sapi lokal, sehinga kini dikenal sapi peranakan ongole (PO) di Jawa. Sementara itu, sapi sumba ongole (SO) merupakan sapi ongole yang berkembang secara murni di Pulau Sumba.

Jaman Jepang

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) tidak ada kebijakan yang mencolok terhadap upaya pembinaan usaha peternakan dari pemerintah. Bahkan, pada saat itu justru terjadi penurunan poplasi sapi sebagai akibat eksploitasi sumber pangan oleh bangsa Jepang untuk keperluan perang. Tercata 16,5 % populasi sapi di Indonesia terkuras untuk keperluan itu.

Awal Kemerdekaan

Pada awal kemerdekaan, mulai direncanakan usaha pembangunan, termasuk peternakan yang menetapkan prioritas peningkatan populasi ternak dengan tujuan memenuhi kebutuhan bahan pangan. Pada zaman Orde Lama tercatat dimulainya suatu slogan “empat sehat lima sempurna”. Namun, karena situasi politik dan kondisi perekonomian negara yang tidak memungkinkan, hampir seluruh rencana yang dibuat oleh Kasimo (1947) dan Pembangunan Nasional Semesta Berencana (1961-1969) tersebut tidak dapat dilaksanakan.

Orde Baru

Setelah Orde Baru lahir menggantikan Orde Lama, ditata kembali dasar-dasar pembangunan nasional yang dilakukan secara bertahap, disebut Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Pada masa ini, secara umum populasi sapi pedaging mengalami peningkatan yang kucup signifikan. Pada tahun 1969 populasi sapi pedaging mencapai 6,447 juta ekor, meningkatkan menjadi 11,367 juta ekor pada yahun 1991, dan pada tahun 1997 menjadi 12,552 juta ekor. Laju peningkatan populasi tertinggi terjadi pada tahun 1979-1983 , yaitu sebesar 9,62 %. Meskipun laju peningkatan populasi sudah sedemikian tinggi, permintaan dalam negeri ternyata tidak mampu terpenuhi . Padahal, sampai tahun 1978, Indonesia masih menjadi salah satu negara pengekspor daging sapi pedaging.

Peningkatan jumlah penduduk yang diikuti peningkatan penghasilan yang diikuti peningkatan penghasilan per kapita menjadikan masyarakat semakin menyadari arti gizi. hal ini membuat pergeseran pola makan masyarakat dari mengkonsumsi karbohidrat ke protein (hewani) , berupa daging, telur dan susu. Kecenderungan in diduga menjadi peyebab ketidakmampuan produsen sapi pedaging memnuhi permintaan dalam negeri. Di sisilain, kebijakan makro ekonomi yang dilakukan pemerintah pada saat itu dinilai sangat memasung pengembangan agribisnis peternakan. Kurs rupiah yang anjlok, tingkat suku bunga tinggi , pola perdagangan luar negeri yang pro-impor , seta pola industralisasi berbasis sumber daya impor secara sistematis menekan dan bisa mengancrkan sendi-sendir peternakan domestik.

Impor Sapi

Sejak dibukanya peluang impor sapi bakalan secara terbatas pada tahun 1990-an, data menunjukkan bahwa jumlah impor sapi bakalan dari luar negeri terus meningkat , dari 78.000 ekor pertahun 1994 mencapai 349.000 ekor pada tahun 1997. Badai krisis ekonomi menyebabkan angka impor sapi bakalan anjlok sampai 49.000 ekor peda tahun 1998. Tahun 200 lalu, kembali naik menjadi 296.00 ekor. POpulasi sapi pedaging pada tahun 1997 sebanyak 12,552 juta ekor, menyusust menjadi 9,826 juta ekor pada tahun 1999.

Terlihat bahwa laju peningkatan populasi ternak sapi pedaging mengalami hambatan sejak datangnya badai krisis tahun 1997. Melambungnya kurs dolar terhadap rupiah samai empat kali lo[at menyebabkan mahalnya biasa impor sapi bakalan dan daging dari luar negeri . Di sisi lain, kebutuhan penduduk akan daging sapi tidak terlalu menurun. Akibatnya,  Kebutuhan daging tersebut terpaksa dipenuhi dari ternak sapi lokal, dan tidak menutup kemungkinan terjadi pula pemotongan terhada[ sapi-sapi betina yang masih produktif.

Krisis Ekonomi

Krisi ekonomi yang melanda Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya pada tahun 1997 yang hingga kini belum tampak tanda-tanda akan berakhir, menjadi titik tolak ukur melakukan koreksi atas berbagai kebijakan yang telah ditempuh pada masa lalu. Krisis ekonomi ini bisa dimaknai sebagai sebuah bencana ekonimo, sekaligus diartikan sebagai bentuk koreksi yang dilakukan oleh pasaar akiba strategi dan kebijakan ekonomi pro-impor yang sarat subsidi. Demikian sejarah perkembangan pememliharaan sapi pedaging di Indonesia

sumber : Rukmana,drh.2009. Usaha Penggemukan Sapi Pedaging Secara Intensif.Titian Ilmu: Bandung halaman 1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here