Home Pahlawan Sejarah Mencatat Kepemimpinan Jenderal Soedirman

Sejarah Mencatat Kepemimpinan Jenderal Soedirman

101
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Jenderal Soedirman dikenal sebagai guru yang tertib, disiplin, dan bertanggung jawab. Mengingat prestasi, penampilan, wawasan, dan kepemimpinannya, maka Soedirman muda dipilih sebagai Kepala Sekolah di HIS Muhammadiyah. Beliau menjadi Kepala Sekolah yang moderat, demokratis, dan akomodatif. Inilah Soedirman muda sebagai guru yang teladan.

Beliau selalu memegang prinsip kepemimpinannya yaitu “ing ngarso sung tulandha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya dari prinsip itu adalah di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi doronangan”.

Dalam kajian sejarah, kepemimpinan Jenderal Soedirman dan Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dalam memimpin perjuangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) membawa dampak yang positif bagi perkembangan dan pertumbuhan tentara nasional pada masa-masa awal. Dalam kondisi seperti ini bakat kepemimpinan Jenderal Soedirman tampak efektif.

Menghadapi tugas penertiban organisasi suatu tentara yang masih jauh dari profesionalisme maka nonprofesionalisme fleksibel dapat mengisi profesionalisme yang kuat pada diri Oerip Soemohardjo. Selain itu, usia Soedirman saat itu yang relatif muda (29 tahun) saat terpilih menjadi Panglima Besar, merupakan suatu aset dalam menghadapi para panglima bawahannya yang rata-rata berusia muda dan bersikap emosional. Soedirman merupakan sosok yang bisa menenangkan dan menstabilkan mereka.

Dalam catatan A.H. Nasution, Jenderal Soedirman terpilih karena TKR saat itu didominasi alumni Peta, selain unsur KNIL, Heiho, dan pemuda. Di kalangan Peta, terutama beberapa di Jawa, Soedirman sangat cukup dikenal. Dua hari setelah pemilihan Jenderal Soedirman, tepatnya pada tanggal 14 November 1945, Perdana Menteri Sutan Sjahrir mengumumkan komposisi kabinet. Sjahrir menunjuk Amir Syarifuddin sebagai Menteri Pertahanan.

Panglima Besar Jenderal Sudirman merupakan sosok pejuang sejati yang tidak mengenal menyerah untuk terus berjuang melawan kekuatan asing yang berusaha menguasai kembali bumi pertiwi. Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Agresi Militer II Belanda, Ibu kota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai.

Walaupun dalam dalam kondisi sakit- sakitan karena menderita sakit paru-paru yang sangat parah, beliau tetap bergerilya memimpin pasukan melawan Agresi Militer II Belanda di Yogyakarta dengan penuh semangat dan dedikasi yang tinggi. Padahal Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan karena dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here