Home Galeri Menggetarkan, Sejarah Masjid Istiqlal Bermakna Merdeka

Menggetarkan, Sejarah Masjid Istiqlal Bermakna Merdeka

69
0

SEJARAHONE.ID – Sejarah mencatat, Masjid Istiqlal dibangun sejak kepemimpinan Soekarno (tahun 1961) dan baru diresmikan satu dekade kemudian, yakni 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Masjid Istiqlal  dibangun sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini dinamakan “Istiqlal” yang dalam bahasa Arab berarti “Merdeka”.

Dalam buku berjudul ‘Masjid Istiqlal Sebuah Monumen Kemerdekaan’, karya Soichim Salam, memaparkan bahwa Soekarno ingin Masjid Istiqlal menjadi sejarah baru bangsa Indonesia yang bisa menegakkan kemerdekaan dari penjajah. Masjid Istiqlal berdiri di tanah bekas Benteng Citadel. Soekarno memaknai bahwa lokasi masjid sebelumnya adalah Benteng Citadel, yakni benteng yang menjadi  bukti penjajahan Belanda di Indonesia, sehingga harus dikubur dengan monumen kemerdekaan, yakni Masjid Istiqlal. “Di atas bekas benteng penjajahan ini kita bangun Masjid Istiqlal yang berarti merdeka atau kemerdekaan, (itu) pertimbangan Bung Karno” tulis Solichin

Masjid Istiqlal adalah  masjid nasional negara Republik Indonesia, wikipedia menyebutkan bahwa setelah tidak lagi menjadi benteng, lokasi masjid Istiqlal adalah  bekas Taman Wilhelmina, di Timur Laut Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas), di pusat ibukota Jakarta. Masjid ini merupakan salah satu dari 10 masjid terbesar kapasitasnya di dunia yang dapat menampung lebih dari 200.000 jamaah.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Nasrani. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat.

Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Bangunan utama itu dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut Selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari 200.000 jamaah.

Berkas:Prasasti Peresmian Masjid Istiqlal tahun 1978-Pintu-As-Salaam.jpg

Peresmian Masjid Istiqlal, 2 Februari 1978 Oleh Presiden Soeharto

 

Selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta.

Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik di samping sebagian wisatawan asing yang beragama Islam. Masyarakat non-Muslim juga dapat berkunjung ke masjid ini setelah sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, meskipun bagian yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan harus didampingi pemandu.

Pada tiap hari besar Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Hijriyah, Maulid Nabi Muhammad serta Isra dan Mi’raj, Presiden Republik Indonesia selalu mengadakan kegiatan keagamaan di masjid ini yang disiarkan secara langsung melalui televisi nasional (TVRI) dan sebagian televisi swasta.

Nama ‘Istiqlal’ diambil dari bahasa Arab yang berarti merdeka. Berlokasi berseberangan dengan Gereja Katedral, Masjid Istiqlal pun menjadi simbol toleransi antaragama. Ide dan penujukkan arsitek Masjid Istiqlal dibangun atas ide dari Presiden Soekarno pada 1950-an. Lalu, pada 1954, Yayasan Masjid Istiqlal pun terbentuk demi kelancaran pembangunan masjid itu.

Berkas:Istiqlal Mosque Eid ul Fitr Jamaah 5.JPG

Masjid Istiqlal Bisa Menampung 200 Ribu Jamaah

Dalam buku berjudul ‘Masjid Istiqlal Sebuah Monumen Kemerdekaan’, Soichim Salam membeberkan, Soekarno ingin Masjid Istiqlal menjadi sejarah baru bangsa Indonesia yang bisa menegakkan kemerdekaan dari penjajah. Lokasi Masjid sebelumnya adalah Benteng Citadel, yakni benteng yang menjadi  bukti penjajahan Belanda di Indonesia, sehingga harus dikubur dengan monumen kemerdekaan, yakni Masjid Istiqlal. “Di atas bekas benteng penjajahan ini kita bangun Masjid Istiqlal yang berarti merdeka atau kemerdekaan, (itu) pertimbangan Bung Karno” tulis Solichin.

Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Istiqlal 20025716-20025717 merged.jpg

Masjid Istiqlal dalam Proses Pembangunan

Pada 1955, Presiden Soekarno mengadakan sayembara untuk mencari arsitek dari masjid ini. Dari 30 peserta, terjaringlah 22 kandidat yang kemudian mengerucut menjadi lima finalis. Pada Juli 1955, dewan juri di mana Soekarno menjadi kepala juri kemudian menetapkan Friedrich Silaban sebagai arsitek dari Masjid Istiqlal. Menariknya, Friedrich adalah seorang Kristen Protestan yang berayahkan seorang pendeta. Kaya simbol Islam dan kemerdekaan Friedrich diketahui berkeliling ke seluruh Indonesia dan melihat beberapa masjid di dunia untuk mempelajari desainnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa rancangan masjid itu merupakan asli dan tidak meniru bangunan manapun. “Arsitektur Istiqlal itu asli, tidak meniru dari mana-mana, tetapi juga tidak tahu dari mana datangnya,” kata Friedrich seperti dilansir Harian Kompas edisi 21 Februari 1978. Patokan saya dalam merancang hanyalah kaidah-kaidah arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid,” bebernya. Dalam proses perancangan masjid, Friedrich memasukkan banyak simbol yang berkaitan dengan Islam dan kemerdekaan Indonesia. Kubah masjid, misalnya, berdiameter 45 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia. Ada ayat kursi yang melingkari kubah itu. Masjid itu ditopang 12 tiang, sesuai angka dari tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal 1961. Lalu, ada empat lantai balkon dan satu lantai dasar.

Total lima lantai itu melambangkan 5 Rukun Islam, jumlah salat wajib dalam sehari, dan jumlah sila dala mPancasila. Kemudian, terdapat menara setinggi 6.666 sentimeter di bagian luar masjid. Angka itu merupakan keseluruhan jumlah ayat dalam Al Quran. Tantangan pembangunan Soekarno kemudian melakukan pemancangan tiang pertama pada 1961. Akan tetapi, butuh 17 tahun kemudian untuk Masjid Istiqlal akhirnya resmi berdiri.

Penyebab lamanya pembangunan masjid ini dikarenakan beragam gejolak politik dan ekonomi. Misalnya, minimnya dana yang dimiliki akibat krisis ekonomi pada 1960-an. Masalah lain yang menghambat pembangunan Masjid Istiqlal adalah meletusnya peristiwa G30S/PKI. Setelah sejumlah permasalahan, Masjid Istiqlal akhirnya selesai dibangun dan kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.

Renovasi Pada 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa Masjid Istiqlal direnovasi secara besar-besaran. Dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), biaya renovasi disebut sebesar Rp 475 miliar. “Setelah 42 tahun berdiri, Masjid Istiqlal kini bersolek lebih megah setelah direnovasi besar-besaran oleh Kementerian PUPR dengan biaya Rp 475 miliar. Inilah wajah baru masjid terbesar di Asia Tenggara berkapasitas 200.000 jemaah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here