Home Merdeka Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia

Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia

277
0

Oleh: Hamzah Afifi

SEJARAHONE.ID – Sejarah tidak akan pernah lepas dari kehidupan seseorang, termasuk dalam kehidupan kita. Sejarah dapat berupa pengalaman, kenangan, ataupun peristiwa yang terjadi pada masa yang telah lewat atau masa lampau. Salah satu sejarah penting yang perlu Anda ketahui adalah sejarah kemerdekaan Indonesia.

Indonesia memiliki sejarah penting yang melekat dan tidak dapat hilang begitu saja dari benak bangsa Indonesia. Bahkan sejarah menjadi mata pelajaran yang harus dipahami bagi pelajar Indonesia.

Penjajahan yang terjadi akibat kedatangan bangsa asing di masa lampau telah berhasil menciptakan sebuah sejarah dan kisah bagi rakyat Indonesia yang diingat, dikenang, dan dipelajari.

Sejarah kemerdekaan Indonesia menjadi salah satu bahan ilmu pengetahuan dengan berbagai pelajaran hidup yang perlu kita teladani, seperti sikap patriotisme, cinta tanah air, dan rela berkorban dari para pejuang yang gugur.

Meski menjadi salah satu kenangan pahit, namun dengan adanya masa penjajahan di Indonesia telah berhasil melahirkan generasi yang penuh dengan semangat perjuangan.
Peristiwa Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Sebelum meraih kemerdekaan, rakyat Indonesia dan para tokoh pejuang Indonesia telah melalui satu fase sulit dan bersusah payah melakukan perlawanan terhadap bangsa penjajah. Tidak hanya hitungan hari, namun ratusan tahun. Banyak tokoh perjuangan dan rakyat Indonesia yang gugur dalam usaha merebut kemerdekaan.

Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan menjadi salah satu sejarah kemerdekaan Indonesia yang sangat penting. Tanggal 17 Agustus 1945 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia dengan dibacakannya teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebelum peristiwa ini terjadi, para tokoh proklamator dan rakyat Indonesia telah melalui proses panjang.

Pada tanggal 6 Agustus 1945, sekutu menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima. Sehari setelah peristiwa tersebut, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sebagai langkah mempertegas keinginan dan tujuan meraih kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 9 Agustus, Sekutu menjatuhkan bom atom untuk kedua kalinya di kota Nagasaki dan berhasil memukul mundur Jepang dari Indonesia. Jepang menyerah pada Sekutu secara resmi pada tanggal 14 Agustus 1945 dan dimanfaatkan oleh para tokoh pejuang Indonesia untuk segera memproklamasikan kemerdekaannya.

Para tokoh Indonesia seperti Soekarno, Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat berangkat ke Dalat, Saigon, Vietnam untuk menemui Marsekal Terauchi. Para tokoh perjuangan kemerdekaan melakukan persiapan kemerdekaan. Para tokoh perjuangan dan rakyat Indonesia menginginkan bahwa kemerdekaan yang diraih bukan hadiah dari Jepang, namun perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, beserta Fatmawati dan Guntur (putra Soekarno) dibawa ke Rengasdengklok untuk menghindari segala macam bentuk bujukan Jepang yang dapat mempengaruhi keyakinan Soekarno-Hatta dan menggagalkan terlaksananya proklamasi kemerdekaan.

Sementara itu di Jakarta, Achmad Soebardjo melakukan perundingan dan berusaha membujuk golongan muda untuk tidak tergesa-gesa memproklamasikan kemerdekaan. Beliau setuju bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan diselenggarakan di Jakarta.

Perundingan mengenai naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan di rumah Laksamana Maeda pada tanggal 16 Agustus 1945 malam hari. Penyusunan teks proklamasi dilakukan oleh Soekarno, Moh.Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh tokoh golongan muda yaitu Sukarni, B.M. Diah, Sudiro, dan Sayuti Melik.

Setelah selesai merumuskan teks proklamasi dan disepakati oleh para tokoh yang hadir, naskah diketik oleh Sayuti Melik dan ditanda tangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Pada rencana awal, pelaksanaan pembacaan teks proklamasi akan diadakan di Lapangan Ikada, namun dengan segala pertimbangan dan alasan keamanan dan ketertiban, akhirnya diputuskan untuk dilaksanakan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta yang merupakan kediaman Ir. Soekarno.

Perundingan dalam menyusun naskah proklamasi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh golongan tua dan muda berlangsung mulai pukul 02.00 sampai 04.00 WIB dan dilaksanakan di ruangan makan kediaman Laksamana Maeda. Susunan teks proklamasi ditulis tangan oleh Ir Soekarno, yang kemudian diketik oleh salah satu tokoh yang hadir dalam perundingan yaitu Sayuti Melik.

Pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diselenggaran pada tanggal 17 Agustus 1945 di rumah Ir. Soekarno, pada pukul 10.00 WIB. Peristiwa pembacaan naskah proklamasi ini dihadiri oleh Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani, dan Trimurti.

Acara dimulai dengan pembacaan teks dan disambung dengan pidato oleh Ir. Soekarno, serta sambutan dari Suwiryo dan dr. Muwardi yang pada saat itu menjabat sebagai walikota.

Pada awalnya, petugas pengibar bendera adalah Trimurti, namun ia menolak karena menurutnya petugas pengibar bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Pengibaran bendera akhirnya diputuskan untuk dilakukan oleh Latief Hendraningrat dan Soehoed. Bendera Sang Saka Merah Putih dijahit tangan oleh Fatmawati, istri Soekarno. pengibaran bendera diiringi lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Hingga saat ini, bendera jahitan Fatmawati ini masih disimpan di Museum Tugu Monas sebagai bukti sejarah kemerdekaan Indonesia. Sehari setelah peristiwa pembacaan teks proklamasi, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) mengambil keputusan untuk mengesahkan dan menetapkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Dengan demikian, Indonesia secara resmi telah menjadi negara yang merdeka dan dengan kedaulatan yang berada di tangan rakyat, serta menjadi hari ditetapkannya Ir Soekarno sebagai Presiden Negara Republik Indonesia yang pertama dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya.

Dari peristiwa perjalanan panjang meraih kemerdekaan, Anda tentu sangat tahu bagaimana kerasnya perjuangan yang harus ditempuh para pejuang di masa itu. Rentetan peristiwa dan tragedi masa-masa sebelum kemerdekaan dapat dijadikan satu potret betapa gigihnya para tokoh dan rakyat Indonesia saat itu dalam merebut dan meraih kemerdekaan.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus bisa meneladani semangat perjuangan para pendahulu kita. Kita harus memiliki rasa cinta tanah air dan patriotisme. Untuk meneruskan cita-cita para pejuang dan menghormati jasa mereka. Dengan mengingat perjuangan yang telah dilakukan para pejuang kemerdekaan, akan semangat untuk terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini makin berkobar.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here