Home Merdeka Sejarah Kejayaan Kereta Api Indonesia Di Museum Kereta Api Ambarawa

Sejarah Kejayaan Kereta Api Indonesia Di Museum Kereta Api Ambarawa

54
0

SEJARAHONE.ID – Sejarah perkeretaapian di Jawa salah satunya adalah Stasiun Ambarawa yang kini telah beralih fungsi menjadi Museum Kereta Api Ambarawa. Stasiun yang awalnya bernama Stasiun Willem I ini didirikan pemerintah kolonial Belanda untuk mengakomodasi peran kota Ambarawa sebagai basis pangakalan militer mereka untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh dari arah Semarang.

Sebelum Stasiun Willem I dibangun, yaitu pada tahun 1834-1845, pemerintah kolonial mendirikan sebuah benteng besar. Bangunan basis militer tersebut memiliki nama serupa, yaitu Benteng Fort Willem I, yang merupakan nama Raja yang saat itu tengah bertahta di Kerajaan Belanda.

Di benteng yang dikenal masyarakat setempat sebagai benteng pendem ini terdapat banyak serdadu kolonial tinggal. Karena makin terkonsentrasinya kekuatan militer di Ambarawa itu, maka pemerintah kolonial merasa perlu untuk menyediakan sarana transportasi massal yang cepat untuk mobilisasi pasukan, perlengkapan, maupun logistik antara Ambarawa dengan kota-kota penting lain di sekitarnya.

Di samping alasan militer, kebutuhan jalur kereta api Ambarawa juga muncul karena faktor ekonomi. Saat itu, di perbukitan sekitar Ambarawa, perkebunan coklat, karet dan terutama kopi juga mulai dibuka oleh para pengusaha partikelir (swasta) pasca diijinkannya investasi di Hindia-Belanda oleh pemerintah Kolonial pada tahun 1870.

Sebelum alat transportasi kereta api muncul, hasil-hasil perkebunan ini dikirim ke kota pelabuhan di Semarang untuk diekspor dengan gerobak atau dipikul yang tentu daya angkutnya sedikit dan jalannya lambat. Sehingga bukannya meraih untung, pihak kolonial lebih banyak mengalami kerugian karena banyak hasil panen yang terlanjur membusuk sebelum sampai ke pelabuhan.

Kereta api dianggap solusi yang tepat untuk pengangkutan hasil bumi setempat seperti biji kopi, karena dalam sekali jalan, kereta dapat mengangkut barang dan penumpang dalam jumlah besar. Lajunya pun lebih cepat daripada kendaraan tradisional kala itu seperti pedati.

Pemerintah kolonial kemudian meminta sebuah perusahaan kereta api swasta, Nederlansch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), untuk membuka sebuah jalur kereta baru ke arah Ambarawa. Ternyata pihak NISM menyanggupinya, tiga tahun setelah NISM membuka jalur Kedungjati-Surakarta yang merupakan bagian dari jalur Semarang-Surakarta, sebuah jalur percabangan dari Kedungjati ke Ambarawa pun dibangun.

Pembangunan jalur baru itu merupakan tantangan berat pertama yang dilakukan oleh NISM lantaran pada proyek ini, mereka harus menggali bukit dan mendirikan jembatan di atas sungai curam. Namun tantangan tadi berhasil diatasi dengan baik.

Pada 21 Mei 1873, Stasiun Willem I di Ambarawa selesai dibangun. Keberadaan stasiun ini berdampak pada lancarnya pengangkutan kopi dari perkebunan sekitar Ambarawa ke pelabuhan di Semarang. Sesuai tujuan awalnya, stasiun ini juga membantu mobilitas militer dan pengiriman berbagai barang kebutuhan militer seperti ransum, amunisi dan obat-obatan.

Menyusul dibukanya jalur kereta Kedungjati-Ambarawa, NISM kemudian melanjutkan pembangunan jalur kereta hingga ke Secang melalui Bedono. Karena medan yang dilalui berupa perbukitan, maka jalur kereta ini dibuat meliuk-liuk bagaikan ular yang mendaki bukit yang bisa mencapai 30 derajat kemiringannya.

Agar kereta lebih mudah dan aman mengikuti liukan rel, maka digunakan lebar rel yang ukurannya lebih kecil, sehingga di stasiun Ambarawa terdapat dua jenis jalur rel yang berbeda ukurannya.

Jalur dari Kedungjati ke Ambarawa di emplasemen selatan menggunakan rel 1435 mm. Sementara emplasemen utara untuk jalur dari Ambarawa menuju Yogyakarta melalui Secang, kemudian Magelang, menggunakan rel 1067 mm karena pertimbangan jalur yang berkelok-kelok dan menanjak itu tadi.

Ada yang istimewa pada jalur Ambarawa-Jambu-Bedono. Di sana terdapat jalur rel bergerigi di antara dua rel, pada tanjakan dan turunan tajam, tepatnya di jalur Jambu-Bedono, panjangnya 5,6 kilometer. Di Indonesia hanya ada dua jalur rel bergerigi seperti itu, selain di Ambarawa, satu lagi ada di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Pada masa aktifnya dulu, jalan masuk ke Stasiun Ambarawa ada dua, yakni di sebelah utara (kini jalan Stasiun) yang kebanyakan digunakan untuk kalangan sipil dan di sebelah selatan (kini jalan Margoroto) yang digunakan oleh kalangan militer.

Stasiun yang berdiri di atas lahan seluas 127.500 meter persegi awalnya merupakan bangunan yang terbuat dari bahan kayu. Baru pada tahun 1907 stasiun mengalami renovasi menjadi bangunan berbahan beton seperti bangunan yang kita lihat saat ini.

Stasiun Ambarawa memiliki sebuah overkapping atau atap stasiun dengan bentangan selebar 21,75 meter. Konstruksi atap ini dikerjakan oleh Werkspoor Amsterdam yang juga memproduksi lokomotif. Di bawah overkapping ini, terdapat berbagai bangunan dengan berbagai fungsi antara lain ruang untuk pelayanan penumpang,ruang kantor kepala stasiun, ruang administrasi, ruang tunggu kelas 1 dan 2 dan ruang tunggu kelas 3, kamar kecil, serta ruang sinyal mekanik.

Sejarah kereta api di Indonesia dimulai ketika Jalur rel pertama dibangun tahun 1864-1867 sepanjang 25 kilometer menghubungkan Stasiun Samarang hingga Stasiun Tangoeng, yang sekarang ditulis Tanggung, di Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jateng. Sejak itu kereta-kereta dengan lokomotif uap mulai merayapi tanah Jawa.

Setelah pemerintah Kolonial Belanda hengkang dari Indonesia, kemudian Stasiun Kereta Api Ambawara difungsikan untuk kereta api reguler dengan rute perjalanan Ambarawa-Kedungjati-Semarang, Ambarawa-Temanggung-Parakan dan Ambarawa-Secang- Magelang. Namun rute perjalanan Ambarawa-Temanggung-Parakan dan Ambarawa-Secang-Magelang pada 1970 ditutup karena rel keretanya rusak akibat bencana alam.

Tak lama kemudian, stasiun kereta api Ambarawa juga ditutup karena rute perjalanan kereta api itu kalah bersaing dengan transportasi lainnya. Kereta api tua lebih lambat jalannya, selain biaya perawatannya pun juga mahal.

Pada tahun 1970-an tinggal sedikit saja kereta sisa peninggalan Belanda, karena kebanyakan sudah dibesituakan. Berbekal 21 buah lokomotif tua yang masih ada dan memiliki nilai sejarah dalam perang kemerdekaan, Gubernur Jateng saat itu, Soepardjo Rustam dan Kepala Eksploitasi Tengah PJKA, Ir. Soeharso, pada tanggal 8 April 1976 memutuskan untuk mengubah Stasiun Ambarawa menjadi sebuah museum kereta api. Tapi baru tanggal 9 Oktober 1976, tempat ini diresmikan dengan nama Museum Kereta Api Ambarawa.

Seluruh bangunan dan perabotan yang dulu digunakan di stasiun itu masih bisa dilihat, persis seperti di awal keberadaan stasiun. Sebut saja meja, kursi, alat hitung, mesin ketik, topi masinis, mesin cetak tiket, telepon kuno, peralatan telegraf Morse, dan bel kuno adalah koleksi yang masih ada sampai sekarang, semua masih disimpan di Museum Kereta Api ini. Dipamerkan juga dokumentasi foto yang bernilai sejarah.

Sementara di luar bangunan stasiun terdapat peninggalan berupa corong air tempat memasukan air ke dalam ketel lokomotif uap, rel meja putar atau turntable untuk memutar arah lokomotif, dan depo perawatan yang bisa menampung hingga lima buah lokomotif.

Yang paling menarik di museum ini tentu koleksi lokomotif tuanya. Loko D10 dari pabrikan Hartmann Chemnitz, Jerman yang masih tersisa dan di simpan di Ambarawa adalah loko D10 dengan nomor D1007. Lokomotif D1007 ini buatan tahun 1914.

Selain itu ada juga loko B25 yang dilengkapi roda gerigi. Loko buatan Maschinenfabrik Esslingen, Jerman, ini mampu menarik gerbong di lintasan rel yang menanjak. Jalur rel ini dilengkapi rel bergerigi di bagian tengah lintasan agar kereta uap dapat bergerak maju menuju tempat yang lebih tinggi.

Ada dua loko B25 di museum ini yaitu lokomotif bernomor seri B 2502 dan B2503, dengan sapaan Bona dan Boni. Di dunia kereta jenis ini yang masih berfungsi hanya ada di Swiss, India dan Indonesia. Lokomotif uap lain yang masih berfungsi adalah B 5112 buatan Hannoversche Maschinenbau AG, asalnya dari Jerman juga. B 2502, B2503, dan B5112 masih aktif sampai sekarang, difungsikan sebagai kereta wisata.

Di samping berbagai macam koleksi-koleksi unik tadi, di Museum Kereta Api ini juga masih terdapat berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029 buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik atau Swiss Locomotive and Machine Works) di halaman museum.

Untuk menarik minat masyarakat untuk makin peduli terhadap dunia kereta api, Museum KA Ambarawa menyediakan atraksi berupa perjalanan wisata atau tur dengan menggunakan kereta api tua baik yang ditarik lokomotif uap maupun diesel.

Agar kereta api kembali bisa difungsikan, maka jalur yang telah ditutup direvitalisasi atau dibuka kembali. Saat ini yang sudah bisa digunakan adalah jalur antara Ambarawa hingga Tuntang dan antara Ambarawa dengan Bedono.

Untuk pengoperasian lokomotif uap perlu persiapan khusus. Agar lokomotif memiliki tenaga cukup, digunakan kayu jati sebagai bahan bakar, dengan persiapan pembakaran selama 3 jam sebelum kereta siap untuk berangkat.

Gerbong-gerbong kereta wisata dibuat tahun 1912, terbuat dari jati asli dan sampai sekarang masih utuh belum ada reparasi penggantian. Pada masa kejayaannya, gerbong bernomor Cr 72-1 ini beroperasi untuk kereta kelas tiga atau ekonomi, tujuan Semarang-Yogyakarta.

Di ujung gerbong pun terdapat papan penjelasan yang masih asli dengan bahasa Inggris, bertuliskan panjang 9 meter, berat 8,2 ton, total muatan mencapai 2,5 ton. Tiap gerbong memiliki total 40 kursi berbahan jati yang berjajar rapi saling berhadapan. Ada pilihan selain kereta api untuk menempuh rute Ambarawa-Tuntang pp. Yaitu dengan menaiki lori wisata yang siap melayani penumpang wisata untuk rute tersebut.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here