Home Merdeka Sejarah Istana Merdeka, Kediaman Presiden RI

Sejarah Istana Merdeka, Kediaman Presiden RI

257
0

SEJARAHONE.ID – Istana Merdeka merupakan tempat resmi kediaman dan kantor Presiden Indonesia yang letaknya menghadap ke Taman Monumen Nasional (Monas) Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Awalnya istana ini digunakan sebagai tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda hingga pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Istana Merdeka merupakan tempat resmi kediaman dan kantor Presiden Indonesia.  Istana Merdeka resmi menjadi kediaman presiden pada masa Presiden Soekarno.

Usia Istana Merdeka sudah mencapai ratusan tahun sejak dibangun pada 1873 di masa pemerintah Hindia Belanda.

BERDASARKAN informasi situs resmi Kementerian Sekretaris Negara (Kemensesneg), awalnya bernama Istana Risjwijk yang dibangun pada 1796. Karena dianggap sempit dan kurang memenuhi syarat untuk kegiatan administrasi kenegaraan akhirnya membangun baru. Istana Merdeka dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda masa pemerintahan Gubernur Jenderal Louden pada 1873. 

Selesai pada 1879 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Willem van Landsbarge. Ini dibangun untuk meningkatkan kegiatan pemerintah Hindia Belanda.  Awalnya bangunan tersebut bernama Istana Gambir. Karena dulu disekitar istana banyak pohon gambir.

Pada masa kedudukan Jepang, istana tersebut dijadikan tempat kediaman resmi Saiko Shikika atau panglima tertinggi Jepang. Pada memasuki awal pemerintah bangsa Indonesia, Istana Gambir menjadi saksi penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949.

Perwakilan bangsa Indonesia waktu itu Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan Kerajaan Belanda diwakili oleh AHJ Lovink. Penandatanganan ini disambut gembira oleh rakyat Indonesia yang mendengarkan lewat radio maupun yang berada di lokasi. Pada waktu yang bersamaanya juga bendera merah putih berkibar menggantikan bendera Belanda.

Lagu Indonesia Raya berkumandang. Teriakan merdeka beberapa kali terdengar   Kemudian Presiden Soekarno memutuskan mengganti nama Istana Gambir menjadi Istana Merdeka. Pada 1950, pertama kalinya Istana Merdeka dipakai untuk tempat peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus.

Jadi kediaman resmi presiden Satu hari setelah penandatangan kedaulatan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda. Pada 28 Desember 1949, Presiden Soekarno beserta keluarga mendiami Istana Merdeka untuk pertama kalinya. Pada zaman Presiden Soekarno memakai ruang di sisi timur Istana Merdeka sebagai kamar tidurnya.

Ruang tidur itu berseberangan dengan ruang kerjanya dan dipisahkan oleh bangsal luas yang dikenal sebagai ruang resepsi. Sisi barat depan Istana Merdeka dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih resmi. Di antara serambi depan dan ruang kerja Presiden semula merupakan teras terbuka dengan perabotan dari rotan.

Sebagian ruangan menjadi ruang tunggu untuk para Duta Besar sebelum menyerahkan surat-kepercayaan kepada Presiden. Sebagian lagi menjadi ruang tamu Presiden yang kemudian dikenal sebagai ruang Jepara karena ruangan ini pada masa Presiden Soeharto diisi dengan meja-kursi kayu dan ragam interior dari ukiran Jepara.

Ruang kerja Presiden Soekarno diisi dengan meja dari kayu masif, setelan kursi tamu dari kulit, dan dua dinding yang dipenuhi lemari buku yang tingginya sepertiga dinding. Ruang kerja ini nyaris tidak berubah setelah ditinggalkan Bung Karno dan selama 32 tahun dipergunakan oleh Presiden Soeharto. Baru pada masa Presiden B.J. Habibie ruang tersebut mengalami sedikit perubahan.

Sejak Istana Merdeka berdiri tercatat ada sekitar 20 orang yang telah mendiami Istana Merdeka. Sebanyal 15 gubernur jenderal Hindia Belanda, tiga panglima tertinggi Jepang, dan dua presiden Indonesia. Sementara presiden lain memilih menempati Istana Bogor dan hanya menjadi kantor kepresidenan. Dua presiden yang mendiami Istana Merdeka, yakni Presiden Soekarno dan Presiden Abdurrahman Wahid. Presiden Joko Widodo pernah menempati Istana Merdeka sebelum kemudian menempati Istana Bogor.

Istana Rijwijk

Istana Risjwijk yang dibangun lebih awal pada tahun 1796 dinilai sesak untuk kegiatan administratif kenegaraan sehingga Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada saat itu, Pieter Mijer memerintahkan untuk membangun sebuah bangunan baru sebagai pengganti Istana Risjwijk pada tahun 1869.

Pembangunan istana ini baru dilaksanakan 4 tahun kemudian ketika masa pemerintahan Gubernur Jenderal James Loudon pada tahun 1873. Istana baru ini dibangun di sebelah selatan Istana Risjwijk, menghadap ke arah Koningsplein (sekarang Medan Merdeka). Akhirnya istana ini diresmikan tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge setelah menelan biaya 360.000 Gulden.

Istana ini lalu dinamakan Paleis te Koningsplein (Istana Koningsplein) atau masyarakat sering menyebutnya sebagai Istana Gambir karena banyak pohon gambir yang tumbuh di sekitar Lapangan Koningsplein.[1][2]

Pada masa pendudukan Jepang, Istana ini bersamaan dengan Istana Rijswijk dijadikan tempat kediaman resmi Saiko Shikikan.

Pada awal masa pemerintahan Republik Indonesia, Istana Merdeka sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan kerajaan Belanda diwakili A.H.J. Lovink, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia.

Dalam upacara yang mengharukan itu bendera Belanda diturunkan dan bendera Indonesia dinaikkan ke langit biru. Ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini diam mematung dan meneteskan air mata ketika bendera Merah Putih dinaikkan. Tetapi, ketika Sang Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka dan terdengar teriakan: Merdeka! Merdeka! Sejak saat itu Istana Gambir dinamakan Istana Merdeka.[2]

Sehari setelah pengakuan kedaulatan oleh kerajaan Belanda, pada 28 Desember 1949 Presiden Soekarno beserta keluarganya tiba dari Yogyakarta dan untuk pertama kalinya mendiami Istana Merdeka. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di Istana Merdeka pertama kali diadakan pada 1950. Tercatat selain Presiden Sukarno, yang mendiami istana ini adalah Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Joko Widodo.

Kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, dan penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here