Home Khasanah Sejarah Hilangnya Nafas Islam dari Negeri Turki

Sejarah Hilangnya Nafas Islam dari Negeri Turki

44
0

SEJARAHONE.ID – Secara historis, bangsa Turki mewarisi peradaban Romawi di Anatolia dan peradaban Islam, Arab, dan Persia di Timur Tengah. Peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki. Pada masa Turki Utsmani, Islam ditetapkan sebagai agama resmi negara. Islam juga menjadi sumber pembangunan pranata sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Turki.

Namun, ungkap William L & Martin Bunton dalam bukunya A History of the Modern Middle East, kehidupan masyarakat Turki berubah ketika pada 1923 Turki dinyatakan sebagai sebuah negara sekuler. Islam yang telah berfungsi sebagai agama dan sistem hidup bermasyarakat dan bernegara selama lebih dari tujuh abad digantikan oleh sistem Barat. Di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk melakukan reformasi secara menyeluruh, baik reformasi sosial, ekonomi, maupun administrasi.

Muhammad Syafii Antonio dalam bukunya yang berjudul Encyclopedia of Islamic Civilization menyatakan, Mustafa Kemal berhasil mendirikan Republik Turki yang berdasarkan pada prinsip sekularisme, modernisme, dan nasionalisme di atas piung-puing reruntuhan khilafah Turki Utsmani.

Dengan gagasan sekulerisme, nasionalisme, dan modernisme yang diusungnya, Mustafa Kemal dan pengikutnya melakukan gerakan reformasi di Turki dengan dasar-dasar yang telah diletakkan oleh para pembaru pada masa Turki Utsmani. Pada perkembangan selanjutnya, ide-ide reformasi Mustafa Kemal menjadi suatu gerakan politik pemerintah yang dikenal dengan sebutan Kemalisme.

Reformasi Ataturk adalah serangkaian perubahan kebijakan politik, hukum, budaya, sosial, dan ekonomi yang dirancang untuk mengonversi Republik baru Turki menjadi sekuler, negara-bangsa modern, dan diimplementasikan di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk.

S N Eisenstadt dalam The Kemalist Regime and Modernization: Some Comparative and Analytical Remarks menyebutkan masa kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk menimbulkan banyak perubahan kelembagaan mendasar yang telah dikembangkan selama berabad-abad.

 

 

 

Reformasi dimulai dengan modernisasi konstitusi, termasuk memberlakukan konstitusi baru 1924 yang menggantikan konstitusi 1921 yang diadaptasi dari hukum Eropa. Hal ini juga diikuti oleh sekularisasi menyeluruh dan modernisasi administrasi, dengan fokus khusus pada sistem pendidikan.

 

 

 

Muhammad Syafii Antonio melanjutkan, setelah membubarkan kekhalifahan, kaum Kemalis menghapus lembaga-lembaga syariah yang ketika itu menjadi benteng terakhir dari sistem khilafah Islamiyah. Setelah itu, kelompok ini menutup sekolah-sekolah Islam (madrasah) yang sudah ada sejak 1300-an.

 

 

 

Pemisahan antara kehidupan agama dan negara adalah salah satu tindakan ekstrem yang dilakukan oleh rezim Kemalis setelah penghapusan khilafah. Pemisahan ini tidak hanya bertujuan untuk memisahkan agama dari kehidupan negara, tetapi juga mengakhiri kekuatan tokoh-tokoh agama dalam masalah politik, sosial, dan kebudayaan.

 

 

 

Nasionalisme agama

 

Setelah berhasil menyingkirkan ulama dari kehidupan sosial dan politik, Mustafa Kemal selanjutnya mengajukan pemikiran tentang nasionalisme agama. Menurutnya, agama merupakan suatu lembaga sosial dan oleh karena itu agama harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Turki.

Oleh sebab itu, suatu komite dibentuk di Fakultas Teologi Universitas Istanbul untuk melakukan modernisasi terhadap ajaran Islam. Komite ini menyebarkan ide Mustafa Kemal untuk mengganti bentuk dan suasana masjid sebagaimana bentuk dan suasana gereja di negara-negara Barat.

 

 

 

Mereka menekankan pada pentingnya masjid yang bersih dengan bangku-bangku dan ruang tempat penyimpanan mantel. Selain itu, mereka juga mewajibkan jamaah masuk dengan sepatu yang bersih menggantikan bahasa Arab dengan bahasa Turki.

 

 

 

Puncaknya pada 1932, pemerintah megeluarkan kebijakan mengganti lafal azan yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Turki, sesuatu yang amat ditentang oleh mayoritas masyarakat Muslim Turki.

 

 

 

Gerakan Reformasi di bidang agama yang dilakukan oleh kaum Kemalis sesungguhnya bertentangan dengan ide sekularisme yang mereka usung sendiri. Berbagai upaya Turkifikasi Islam atau nasionalisasi Islam yang mereka lakukan merupakan bentuk campur tangan pemerintah terhadap kehidupan beragama di dalam masyarakat.

 

 

 

Padahal, sekularisme sejatinya memisahkan hubungan agama dengan pemerintahan di mana negara menjamin kebebasan beribadah bagi warga negara. Namun, pada pelaksanaannya, kaum Kemalis menjalankan sekularisme yang mereka agung-agungkan itu dengan semangat nasionalisme yang radikal dan sangat dipaksakan. Oleh sebab itu, wajar jika gerakan nasionalisasi agama ini hanya bertahan sebentar.

 

 

 

Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kaum Kemalis (Partai Rakyat Republik) pada 1950 azan kembali diucapkan dalam bahasa Arab. Masjid-masjid di Turki pun tetap menunjukkan bentuk-bentuk yang umum sebagaimana masjid di negara-negara lainnya

Sumber: Republika online

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here