Home Galeri Sejarah Dibalik Lagu Kebangsaan

Sejarah Dibalik Lagu Kebangsaan

405
0

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne – Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” ketika itu mampu membakar semangat pemuda yang sedang berjuang melawan penjajah. Lagu ini diciptakan oleh komposer Wage Rudolf Supratman. Lirik lagu yang memuat gagasan Indonesia merdeka, seolah meniupkan roh semangat pemuda dan pejuang merebut kemerdekaan. Wage Rudolf Supratman adalah pejuang tangguh yang berjuang mengusir  penjajahan Belanda.

Sesudah merdeka, pada 17 Agustus 1945, lagu Indonesia Raya diresmikan menjadi lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa. Tetapi, pencipta lagu itu, Wage Roedolf Supratman, tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan, 7 tahun sebelum merdeka WR Supratman wafat akibat menderita di dalam penjara Belanda. Pesannya WR Supratman dalam lagu kebangsaan, yakni bangunlah Jiwanya, artinya membangun mental, karakter dan kepribadian. Kemudain baru Bangunlah Badannya, yakni membangun infrastruktur, struktur dan fisik.

Instrumental Lagu dalam Konggres Pemuda

Pertama kali Instrumental lagu Indonesia Raya dibawakan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, yang kelak dikenal sebagai cikal bakal Hari Sumpah Pemuda. Mulanya, WR Supratman adalah wartawan koran Sin Po yang ditugaskan untuk meliput Kongres Pemuda II, seperti ditulis oleh St. Sularto dalam “Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Fakta Sejarah” di Majalah Prisma edisi 5 Mei 1983. Namun, kala itu keinginannya tidak hanya sekadar menulis berita, tetapi juga ingin membawakan lagu “Indonesia Raya”. Atas inisiatifnya sendiri, ia menyebarkan salinan lagu itu kepada para pimpinan organisasi pemuda. Gayung bersambut. Lagu tersebut mendapat sambutan hangat. Sugondo, yang waktu itu memimpin Kongres Pemuda Indonesia Kedua, awalnya mengizinkan Supratman membawakan lagu tersebut pada jam istirahat. Namun kemudian, ketika Sugondo membaca lebih teliti lirik lagu itu, ia menjadi ragu.

Sugondo mengkawatirkan lirik lagu akan mengundang amarah Belanda, ia takut pemerintah memboikot acara Kongres. Akhirnya Sugondo meminta Supratman membawakan lagu tersebut dengan instrumen biola saja. Ketika jam istirahat tiba, Supratman maju, membawakan lagu ‘Indonesia Raya’ versi instumental. Semua peserta kongres tercengang. Mereka terharu mendengar gesekan biolanya. Itulah kali pertama lagu ‘Indonesia Raya’ berkumandang.

Lagu Indonesia Raya kembali berkumandang di akhir bulan Desember 1928 saat pembubaran panitia kongres kedua. Pada kesempatan itu, untuk kali pertama, lagu tersebut dinyanyikan dengan iringan paduan suara. Ketiga kalinya, lagu ‘Indonesia Raya’ dinyanyikan saat pembukaan Kongres PNI 18-20 Desember 1929. Para peserta berdiri dan bernyanyi mengikuti kur dan iringan biola Supratman sebagai tanda penghormatan kepada Indonesia Raya.

WR Supratman Tak Sempat Menikah

Saking seringnya bergerilya, W.R. Soepratman tidak beristri, serta tidak pernah mengangkat anak. Sewaktu tinggal di Makassar, ia memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik. Akhirnya pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu. Ketika tinggal di Jakarta, ia membaca karangan dalam majalah Timbul yang menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

WR Supratman tertantang dan mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya, saat berada di Bandung, pada usia 21 tahun. Dan, pada malam penutupan Kongres Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928, ia memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum. Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka, mandiri, modern dan martabatif.

Lagu ‘Indonesia Raya’ semakin populer. Ini membuat resah pihak Belanda. Mereka takut jika lagu tersebut mampu membangkitkan semangat kemerdekaan. Karena itu, pada 1930, lagu itu dilarang dan tak boleh dinyanyikan dalam kesempatan apa pun, Alasan pemerintah kolonial: lagu tersebut dapat “mengganggu ketertiban dan keamanan.” Selaku pencipta, Supratman tak luput dari ancaman. Ia sempat ditahan dan diinterogasi soal maksud lirik “merdeka, merdeka, merdeka”.

Akan tetapi kekangan itu cuma sebentar. Setelah diprotes dari pelbagai kalangan, pemerintah Hindia Belanda mencabutnya dengan syarat hanya boleh dinyanyikan di ruang tertutup. Supratman kemudian menciptakan lagu “Matahari Terbit”. Lagu ini membuat WR Supratman kembali merasakan tahanan pemerintah Hindia Belanda. Otoritas kolonial menafsirkan bahwa Supratman ikut memuji Dai Nippon. Berkat bantuan van Eldik, Supratman dibebaskan dari tuduhan tersebut. Keluar dari masa tahanan, Supratman jatuh sakit. Di masa itu ia berkenalan akrab dengan kakak iparnya, Oerip Kasansengari. Supratman berkata, “Mas, nasibku sudah begini. Inilah yang disukai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal, saya ikhlas. Saya sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka.”

Pada 17 Agustus 1938, Supratman tutup usia setelah jatuh sakit. Jenazahnya dimakamkan di Kuburan Umum di Jalan Kejeran Surabaya, dengan jumlah pelayat tak lebih dari 40 orang. Supratman telah tiada. Tapi fobia terhadap lagu ‘Indonesia Raya’ tak kunjung reda. Maka, ketika Jepang menduduki kawasan Hindia Belanda pada Maret 1942, lagu tersebut kembali dilarang. Lagu itu baru bebas dicekal di ambang kejatuhan pendudukan Jepang pada medio 1945.

Lagu ‘Indonesia Raya’ kembali bergema setelah Sukarno membacakan teks Proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Sebagai bentuk penghormatan, pada 16 November 1948, dibentuklah Panitia Indonesia Raya. Hasilnya adalah Peraturan Pemerintah RI tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pada 26 Juni 1958. Peraturan yang berisikan 6 bab ini mengatur tata tertib dalam penggunaan lagu ‘Indonesia Raya’ dilengkapi pasal-pasal penjelasan. Tentang penting dan nilai luhur ‘Indonesia Raya’, Presiden Sukarno pernah mengatakan, bahwa setia kepada Indonesia Raya, setia kepada lagu Indonesia Raya yang telah kita ikrarkan bukan saja menjadi lagu perjuangan, tetapi menjadi lagu kebangsaan. Bukan saja lagu kebangsaan, tetapi pula menjadi lagu Negara kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here