Home Ekonomi Sejarah Batik Dari Era Soekarno Hingga Jokowi

Sejarah Batik Dari Era Soekarno Hingga Jokowi

38
0
Presiden Suharto dari Indonesia dan ibu negara Nancy Reagan berbagi bersulang sebelum makan malam untuk menghormati Presiden dan Ny. Reagan di Bali pada hari Kamis, 1 Mei 1986

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Batik Indonesia yang mendunia, tak lepas dari upaya pemerintah yang mendorong perkembangan batiik. Ini telah mengalami perjalanan panjang dari masa ke masa. Bicara proses mendunianya batik jelas merupakan buah kolaborasi antara pemerintah dan stakeholder terkait untuk mempromosikan batik secara intensif dan berkesinambungan. Marilah disimak catatan perihal upaya pemerintah mempopularkan batik di mata dunia.

Seperti nanti terlihat, awalnya popularitas batik sengaja disemai semata dengan tujuan mengkontruksi identitas nasional. Namun sejalan perkembangan dinamika, tampak jelas pemerintah pun bermaksud mendongkrak popularitas batik di mata dunia. Selain karena melihat tingginya apresiasi masyarakat dunia juga potensi komoditas ini tak muskil jadi produk unggulan Indonesia.

Tentu saja Presiden Soekarno patut disinggung, sekalipun foto-foto presiden pertama ini  hampir tidak pernah terlihat mengenakan baju batik. Sosok yang sangat gandrung membangun idealisme persatuan bagi bangsanya ini, tercatat pernah memprakarsai penciptaan motif batik yang membawa pesan persatuan Indonesia.

Presiden Soekarno hingga Musisi Dewa Budjana Pernah Sekolah di SMA ...

Presiden Soekarno Mengenakan Batik

Presiden Soekarno ketika bercita-cita merangkum pesan persatuan bangsa dalam selembar kain batik. Itulah ide Bung Karno, ide ini disampaikannya saat bertemu seniman batik asal Solo.

Seniman Solo, Go Tik Swan, atau juga dikenal dengan nama Kanjeng Pangeran Arya (KPA) Hardjonagoro, diminta mewujudkan ide tersebut. Maka lahirlah desain “Batik Indonesia.” Demikianlah Go Tik Swan menamai desain batik ciptaannya, sesuai pesan Soekarno. Menariknya, ciri khas Batik Indonesia ini dapat dikatakan bukanlah desain batik bercorak gaya Solo, Yogya, Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan lain-lainnya, tetapi merupakan gabungan dari corak dan gaya batik dari seluruh Indonesia.

Batik Indonesia bukan saja merupakan perpaduan corak tapi juga perpaduan banyak warna. Batik ini sering dikatakan sebagai bercorak multiwarna, sebagai perpaduan antara warna batik Solo yang didominasi hitam dan cokelat dengan batik pesisiran yang didominasi warna cerah. Menurut laman indonesiabatik.id Go Tik Swan setidaknya telah menciptakan 200 motif. Rengga Puspita, Sawunggaling, atau Kembang Bangah Kuntul Nglayang, misalnya, ialah beberapa nama motif batik ciptaan Go Tik Swan. Selain populer di kalangan kolektor batik, Batik Indonesia karya Go Tik Swan juga dicatat sejarah telah memperkaya khazanah motif batik di Indonesia.

Presiden Soeharto Berupaya Keras

Presiden Soeharto sudah tentu memiliki kontribusi terbesar bagi sejarah popularitas batik. Tak sedikit pelaku usaha di sektor ini, bahkan menyebut presiden kedua sebagai “Pahlawan Batik.” Sayangnya tak satupun tulisan utuh pernah ditulis orang terkait peranan ini. Kebanyakan tulisan seputar sejarah peranannya memajukan dunia batik masih sebatas serpihan-serpihan peristiwa.

Sebelumnya Soeharto hanya memberi cinderamata batik kepada tamu negara yang datang ke Indonesia, seperti yang dipersembahkan, misalnya kepada Perdana Menteri Kanada Pierre Elliot Trudeau. Soeharto terus berupaya mengenalkan batik pada dunia

Pertama, pada 1986 Presiden AS Ronald Reagan mengadakan kunjungan tak resmi selama empat hari di Bali dalam rangka menghadiri KTT ASEAN. Dalam momen itu Presiden AS ke-40 beserta istri hadir pada jamuan malam mengenakan baju batik. Presiden Reagan mengenakan kameja batik dengan motif Sidoluhur, sedangkan first lady mengenakan baju batik merah cerah. Iwan Tirta ialah perancang batik bagi orang nomor satu di AS ini.

Kedua, pemberian cinderamata batik kepada Nelson Mandela pada 1990. Ini ialah momen perkenalan pertama Mandela dengan batik. Ketika itu, dia masih menjabat sebagai wakil ketua Kongres Nasional Afrika. Pada 1997 Mandela mengenakan batik itu kembali ketika datang kembali ke Indonesia, sebagai Presiden Afrika Selatan.

Bahkan Perdana Menteri Australia Paul Keating sering datang ke Indonesia dan memakai batik saat mengadakan pembicaraan tak resmi dengan Soeharto. Sejak itu batik mulai naik pamornya di mata dunia, meski hanya diperkenalkan di dalam negeri kepada tamu negara atau tokoh dunia penting yang datang ke Indnonesia. Namun belum sampai pada keberanian Soeharto memakainya saat berkunjungan resmi ke luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela.

Banyak tokoh dunia mulai saat itu ‘dibatiki’ oleh Soeharto. Para astronot Space Shuttle yang meluncurkan satelit Palapa memakainya saat datang ke sini. Hampir semua para pemimpin ASEAN yang bertandang ke sini secara tak resmi, juga “dibatiki” oleh Soeharto, kecuali Presiden Ferdinand Marcos, yang keukeuh memakai pakaian barong, sebagai kebanggaan pakaian nasionalnya.

Ketiga, puncak dari semua itu terjadi pada tahun 1994. Saat Indonesia untuk pertama kali jadi ketua dan tuan rumah KTT APEC. Dalam kesempatan itu batik menjadi dress code. Kembali Iwan Tirta dipilih sebagai desainer untuk membuat 18 motif batik untuk 18 kepala negara peserta APEC, termasuk Indonesia, sesuai warna budaya negara masing-masing dengan kombinasi sentuhan corak batik etnis Jawa.

Puncak kepopuleran batik sebagai kebanggaan bangsa Indonesia mencapai puncaknya pada November 1994 di Bogor, Jawa Barat, ketika Soeharto atas bantuan rancangan Iwan Tirta, memaksa 17 kepala negara dan kepala pemerintahan dari kumpulan negara-negara APEC, memakai batik tulis yang khusus di buat dengan corak yang melambang simbol negara masing-masing dengan sentuhan etnis Jawa. Termasuk Presiden AS Bill Clinton. Untuk kedua kalinya presiden AS memakai batik.

Upaya Presiden Soeharto Kenalkan Batik Pada Dunia – Cendana News

Para Pemimpin APEC Mengenakan Batik

Sejak itu, atas jasa dan ide Presiden Soeharto, telah menjadi tradisi di setiap KTT APEC berikutnya semua kepala negara yang hadir akan memakai pakaian nasional tuan rumah saat foto bersama saja, tetapi tidak saat melakukan pembicaraan resmi. Beda dengan batik yang dipakai pada KTT APEC II di Bogor itu, yang dikenakan saat acara serius sekaligus pada acara foto bersama. Kita lihat saja nanti, apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan “membatikkan” kembali para tamu negara yang datang pada saat KTT APEC kembali diadakan di Indonesia beberapa tahun mendekat ini, karena sudah waktunya setelah hampir 20 tahun Indonesia akan mendapat giliran kembali menjadi tuan rumah.

Kita lihat bagaimana Presiden Barack Obama akan memakai batik. Presiden George Bush yang menjadi presiden AS pertama yang datang dua kali ke Indonesia, tidak sempat ”dibatikkan” oleh Megawati saat menjadi tuan rumah di Bali tahun 2003, dan juga tak ada waktu “dibatiki” oleh SBY waktu menjamu Bush muda datang ke Bogor tahun 2006. Mungkin karena kunjungan singkat, tak sempat untuk berbatik ria.

Konon, salah satu pemantik greget Soeharto untuk mendorong popularitas batik ialah kebijakan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Terpengaruh oleh seniman kaligrafi batik berasal dari Yogyakarta, Amri Yahya, Ali Sadikin pada 14 Juli 1972 menetapkan batik sebagai pakaian resmi untuk pria di wilayah DKI Jakarta.

Terlepas kuatnya tendensi “politik seragamisasi,” apa yang sohor dikenal sebagai “Seragam Korpri” ialah implementasi dari ide Soeharto untuk menempatkan batik sebagai simbol dari identitas nasional. Aming Prayitno, seniman lukis, ialah desainer logo Korpri. Logo ini lalu di-batik-kan secara “cap” atau printing, dan kemudian dipakai sebagai pakaian wajib PNS dalam tugas sehari-hari mereka.

Dalam banyak kesempatan menyambut kunjungan tamu kenegaraan, Presiden Soeharto hampir selalu mengenakan kameja batik. Bicara cinderamata Indonesia, batik sering dipilih sebagai gift bagi para tamu negara. Sejauh ini ada beberapa momen peristiwa yang penting dicatat.

Batik di Era SBY

Strategi Presiden Soeharto banyak ditiru oleh para presiden sesudahnya. Fase pengusulan batik masuk daftar World Heritage di UNESCO dan keberhasilan batik memperoleh predikat Intangible Cultural Heritage of Humanity, terjadi di era Presiden SBY. Perjuangan ini tentu tak mudah, mengingat Malaysia saat itu tengah mengklaim batik sebagai berasal dari budaya mereka. Seiring keberhasilan itu Presiden SBY pulalah, yang menetapkan tiap 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Tak hanya itu. Di sepanjang satu dasawarsa pemerintahan SBY juga banyak digelar forum di tingkat regional maupun multilateral, yang menempatkan Indonesia sebagai tuan rumah. Sebutlah KTT ASEAN ke-19 dan KTT Asia Timur (East Asia Summit) di tahun 2011, posisi Indonesia jadi tuan rumah. Ini membawa konsekuensi pada pemakaian kain batik sebagai dress code.

Era Jokowi

Presiden Joko Widodo pun segera menapaktilasi jejak langkah presiden sebelumnya. Presiden Jokowi mengenakan kemeja batik bercorak parang dalam KTT APEC di Beijing, Cina, pada 2014. Tak kecuali pada perhelatan forum Annual Meeting IMF – World Bank di Bali pada Oktober 2018, Presiden Jokowi pun kembali menggunakan batik sebagai dress code pada acara tersebut.

Presiden Jokowi bersama Presiden Moon Jae-in memilih jenis batik saat ke mal BTM, Jalan Juanda, Bogor, Kamis (9/11/2017). Sumber foto: Dok Setkab

Dan terakhir tentu saja ialah terjadinya “diplomasi batik” pada sidang DK PBB di New York. Dipilihnya batik sebagai dress code merupakan bentuk penghormatan para anggota DK PBB kepada Indonesia selaku Presidensi DK PBB untuk bulan Mei 2019. Pada momen itu Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bahkan menyempatkan hadir menggunakan batik.

Jadi, menyimak perjalanan dinamika perkembangan batik, di sini bisa disimpulkan: dalam dunia batik telah muncul fenomena—meminjam istilah khasanah sosiologi— ‘glokalisasi,’ yaitu perkawinan antara ‘yang-global’ dan ‘yang-lokal’ yang kemudian membentuk budaya batik kontemprer sebagai wujud budaya hibriditas global. Berawal dari fungsi batik sebagai identitas simbolik di tingkat nasional atau lokal, maka perlahan-lahan namun pasti kini batik mulai diterima oleh masyarakat dunia dan terbentuk sebagai bagian dari identitas budaya global. /hana

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here