Home Ekonomi Sejarah Batan, Lembaga Nuklir Indonesia

Sejarah Batan, Lembaga Nuklir Indonesia

139
0

SEJARAHONE.ID – Sejarah dimulainya perkembangan riset teknologi nuklir di Indonesia diawali pada tahun 1954, dengan pembentukan Panitia Negara untuk penyelidikan radioaktif. Dengan kewenangan untuk melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan adanya penyebaran radioaktif akibat uji coba senjata bom atom di lautan pasifik.

Panitia Negara sekaligus juga memperhatikan perkembangan pemanfaatan dan penggunaan energi nuklir bagi kemaslahatan masyarakat, pada tanggal 5 Desember 1958 didirikanlah Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA), melalui Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 1958, pada tanggal 5 Desember, merupakan tanggal yang bersejarah bagi perkembangan riset teknologi nuklir di Indonesia, yang pada akhirnya diperingati sebagai hari jadi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

 

Perkembangan IPTEK diawali Perang Negara Superpower

Perkembangan riset iptek yang berhuhubungan dengan tenaga atom telah dimulai setelah terjadinya perang dunia kedua. Politik internasional dan perkembangan teknologi dunia didominasi oleh negara superpower, yang pada perang dunia kedua menjadi pemenang, yaitu Amerika Serikat (United States) dan Uni Soviet (Union of Soviet Socialist Republic).

Pasca perang dunia ke-2  persaingan antara Amerika Serikat (United States) dan Uni Soviet (Union of Soviet Socialist Republic) semakin ketat. Kedua negara superpower ini, bersaing dalam ideologi, politik internasional, dan perlombaan kekuatan militer. Ini  mengakibatkan terjadinya perang dingin. Riset perkembangan senjata nuklir yaitu bom atom menjadi ajang saling unjuk gigi antara US dan USSR, banyak percobaan peledakan senjata nuklir US dilakukan di samudera Pasifik yang paling fenomenal saat itu rangkaian percobaan nuklir di Bikini Atol dan Kepulauan Marshall antara tahun 1947 hingga 1958.

 

Kegiatan uji coba senjata nuklir tersebut membuat Indonesia menjadi concern terhadap isu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir, pemerintah mulai mencetuskan kebijakan yaitu berupa penyelidikan kemungkinan penyebaran radiokatif di wilayah laut pasifik yang menjadi tempat percobaan bom atom.

Pemerintah mulai melakukan kegiatan penyelidikan, dengan membentuk seuatu 34 panitia untuk kepentingan melindungi Indonesia dari gejolak perlombaan senjata nuklir. Wilayah laut pasifik yang berbatasan langsung dengan wilayah Indonesia bagian timur menjadi urgensi untuk segara melakukan riset teknologi nuklir

 

Dalam usaha peningkatan penguasaan dalam bidang teknologi nuklir pada tahun 1965, Indonesia telah meresmikan reaktor nuklir pertama untuk perkembangan riset atom dan energi nuklir yang berlokasi di Bandung dengan nama reakor Triga Mark II. Secara berturut, dibangun beberapa fasilitas untuk keperluan penelitian, yaitu Pusat Penelitian Tenaga Atom yang berlokasi di Pasar Jumat Jakarta Selatan, pada 1966, dan pembangunan Pusat Penelitian Tenaga Atom GAMA, di Yogyakarta pada 1967. Pada masa Orde Baru Indonesia pada 1987 Indonesia telah memiliki reaktor riset Reaktor Serba Guna yang berkapasitas 30 Megawatt, terdapat juga 35 fasilitas pendukungnya seperti fabrikasi dan penelitian bahan bakar, uji keselamatan reaktor, pengelolaan limbah radioaktif, fasilitas reaktor tersebut didirikan di Serpong Tangerang, yang saat ini menjadi gedung Puspitek BATAN.

Dalam melakukan riset pemanfaatan teknologi nuklir diperlukan badan pengawas yang pada akhirnya diresmikan dengan UU No. 10 Tahun 1997 tentang ketenaganukliran yang mengatur pemisahan antara pelaksana kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir dengan penetapan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan pelaksana pengawasan, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).

Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2013, menjadi ketentuan dasar tugas utama BATAN yaitu, melaksanakan kegiatan pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir, dan melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang penelitian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangudangan. Pengembangan, penelitian, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di Indonesia hanya dilakukan untuk tujuan damai dan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Tujuan ini telah sesuai Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons yang diratifikasi dengan Undang – Undang No.8 Tahun 1978, serta kesepakatan Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone yang diratifikasi dengan Undang – Undang No.9 Tahun 1997. 25 Sejarah Badan Teknologi Nuklir Nasional. Diakses dalam http://www.batan.go.id/index.php/id/home/sejarah-batan (30/04/2018, 14.43 WIB).

Sesuai ketentuan Pasal 3 Peraturan Presiden No 46 Tahun 2013 dalam melaksanakan ketentuan tugasnya, BATAN menyelenggarakan fungsi : 1. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang penelitian pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir; 2. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BATAN; 3. Pelaksanaan penelitian, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir; 4. Fasilitas dan pengarahan terhadap kegiatan instansi pemerintah dan Lembaga lain di bidang penelitian, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengentahuan dan teknologi nuklir ; 5. Pelaksanaan pembinaan dan pemberian dukungan administarsi kepada seluruh unit organisasi di lingkugan BATAN; 6. Pelaksanaan pengelolaan standarisasi dan jaminan mutu nuklir; 7. Pembinaan Pendidikan dan pelatihan; 8. Pengawasan atas pelaksanaan tugas BATAN; dan 9. Penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here