Home Uncategorized Sebelum Memberontak pada NKRI, Aidit Ternyata Wakil Ketua MPR

Sebelum Memberontak pada NKRI, Aidit Ternyata Wakil Ketua MPR

148
0
Aidit Menghadiahkan Burung Cendrawasi yang diawetkan pada Mao Zedong

SEJARAHONE.ID – DN Aidit merupakan sosok yang sebagai pentolan PKI. Aidit disebut berkaitan erat dengan gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI, yakni gerakan PKI yang menghabisi beberapa jendral TNI AD.

Aidit, pemimpin kudeta terhadap NKRI ternyata bertahun-tahun menjadi pejabatĀ  pemerintah.

Dalam orasinya bahkan Aidit kerap kali menggemakan ajakan untuk bersikap nasionalis. Namun siapa sangka, untuk melanggengkan tujuan Partai Komunis, Aidit justru berniat menggulingkan pemerintahan yang sah.

Bahkan, Aidit bersama kroninya melakukan tindakan biadab terhadap panglima-panglima TNI AD yang nota bene adalah koleganya di pemerintahan.

Pentolan PKi ini bahkan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPRS dengan Kedudukan sebagai Menteri dalam kabinet Kerja III (6 Maret 1962 – 13 November 1963). Kemudian pada 27 Agustus 1964 hingga 22 Februari 1966, Aidit menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dalam kabinet Dwikora I.

Profil Aidit

Masa kecil Aidit diisi dengan pendidikan Belanda yang diajarkan ayahnya, Abdullah Aidit, pemimpin gerakan pemuda di Belitung saat melawan kekuasaan kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Abdullah pernah menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung dan pernah membentuk perkumpulan keagamaan Nurul Islam yang berorientasi Muhammadiyah.

DN Aidit kemudian pindah dari Belitung menuju Jakarta saat usianya beranjak dewasa. Kemudian dia mendirikan perpustakaan “Antara” di Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat pada 1940.

DN Aidit juga pernah belajar di Sekolah Dagang (Handelsschool). Di sana, dia mempelajari sejumlah teori politik Marxis bersama Himpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia).

Berikut riwayat karir DN Aidit di politik:

Sekjen Partai Komunis Indonesia (PKI)
Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI)
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Kabinet Kerja III (1962-1963)
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Kabinet Kerja IV (1963-1964)
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Kabinet Dwikora I (1964-1966)
Jabatan Dalam Kabinet

Wakil Ketua MPRS dengan Kedudukan sebagai Menteri dalam kabinet Kerja III (6 Maret 1962 – 13 November 1963)
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dalam kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964 – 22 Februari 1966)

Terbukti Terlibat Gerakan G30S

Sosok DN Aidit memang tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa G30S/PKI. Sebagai pemimpin Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI), ia membawa partainya mendapatkan banyak dukungan dan pengikut dalam kampanye pemilu 1955. Sejak saat itu, PKI menjadi partai pengimbang di antara partai yang berlatarbelakang Islam dan Militer.

Di tahun 1965, PKI menjelma menjadi partai politik terbesar di Indonesia dan makin berani menunjukkan kecenderungannya terhadap kekuasaan. Pada tanggal 30 September 1965, terjadi tragedi penculikan dan pembunuhan enam orang jenderal dan seorang kapten di Jakarta. Tragedi ini dikenal sebagai Peristiwa G-30-S/PKI.

Di masa orde baru, Aidit dan partainya resmi ditetapkan sebagai dalang G30S oleh pemerintahan Soeharto. Sayangnya tuduhan tersebut hingga kini jadi misteri lantaran saat dikejar militer, DN Aidit melarikan diri ke Yogyakarta dan meninggal.

Di masa orde baru, Aidit dan partainya resmi ditetapkan sebagai dalang G30S oleh pemerintahan Soeharto. Sayangnya tuduhan tersebut hingga kini jadi misteri lantaran saat dikejar militer, DN Aidit melarikan diri ke Yogyakarta dan meninggal.

Kematian DN Aidit juga tak dapat dibuktikan dengan jelas. Ada dua versi yang menjelaskan soal kematiannya, yakni:

Versi pertama, DN Aidit tertangkap di Jawa Tengah lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali dan ditembak mati.
Versi kedua, DN Aidit diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Misteri kematiannya masih terus jadi tanda tanya sejarah. Bahkan makam DN Aidit tak diketahui letak pastinya.

TULISKAN PENDAPAT KAMU?

Please enter your comment!
Please enter your name here