Home Galeri Sarinah Yang Mengubah Sejarah

Sarinah Yang Mengubah Sejarah

120
0

Oleh: Karta Raharja Ucu

Sarinah, nama ini begitu populer di ibu kota. Hampir semua warga ibu kota tahu dan pernah masuk untuk sekedar cuci mata di Mall ini. Namun, mungkin banyak yang belum tau mengapa mall yang berada di salah satu perempatan paling sibuk di Ibu Kota itu disematkan seorang nama perempuan yang terdengar “kampungan” – Sarinah.

Cerita Sarinah dimulai dari sebuah rumah kecil di Mojokerto. Rumah yang disewa pasangan suami-istri Raden Soekemi Sosrodihardjo-Ida Ayu Nyoman. Dari benih Soekemi dan rahim Ida Ayu lahirlah seorang anak laki-laki yang di masa depan ditakdirkan menjadi presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Sarinah adalah asisten rumah tangga di kehidupan keluarga kecil Soekemi-Ida Ayu. Jika dari Ida Ayu, Soekarno mendapatkan garis nasab seorang bangsawan, dari Sarinah, Soekarno mewarisi cinta kasih kepada sesama manusia.

Dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, karya Cindy Adams, di bab ketiga berjudul Mojokerto: Kesedihan di Masa Muda halaman 35, Soekarno menceritakan hubungan batin antara dirinya dengan seorang gadis bernama Sarinah. Dalam cerita tersebut, terbaca jelas sosok Sarinah sangat berpengaruh membentuk karakter Soekarno kecil hingga tumbuh menjadi pribadi yang menyayangi rakyat jelata.

Soekarno membuka cerita tentang Sarinah dengan lugas: “Di samping ibu ada Sarinah, gadis pembantu kami yang membesarkanku. Bagi kami pembantu rumah tangga bukanlah pelayan menurut pengertian orang Barat. Di Kepulauan kami, kami hidup berdasarkan asas gotong royong kerja sama tolong menolong.”

Sarinah tinggal bersama keluarga Soekarno bukan sebagai asisten rumah tangga, melainkan sebagai keluarga. Soekarno menegaskan hal tersebut dengan catatan jika Sarinah tinggal bersama keluarganya, memakan apa yang dimakan keluarganya, dan tidur bersama mereka dalam satu atap.

Foto Jadul Mall Sarinah Thamrin Jakarta, Mall Pertama di Indonesia ...

Buku tentang Sarinah

“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapatkan gaji sepeser pun.”

Putra Sang Fajar yang lahir bersamaan dengan meletusnya Gunung Kelud pada 1901 itu tanpa malu mengakui jika Sarinah yang mengajarkan dan mengenalkannya cinta kasih. Dari Sarinah, Soekarno kecil belajar bagaimana menghormati orang lain.

“Dialah yang mengajarkanku untuk mengenal cinta kasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarkanku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata.”

“Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan kemudian ia berpidato: Karno, pertama kali engkau harus mencintai ibumu akan tetapi kemudian kau harus mencintai pula rakyat jelata engkau harus mencintai manusia umumnya”. Nasihat dan buah pikir Sarinah itu lebih dulu masuk ke dalam kepala dan batin Soekarno daripada masakan Sarinah yang tersuap lewat mulut lalu mendarat di lambung.

Dari tulisannya tersebut, Soekarno teramat mengagumi pengasuhnya tersebut. Bukan tanpa alasan memang, karena Soekarno sendiri mengakui Sarinah adalah kekuatan paling besar dalam hidupnya.

“Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah kekuatan yang paling besar dalam hidupku di masa mudaku. Aku tidur dengan dia. Maksudku bukan sebagai suami-istri. Kami berdua tidur di tempat tidur yang kecil. Ketika aku sudah mulai besar karena sudah tidak ada lagi aku mengisi kekosongan ini dengan tidur bersama-sama kakakku soekarmini di tempat tidur itu juga.”

Saking mengakar kuatnya sosok Sarinah dalam perjalanan hidup Soekarno, nama Sarinah dipakai Soekarno sebagai toko serba ada atau departement store yang berdiri pertama di Indonesia. Soekarno melakukan peletakan batu pertama pada 17 Agustus 1962.

Peletakan batu pertama itu diikuti dengan penjelasan Bung Karno mengapa mendirikan Sarinah. “Sarinah merupakan ‘sales promotion’ barang-barang dalam negeri, terutama hasil pertanian dan perindustrian rakyat. Bangunannya dirancang dengan bantuan Abel Sorensen dari Denmark dan dibiayai dari rampasan perang Jepang,” kata Bung Karno.

Sarinah, merepresentasikan rakyat kecil, rakyat jelata. Sehingga cita-cita Soekarno mendirikan Sarinah menghidupkan perekonomian rakyat kecil, dilandasi keberpihakan Sukarno kepada rakyat Indonesia, terutama rakyat miskin. Tujuannya agar bisa berdiri di kaki sendiri secara ekonomi.

“Yang boleh impor hanya 40 persen. Tidak boleh lebih. Sebanyak 60 persen mesti barang kita sendiri. Juallah di situ kerupuk udang, ‘potlot’ bikinan kita sendiri,” kata Bung Karno dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora, 15 Januari 1966.

Perkataan Sukarno itu tidak lepas dari sosialisme yang sangat populer sebelum Presiden Soeharto naik takhta pada 1968. Bahkan, department store pertama di Indonesia ini juga terinspirasi dari gedung serupa yang ada di negara-negara yang saat itu masih bercorak sosialis. Soekarno mengatakan tidak ada satu pun negara sosialis yang tidak memiliki satu distribusi legal.

“Datanglah ke Peking. Datanglah ke Nanking. Datanglah ke Shanghai. Datanglah ke Moskow. Datanglah ke Budapest. Datanglah ke Praha. Ada,” ujar Soekarno.

Sayangnya, sejarawan dan penulis Peter Kasenda menilai keberadaan Sarinah saat ini tidak lagi sesuai dengan cita-cita Bung Karno. Menurut dia, pergantian kekuasaan ke Soeharto sangat memengaruhi kebijakan ekonomi Indonesia yang awalnya berorientasi sosialisme menjadi liberalisme.

“Saat Orde Baru berkuasa, pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Ini yang menyebabkan arus modal dari luar negeri mengalir deras dan sangat memengaruhi perubahan Sarinah,” kata Peter.

Ia mengatakan Soekarno mencanangkan Sarinah sebagai penyalur kebutuhan pokok rakyat menengah ke bawah. Akan tetapi, yang terjadi Sarinah lebih menjadi konsumsi orang asing.

Gedung Sarinah selesai dibangun dan diresmikan pada 15 Agustus 1966. Dengan 74 meter yang terdiri dari 15 lantai, menjadikan Sarinah sebagai bangunan pencakar langit pertama di Indonesia.

Menyandang status sebagai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia, Sarinah dibangun sebagai etalase produk dalam negeri. Selain itu Sarinah juga menjadi tempat berbelanja kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau.

Kini semangat Soekarno coba dibangkitkan lagi. Pada awal Desember 2019 –beberapa pekan setelah pelantikan Kabinet Kerja Jilid II Pemerintahan Jokowi– Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki menemui Menteri BUMN membahas keberlangsungan Sarinah. Teten dan Erick sepakat adanya revitalisasi dan pengembangan bisnis Sarinah. Kemenkop UKM ingin mendorong dan mengembalikan Sarinah sebagai etalase bagi produk-produk UKM.

Konsep yang dicanangkan, semua produk yang dijual di Sarinah 100 persen produk lokal. Namun, revitalisasi Sarinah bukan tanpa hambatan. Perlu ada pembeda agar Sarinah bisa kembali ke masa kejayaan, mengingat pusat perbelanjaan besar di sekitar Sarinah seperti Grand Indonesia dan Plaza Indonesia terlihat lebih “premium”. Meski begitu, layak ditunggu apakah penutupan gerai import di Sarinah bisa menjadi titik balik kebangkitan UKM di Indonesia, atau malah api semangat menghidupkan perekonomian rakyat kecil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here