Home Opini RUU HIP Beraroma PKI dan Komunisme

RUU HIP Beraroma PKI dan Komunisme

8
0
Demontrasi Rakyat Menentang RUU HIP

Oleh. Hana Wulansari

SejarahOne.id – Tokoh Agama, Gus Baha mengungkapkan bahwa Indonesia bukan hanya milik PDIP dan Soekarnoisme. Hal ini tentu disayangkan, bahwa banyaknya rakyat yang pro megawati menganggap bahwa Indonesia muncul karena ada Soekarno. Padahal jauh sebelum itu, yakni sekitar 1908, gerakan Islam telah muncul untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Pemikiran-pemikiran komunisme sekarang ini gencar dimasukkan dalam berbagai media, seiring dengan munculnya RUU HIP. Dan, sebenarnya agak aneh gara gara RUU HIP muncul isu, seruan, dan desakan yang menghendaki pembubaran PDIP partai terbesar pemenang Pemilu baik legislatif maupun Presiden. Partai bersimbol banteng ini tentu berbenteng kokoh.

Siapa yang berani menyinggung keberadaannya ? Di samping jumlah anggota Dewan terbanyak di DPR RI dan di berbagai Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota juga berbagai jabatan strategis Pemerintahan dipegangnya di Pusat maupun di Daerah.

RUU HIP ternyata mampu membuka banyak hal. Ditolak rakyat karena beraroma orde lama, PKI, dan Komunisme. Pemerintah “menunda” karena sensitivitas muatan RUU. Meminta Dewan menyerap aspirasi lebih dalam. Rakyat penolak tak memberi ruang revisi.

Minta diusut siapa konseptor yang bisa dikualifikasikan makar. Pasal 107 KUHP diangkat sebagai ancaman pelanggarannya. Dengan Maklumat yang tajam MUI tampil sebagai lokomotif penolakan dari kalangan umat Islam.

“Bongkar bongkaran” lebih dalam telah menguak platform perjuangan PDIP. Media sosial hari-hari ini diisi dengan uraian Visi dan Misi perjuangan partai. Ternyata disana ada Pancasila, Trisila, dan Ekasila. Rakyat pun terperanjat.

Masyarakat Pancasila yang hendak dibangun PDIP adalah masyarakat Pancasila 1 Juni 1945 bukan Pancasila yang sekarang dijadikan landasan Negara Republik Indonesia hasil 18 Agustus 1945. Ini lah yang disorot sebagai “makar” ideologi oleh beberapa kalangan. Meski hal itu hanya tersirat, namun narasi yang ada sudah cukup untuk membuat rakyat Indonesia “mengerutkan kening”.

Mukadimah Anggaran Dasar PDIP pada alinea ketiga terdapat narasi kalimat antara lain:

“PDI Perjuangan memahami Partai sebagai alat perjuangan untuk membentuk karakter bangsa berdasarkan Pancasila 1 Juni 1945”. Lalu, “Partai juga sebagai alat perjuangan untuk melahirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang ber-Ketuhanan, memiliki semangat sosio nasionalisme dan sosio demokrasi (TRI SILA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here