Rakyat Harus Mewaspadai Bahaya Laten Komunis

    125
    0
    Kerjasama bilateral Indonesia-China Kian Erat

    SejarahOne.id – Saat ini yang berbahaya bukan virus corona, namun ideologi PKI, karena ini bila dibiarkan bukan tidak mungkin akan membunuh rakyat di negeri ini. Demikian diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjend) PP GPI Diko Nugraha. Rakyat Indonesia harus mewaspadai bahaya kebangkitan komunis di Indonesia melalui Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahaya laten ini dirasa sudah mulai masuk di sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernagara.

    Oleh karna itu, GPI siap menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan negri ini dari bahaya laten PKI. Sementara itu Pengurus PP GPI Yusuf Al Ghifari menyebut komunis sama bahayanya dengan virus corona. Keduanya sama-sama tidak bisa dilihat oleh mata.

    Bahaya laten komunis tidak bisa dilihat mata. Karenanya,  Presiden Jokowi menyatakan bahwa PKI itu sudah tidak ada, karena memang tidak kelihatan oleh mata. Namun,  komunis adalah sebuah ideologi yang tidak bisa dihilangkan dan akan terus berkembang. Bahkan, telah ada 200 orang yang mengerti paham komunis saat ini telah menguasai parlemen.

    Rakyat jangan sampai ditundukkan oleh komunis. Menurut Yusuf, GPI terkenal dari dulu penentang komunis nomor satu. Jika saat ini dikatakan komunis tidak ada, ia mengingatkan bahwa komunis itu tidak terlihat seperti virus corona yang sangat mematikan. Kebangkitan komunis akan nampak nyata kalau rakyat Indonesia diam saja dan mengikuti irama yang dimainkan oleh pengikutnya.

    “Kalau kita datangkan mereka, maka mereka selalu bicara tidak ada komunis. Tapi kalau kita tanya kepada saudara-saudara seiman seperjuangan yang cinta negara Republik Indonesia ini, maka kita akan melihat komunis ada di depan mata. Alfian Tanjung itu besarnya disini (Menteng Raya 58-red), pak Firos itu dulu disini. Kivlan Zen dulu dari sini. Semua orang-orang itu mengerti, Menteng Raya 58 itu mengerti. Bahwa gerakan komunis itu sekarang terus berjalan,” tegasnya.

    Dalam orasinya, Ketua PW GPI Jakarta Raya Rahmat Himran menyebut, beredar di sejumlah media bahwa apel siaga dan mimbar bebas Lawan Kebangkitan Komunis di Indonesia dikabarkan batal dilaksanakan. Ia pun mengatakan bahwa rumor tersebut tidak benar. Himran menyebut, bergulirnya rumor tersebut menunjukkan bahwa penganut paham komunis sebenarnya takut acara ini terselenggara.

     

    Ketua PW GPI Jakarta Raya ini meyakini, kebangkitan komunis sudah mulai nyata. Ia menyebut di daerah wilayah timur seperti Maluku, Ambon, bendera komunis berkibar lebih tinggi dibanding bendera merah putih. Simbol-simbol PKI pun saat ini sudah mulai terang-terangan muncul. Dari mulai sampul buku, stiker di HP maupun di kendaraan. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi pembantaian yang lebih besar dari tahun 1965 lalu.

    “Oleh karena itu, kami dari Gerakan Pemuda Islam, terus menghimbau kepada kawan-kawan gerakan lainnya, OKP, kawan-kawan yang mempunyai misi yang sama untuk membumihanguskan komunis di Indonesia, maka mari kita sama-sama maju untuk melawan paham komunis. Lawan kebangkitan Komunis di Indonesia, Lawan PKI,” kata Himran.

    Ia juga menyebut, anak cucu komunis yang saat ini menjadi anggota DPR RI, secara terang-terangan menyebut bahwa mereka bangga menjadi anak atau keturunan PKI. Himran juga mengingatkan bahwa anak-anak PKI dengan terang-terangan menyatakan di media massa bahwa yang menjadi korban pada G30S PKI adalah PKI itu sendiri. Saat ini, menurut Himran, mereka mencoba untuk membalikkan fakta sejarah.

     

    “Sehingga, Kami dari Gerakan Pemuda Islam. Saya, yang selama ini difitnah oleh orang-orang yang tidak senang dengan adanya gerakan dari GPI untuk membasmi gerakan PKI. Itu Kita tetap akan maju. Siapa pun yang menghalangi kita, ketika kita melihat benih-benih PKI mulai tumbuh di Jakarta ini, maka kita tidak akan mundur selangkah pun,” tutupnya.

    Aktivis LBH PP Gerakan Pemuda Islam Dedy Umasugi SH mengaku heran jika ada yang mengatakan bahwa komunis di Indonesia sudah tidak ada. Ia pun menyebut anggota DPR RI Ribka Tjiptaning yang menulis buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI”. Dedy juga menyebut Rieke Dyah Pitaloka besrta teman-temannya melakukan pertemuan dengan tujuan membangkitkan PKI. Ia juga mengingatkan bagaimana PKI dengan kejam menyiksa ulama dan para jendral pada tahun 1965.

    “Bagaimana negara ini bisa merdeka semerdeka-merdekanya jika putra-putra bangsa ini hanya bisa diam dan tenang.  Saya adalah putra dari tanah Papua dan Maluku. Hari ini, di tempat ini, mengikrarkan diri. Bismillahirrahmanirrahim, kami akan membasmi  PKI. Kapanpun. Walau pun nyawa kami hari ini habis dipertaruhkan,” kata Dedy Umasugi

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here