Home Pahlawan Raden Syamsul Arifin, Memimpin Hizbullah-Sabilillah bersama TNI

Raden Syamsul Arifin, Memimpin Hizbullah-Sabilillah bersama TNI

21
0
Raden Syamsul Arifin bersama Presiden Soeharto

Sejarahone.id – Raden Syamsul Arifin, adalah Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, Jawa Timur. Dia  tumbuh dalam lingkungan santri, tepatnya Pesantren Kembang Kuning di Desa Lancar, Pamekasan, Madura. Ia lahir dengan nama Ibrahim pada 1841.

KH Raden Syamsul Arifin adalah pendiri. Secara nasab, ia masih keturunan wali sanga. Seperti disarikan dari buku KHR As’ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, Ayahandanya bernama Kiai Ruham, sedangkan ibunya adalah Khadijah alias Nyai Nur Sari.

Pahlawan Nasional

Pada 2016 Presiden Joko Widodo mengesahkan KHR As’ad Syamsul Arifin sebagai pahlawan nasional. KHR As’ad Syamsul Arifin lahir pada tahun 1897. Melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 90/TK/2016, Rabu (9/11/2016) penganugerahan gelar pahlawan kepada KHR As’ad Syamsul Arifin resmi diberikan. Namun, berdasarkan Surat Keputusan Presiden, pengesahan As’ad Syamsul Arifin sebagai pahlawan sudah ditetapkan pertanggal 3 November 2016 lalu.

Penganugeragan gelar terhadap Kiai As’ad ini tak lepas dari sumbangsih beliau terhadap perjuangan melawan penjajah. Kiai As’ad jor-joran dalam melakukan konsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah bersama para TNI menumpas penjajah.

Pahlawan era perjuangan kemerdekan ini juga menjadi Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia saat memukul mundur penjajah. Perjuangan Kiai As’ad dalam mengusir penjajah sangat nyata. Bahkan pondok pesantren yang ia pimpin kerap diteror pasukan penjajah. Berkat kegigihannya, Kiai As’ad sukses memenangkan pertempuran melawan Belanda di Bantal Asembagus ketika markas TNI dikepung.

Selain itu, Kiai As’ad juga terkenal sebagai sosok yang sangat pancasilais. Ketegasannya dalam menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi NU menunjukkan dirinya adalah sosok yang patriotik dan pancasilais sejati.

Tanggal 21 Desember 1983, Munas memutuskan menerima Pancasila dan revitalisasi Khittah 1926. Pada bulan Desember 1984 dalam Muktamar NU XXVII diputuskan asas Pancasila dan Khittah NU. Saat itu, NU menjadi satu-satunya ormas pertama yang menerima Pancasila.

Gagasan besar KH Achmad Shiddiq dalam menerima Pancasila ini diiyakan oleh KH As’ad bersama KH Mahrus Ali, KH Masykur dan KH Ali Ma’shum. Akibat dari menerima Pancasila itu, KH As’ad sering mendapatkan teror, surat kaleng dan ancaman mau dibunuh.

Raden Syamsul Arifin memiliki kecerdasan sejak kecil. Saat berusia 12 tahun, Ibrahim belajar di Pondok Pesantren Sidogiri, Jawa Timur. Di sana, kecerdasannya tampak menonjol. Bahkan, dalam beberapa bulan ia sudah diizinkan untuk menjadi asisten ustaz. Dari Sidogiri, Ibrahim meneruskan rihlah keilmuannya ke Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Setelah itu, ia kembali ke Madura untuk menuntut ilmu pada Kiai Kholil di Pesantren Bangkalan. Seiring waktu, ia kian dekat dengan ulama berjulukan syaikona itu.

Setelah menjadi santri Syaikhona Kholil, Ibrahim (nama muda KH Raden Syamsul Arifin) pulang ke kampung halaman untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang diperolehnya selama ini. Sejak saat itu, ia menekuni jalan dakwah.

Pemberani dalam Berdakwah

Di Pamekasan, Raden Syamsul Arifin dihadapkan pada kondisi masyarakat yang kurang hangat terhadap orang-orang pesantren. Sebab, suasana desa kala itu masih diwarnai maraknya perbuatan-perbuatan maksiat. Sebut saja, perjudian, sabung ayam, dan mabuk-mabukan.

Sebagai alim, ia merasa terbebani dosa jika ikut membiarkan maksiat merajalela. Akhirnya, ia pun terjun langsung ke arena munkarat itu untuk berdakwah.

Ia memahami betul cara dakwah yang mesti ditempuh untuk menghadapi para penjahat. Suatu ketika, Ibrahim mendengar kabar adanya remongan atau pesta di dekat desa tempat tinggalnya. Acara itu semacam pesta yang dihadiri para penjudi, garong, dan macam-macam pelaku kriminal.

Dengan celurit dan sangkur dipinggang, ia pun berjalan menyusuri keramaiaan. Para pengunjung pesta itu terkejut. Sebab, mubaligh ini tampil bak seorang jagoan. Ternyata, cara seperti itu cukup berhasil untuk meredakan kesombongan mereka.

 

Setiap terjadi bentrokan, Ibrahim selalu berhasil melumpuhkan kekuatan para perusuh. Dari sinilah, ia menjadi sosok yang paling ditakuti para penjahat. Berbekal rasa segan itu, Ibrahim dapat dengan relatif mudah melakukan dakwahnya kepada mereka.

Dakwah di tengah komunitas penjahat itu terus dilakukannya. Berangsur-angsur, masyarakat setempat banyak yang tersadarkan, sehingga kembali pada jalan kebaikan.

Begitulah kiprah Kiai Raden Syamsul Arifin saat masih muda. Usai itu, ayahanda pahlawan nasional–KH As’ad Syamsul Arifin–itu lantas meneruskan pendidikan ke Pondok Pesantren Sidogiri–untuk kedua kalinya. Rihlah keilmuannya terus berkembang, bahkan sampai ke Tanah Suci.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here