Home Merdeka Raden Alit Prawatasari, Pahlawan dari Cianjur yang Melawan Penjajah

Raden Alit Prawatasari, Pahlawan dari Cianjur yang Melawan Penjajah

90
0

Oleh Hamzah Afifi

SejarahOne.id – Nama Haji Prawatasari tidak terlalu populer dalam khasanah sejarah Sunda apalagi Nasional, padahal perannya dalam sejarah sunda dan nasioanal sangat penting. Selain menjadi pemimpin perjuangan rakyat priangan pada masa awal masa kolonialisme VOC, Haji Prawatasari bisa jadi merupakan pelopor perlawanan terhadap penjajah di nusantara.

Raden Alit Prawatasari atau yang dikenal Haji Prawatasari hidup diakhir abad ke 17, sebagian riwayat menyebut beliau sebagai pangeran dari Panjalu Ciamis. Perlawanan Haji Prawatasari dimulai saat VOC memaksa masyarakat jampang untuk mencari belerang di Gunung Gede dengan jumlah yang sangat besar dan sulit dipenuhi oleh masyarakat saat itu.

Selain itu, VOC Belanda juga mulai melaksanakan tanam paksa di priangan, masyarakat disana diwajibkan menanam indigo dan kopi kemudian hasil bertaninya harus dijual ke VOC dengan harga sangat murah.

Dua hal tersebut yang membuat rakyat jampang menderita, waktu dan tenaganya dihabiskan untuk memenuhi permintaan VOC, sehingga rakyat tidak memiliki kesempatan untuk mengurus kebun dan ladang pribadinya, padahal dari sana kebutuhan hidup kesehariannya dipenuhi.

Situasi inilah yang memaksa Haji Prawatasari bertindak, dengan berani beliau menolak menyerahkan hasil tanam paksa dan belerang kepada VOC. Tindakan berani Haji Prawatasari berbuntut panjang dan memancing kemarahan VOC. VOC mulai mengisolasi Haji Prawatasari, juga mengancam para gegeden dan siapapun untuk “menjauhi” Prawatasari.

Haji Prawatasari tidak gentar dengan ancaman VOC. Posisinya sebagai tokoh agama membuatnya dengan mudah memobilisasi masa mengajak masyarakat melakukan perlawanan terhadap kezaliman VOC. Konflik fisik tidak bisa dihindari, dengan senjata alakadarnya namun didukung semangat berjuang yang tinggi pasukan Haji Prawatasari kerap bisa mengalahkan pasukan VOC.

Area konflik juga semakin meluas meliputi seluruh priangan, jumlah pasukan yang berhasil dihimpun Haji Prawatasari berjumlah kurang lebih 3000 orang, jumlah yang tidak sedikit untuk jaman itu. Taktik gerilya yang dipakai Haji Prawatasari menambah VOC semakin kebingungan, bahkan Batavia sebagai markas VOC tidak luput dari ancaman pasukan Haji Prawatasari.

Situasi ini membuat Gubernur Jendral Van Horn panik, lalu Van Horn membentuk pasukan khusus untuk menangkap Haji Prawatasari dan mengancam semua Bupati di Priangan akan dihukum bila tidak sanggup menangkap Haji Prawatasari.

Kepanikan VOC semakin menjadi dan semakin gelap mata, upaya kontra gerilya mulai diterapkan dengan keji. Mereka menangkap seluruh pemuda Jampang dan menggiringnya ke Batavia. Sebagian berhasil melarikan diri, hampir setengahnya meninggal dalam perjalanan dan sisanya mendapat hukuman di Batavia.

VOC semakin melipatgandakan kekuatan militernya untuk menghentikan perlawanan Haji Prawatasari, demikian pula tekanan politik semakin kuat diberikan kepada penguasa lokal. Kondisi ini memaksa Haji Prawatasari bergerak lebih cepat dari satu tempat ke tempat lainnya, sampai akhirnya pasukan Haji Prawatasari sampai ke wilayah Cilacap.

Dengan sebuah tipudaya Haji Prawatasari dan pasukannya bisa ditangkap VOC di wilayah Cilacap dan Haji Prawatasari ditahan di Kartasura dan dihukum mati di kota tersebut.

Haji Prawatasari adalah seorang Muslim, tahun 1700 itu rentang waktu yang tidak terlalu lama dihitung dari kejatuhan kerajaan Padjajaran hanya berselisih 100 tahun. Ini menunjukkan ada proses Islamisasi yang unik di Sunda, biasanya pergeseran ideologi ini berlangsung cukup lama apalagi ideologi ini sudah membentuk diri menjadi dasar perjuangan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here